Sukses

Inggris Minta Maaf Pernah Larang LGBT Jadi Diplomat

Liputan6.com, London - Pemerintah Inggris resmi minta maaf karena pernah membuat aturan yang menghalangi LGBT sebagai diplomat. Dulu, kebijakan itu merugikan karier para LGBT di ranah hubungan internasional.

Larang itu muncul karena pemerintah menilai kelompok LGBT lebih rentan mengalami pemerasan, sehingga posisi mereka lebih rentan. Akibatnya, pegawai LGBT menghadapi rintangan karier.

Aturan itu sudah dihapus pada 1991 silam. Namun, pemerintah Inggris berkata kehilangan banyak orang-orang berbakat akibat aturan itu.

"Tidak diragukan lagi, layanan diplomatik Inggris telah kehilangan beberapa talenta paling cerdas dan terbaiknya," ujar Sir Philip Barton, Sekretaris Jenderal (Permanent Under-Secretary) dari Kementerian Luar Negeri, Persemakmuran dan Pembangunan Inggris dalam pernyataan resmi dari Kedutaan Besar Inggris, Selasa (6/7/2021).

"Saya ingin meminta maaf secara terbuka atas larangan tersebut serta dampaknya terhadap staf LGBT+ kami dan orang-orang yang mereka cintai, baik di Inggris maupun di luar negeri," ujar Sir Philip Barton yang berkata layanan diplomatik Inggris telah merangkul komunitas LGBT.

Sementara, Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab memberikan apresiasi kepada para diplomat LGBT tempo dulu dan zaman sekarang. Ia berjanji Inggris akan memperjuangkan hak LGBT. 

"Saya berterima kasih kepada para diplomat LGBT+ Inggris, yang terdahulu dan sekarang, yang telah mewakili negara kami dan mempromosikan nilai-nilai kami di seluruh dunia dengan sangat cemerlang," ujar Dominic Raab.

2 dari 2 halaman

Aman Menjadi Diri Sendiri

Pengumuman Inggris muncul saat Inggris menjadi tuan rumah bersama konferensi Equal Rights Coalition (ERC) antar pemerintah pada 6-7 Juli. ERC adalah kelompok yang terdiri dari 42 negara yang berkomitmen terhadap perlindungan dan kemajuan hak-hak LGBT+.

Konferensi ini akan meluncurkan strategi lima tahunan baru yang bertujuan untuk meningkatkan kerja sama dan aksi internasional mengenai hak-hak LGBT+. Konferensi ini juga akan mempertemukan para menteri dari 42 negara ERC, perwakilan dari organisasi masyarakat sipil, dan peserta dari organisasi-organisasi internasional termasuk PBB dan Bank Dunia.

Konferensi ERC akan menjadi tonggak penting menjelang acara hak LGBT+ internasional yang akan diselenggarakan di Inggris tahun depan.

Safe To be Me: A Global Equality Conference akan berlangsung pada 27-29 Juni 2022, yang bertepatan dengan peringatan 50 tahun pawai resmi London Pride yang pertama.

Konferensi ini akan berfokus pada kemajuan reformasi legislatif, penanganan kekerasan dan diskriminasi, serta memastikan akses yang setara terhadap layanan publik untuk orang-orang LGBT+.