Sukses

Putin Imbau Warganya di Penjuru Bumi Pulang, Dunia Kian Tegang?

Liputan6.com, Moskow - Rusia diklaim telah memerintahkan seluruh pejabatnya untuk memboyong keluarga mereka kembali pulang ke Tanah Air. Peringatan ini muncul seiring dengan meningkatnya ketegangan berlatar prospek perang global.

Seperti dilansir Daily Mail, Kamis (13/10/2016) yang mengutip media lokal, sejumlah politisi dan tokoh tingkat tinggi Negeri Beruang Merah itu mengklaim telah menerima peringatan dari Presiden Vladimir Putin untuk membawa orang-orang yang mereka cintai kembali pulang ke Rusia.

Imbauan itu muncul setelah Putin membatalkan rencana kunjungannya ke Prancis menyusul 'kemarahan' yang muncul atas keterlibatan Moskow dalam perang Suriah.

Ternyata, pernyataan serupa tak hanya disampaikan Putin, namun juga mantan pemimpin Soviet, Mikhail Gorbachev. Ia memperingatkan bahwa dunia tengah berada dalam 'titik berbahaya' seiring dengan meningkatnya ketegangan antara Rusia dan AS.

Menurut situs Rusia, Znak.com, seluruh staf administrasi, kepala daerah, anggota parlemen dari semua tingkatan dan karyawan perusahaan publik telah diperintahkan untuk mengeluarkan anak-anak mereka dari sekolah asing sesegera mungkin.

Jika gagal untuk melaksanakan perintah maka peluang mereka untuk mendapat promosi jabatan akan terancam. Demikian media lokal melaporkan.

Kendati demikian alasan pasti di balik imbauan pemerintah Rusia itu disebut belum sepenuhnya jelas. Namun perang sebagai indikator utama tak bisa dipungkiri.

"Ini semua adalah bagian dari langkah-langkah untuk mempersiapkan elite dalam menghadapi "perang besar"," ujar Analis Politik Rusia, Stanislav Belkovsky kepada Daily Star seperti dilansir Daily Mail.

Hubungan AS-Rusia Capai Titik Terendah

Dalam beberapa hari terakhir, hubungan Negeri Paman Sam dan Rusia digambarkan memasuki kondisi terendah sejak Perang Dingin. Hal itu dipicu dari sikap Washington yang bertentangan dengan Rusia soal perang Suriah.

AS juga menuding Rusia melancarkan peretasan email sejumlah tokoh AS salah satunya, capres AS asal Partai Demokrat, Hillary Clinton. Rusia telah membantah tuduhan ini. Mereka justru balik menuding AS lah yang telah melakukan peretasan.

Ekspresi Presiden AS, Barack Obama dan Presiden Rusia, Vladimir Putin saat saling bertemu pada Sidang Umum PBB di New York, Senin (28/9/2015). (REUTERS/Kevin Lamarque)

Sementara itu Kremlin dilaporkan telah menangguhkan serangkaian pakta nuklir termasuk kesepakatan kerjasama simbolik untuk memangkas stok plutonium--bahan pembuatan senjata nuklir.

Terkait dengan memanasnya dua kekuatan besar dunia ini, Kremlin dikabarkan telah memindahkan rudal berkemampuan nuklirnya ke dekat perbatasan Rusia-Polandia. Rudal Iskander dikirim ke Kaliningrad, kawasan yang merupakan kantong Rusia di Laut Baltik--terletak di antara negara-negara anggota NATO, Polandia dan Lithuania.

Pejabat Polandia mendeskripsikan langkah ini sebagai salah satu 'isu penting'.

Dalam dua hari terakhir, Presiden Putin ramai diberitakan membatalkan kunjungannya ke Paris setelah Presiden Prancis, Francois Hollande mengatakan pasukan Suriah dengan didukung angkatan udara Rusia telah melakukan kejahatan perang di Aleppo.

Menurut agenda, Putin akan berkunjung ke Prancis pada 19 Oktober mendatang. Ia dijadwalkan akan meresmikan sebuah pusat spiritual milik Gereja Ortodoks di dekat Menara Eiffel, namun Presiden Hollande bersikeras akan membahas isu Suriah dengan pemimpin Rusia itu.

"Pembatalan kunjungan yang akan berlangsung dalam waktu dekat adalah langkah serius...mengingatkan pada Perang Dingin," ujar Analis kebijakan luar negeri Rusia, Fyodor Lukyanov.

"Ini adalah bagian dari eskalasi yang lebih luas dalam ketegangan antara Rusia dan Barat, serta Rusia dan NATO," imbuhnya kepada AFP.