Sukses

9 Rahasia Penerbangan yang Hanya Diketahui Para Pramugari

Liputan6.com, Jakarta - Tak ada 'orang dalam' yang paham soal penerbangan kecuali para awak kabin atau pramugari.

Tugas mereka tak hanya melayani para penumpang -- membagikan makanan, minuman, atau selimut. Para awak kabin adalah pihak pertama yang akan merespons segala gangguan di tengah penerbangan.

Sebab, satu tugas para awak kabin adalah memastikan penumpang terbang dengan selamat kembali ke pelukan orang-orang terkasih.

Maka, tak mengherankan jika dalam kondisi darurat, misalnya perempuan melahirkan dalam pesawat, pramugari bertindak sebagai bidan. Dan mereka memang dilatih untuk melakukannya.

Pramugara dan pramugari juga dibekali dengan cara bertahan hidup di alam liar. Mereka bisa menjadi andalan saat penumpang berada dalam situasi tersebut.

Seperti dikutip dari situs Business Insider Singapore, Senin (5/3/2018), ada sejumlah hal dalam penerbangan yang bisa jadi hanya diketahui para pramugari. Berikut 9 di antaranya: 

1 dari 5 halaman

Syarat Penumpang Bisa Diusir

1. Jangan Coba-Coba Buka Pintu Pesawat

Annette Long, seorang pramugari dengan 17 pengalaman terbang mengatakan, meski membuka pintu pesawat di tengah penerbangan adalah hal yang mustahil, mereka yang nekat melakukannya bisa kena masalah.

Bisa-bisa pelakunya segera diamankan dan diborgol sesegera mungkin setelah kapal terbang menyentuh landasan.

Bahkan tak jarang, pilot memutuskan untuk mendarat darurat demi menurunkan penumpang bermasalah itu.

"Bukan posisi saya untuk melakukannya," kata Long. "Biasanya kami memberitahukan kepada kepala awak kabin dan kokpit tentang situasi yang terjadi. Mereka lah yang akan memutuskan apakah pesawat akan mendarat darurat untuk menurunkan orang tersebut."

"Kebanyakan pilot berkata pada kami, 'Jika pramugari bermasalah dengan penumpang tertentu, maka itu juga menjadi masalah buat aku'. Mereka akan 100 persen mendukung kami."

2. Tempat Paling Jorok

Bagian paling jorok di pesawat adalah meja lipat di depan bangku penumpang. "Orang-orang biasanya bersandar di sana, mengganti popok bayi, dan mengistirahatkan kaki mereka," kata seorang pramugari JetBlue kepada Business Insider.

"Aku tak akan makan di sana, meski bagian itu sudah dibersihkan."

Sementara itu, Annette Long mengingatkan, petugas biasanya menggunakan lap yang sama untu membersihkan meja lipat. Dari baris pertama hingga akhir.

"Ketika sampai di baris ke-35, lap itu sudah digunakan untuk mengelap banyak meja."

Long menambahkan, para penumpang juga jarak peduli dengan insiden terkait sanirasi di dalam pesawat. Misalnya di toilet atay kursi penumpang.

"Jangan ke kamar mandi dengan bertelanjang kaki atau hanya menggunakan kaus kaki. Mungkin bukan air yang tercecer di lantai."

2 dari 5 halaman

Mengangkat Tas Bukan Tugas Pramugari

3. Mengangkat Tas Bukan Tugas Pramugari

Sejumlah pramugari mengaku, mereka dibayar berdasarkan jam terbang, tak termasuk saat naik maupun turun dari pesawat.

"Jam tugas secara faktual bisa mencapai 12 jam. Namun, kami hanya dibayar untuk enam jam," kata salah satu pramugari.

Serikat awak kabin juga tak menanggung saat seorang pramugari cedera saat mencoba menaikkan tas penumpang ke ruang penyimpanan.

Karena bekerja tanpa dibayar di awal penervangan dan harus membayar risiko dalam pekerjaan tak dikehendaki semua orang, jadi tak seharusnya para penumpang mengharapkan pramugari ambil risiko untuk Anda.

4. Tanki Penyimpanan Air Tak Pernah Dibersihkan

Para pramugari tahu benar, air yang di dalam pesawat tidak sebersih yang dibayangkan. Mantan pramugari, Heather Wilde menyebut, tanki penyimpanannya tak pernah dibersihkan.

"Awak kabin tak akan mimum teh panas atau kopi panas di dalam pesawat," kata salah satu pramugari pada Business Insider.

"Aku membawa minuman sendiri," kata pramugari lain. "Air di dalam pesawat bukan pilihan terbaik."

Namun, tak semua menghindarinya. Robert "Bingo" Bingochea, pramugara United Airlines mengaku yakin dengan kebersihan air minum dalam pesawat.

Sebab, menurut dia, semua air minum berasal dari botol kemasan.

"Sementara, untuk menyeduh kopi dan teh, airnya sangat panas, yang membunuh semua kuman yang ada," kata pramugari lain.

3 dari 5 halaman

Jendela Pesawat Harus Dibuka

5. Jendela Pesawat Harus Dibuka

Pramugari lebih suka jika penumpang membuka jendela selama penerbangan. "Berdasarkan latihan yang kudapatkan, pramugari harus menilai kondisidi luar sebelum mereka membuka pintu darurat," kata Annette Long.

"Jika ada kebakaran, air yang dalam, atau batu besar di luar pintu, niscaya kondisi itu tak akan aman. Awak kabin harus membuat keputusan secepatnya."

6. Pramugari Tak Boleh Terlambat

Selama persiapan terbang, para pramugari akan memberitahukan keberadaan mereka pada kru maskapai. "Awak kabin tak boleh terlambat, tak boleh mencari kopi agar terjaga. Kami harus siap tepat waktu."

Jika penerbangan dilakukan dari bandara yang menjadi markas maskapai penerbangan, biasanya ada awak kabin dalam posisi stand by atau siaga, untuk menggantikan rekannya yang tak datang tepat waktu.

Para awak kabin cadangan biasanya bersiap di ruang para kru, menanti panggilan tugas. Ada juga yang berada di rumah namun dalam posisi siaga.

4 dari 5 halaman

Duduk di Dekat Jenazah

7. Duduk di Dekat Jenazah

Jika terjadi insiden kematian di dalam pesawat, hal itu biasanya tak pernah diumumkan. Jadi, secara formal, tak ada satupun penumpang yang dinyatakan meninggal di dalam kapal terbang.

"Ketika situasi medis terjadi di udara, para awak kabin tak boleh mengumumkan kematian seseorang. Kami harus terus melakukan semua yang kami bisa untuk membuat seseorang seakan tetap hidup, bahkan jika mereka sudah tak bernyawa," kata salah satu pramugari.

Ternyata tidak ada peraturan khusus tentang penanganan jenazah di dalam pesawat. Seperti dikutip dari Quartz, International Air Transport Association, yang merepresentasikan mayoritas maskapai dunia, menganjurkan awak kabin untuk memindahkan jasad ke tempat duduk yang paling sedikit penumpangnya.

Jika dimungkinkan, awak kabin akan memindahkan jenazah ke dapur atau kelas satu. Atau -- ini cukup langka -- penumpang yang meninggal di dalam pesawat dipindahkan ke kompartemen yang dijuluki 'lemari jenazah'.

Bagaimana jika tak ada kursi kosong tersedia? Jenazah kemungkinan besar akan tetap berada di tempat duduknya.

8. Ke Toilet Sebelum Take Off Bisa Menunda Penerbangan

Ketika penumpang berdiri untuk pergi ke toilet, para awak kabin harus memperingatkan kokpit.

Sesuai aturan, pilot tak boleh menerbangkan pesawat jika masih ada penumpang di dalam toilet pesawat.

"Begitu pesawat mulai bergerak, selalu ada kekhawatiran seseorang bisa terjatuh. Kami berada dalam posisi bertanggung jawab jika kita tidak menginformasikannya pada kapten pilot," kata Bingochea, seorang pramugari.

Begitu penumpang keluar dari toilet, pramugari akan menginformasikannya pada kokpit. Setelah semua penmpang kembali ke tempat duduk, barulah pesawat bisa diterbangkan.

9. Duduk di Belakang Lebih Untung

Para penumpang biasanya memilih tempat duduk di depan, agar bisa turun lebih dulu dan memiliki kesempatan lebih dulu untuk memilih menu yang tersedia dalam penerbangan.

Namun, menurut Annie Kingston, yang berpengalaman empat tahun jadi pramugari, soal servis, duduk di belakang lebih menguntungkan.

"Alasannya sederhana, kami sebisa mungkin menghindari menanggapi panggilan dari bagian depan pesawat. Sebab, menjawab satu berarti memamerkan barang apa pun yang diminta seorang penumpang sepanjang lorong," tulis dia di Oyster.

Hal itu bisa jadi masalah. Sebab, seringkali pesawat tak punya cukup persediaan vodka ekstra, bantal, penyumbat telinga, atau sikat gigi.

Itu mengapa, para awak kabin lebih senang melayani panggilan dari bagian belakang pesawat.

Artikel Selanjutnya
Putri Margaret: Hanya Sekali Saya Menyaksikan Ratu Elizabeth II Menangis...
Artikel Selanjutnya
Gagap Teknologi, Maling Gagal Curi Mobil Listrik