Sukses

'Inkonsistensi' Sikap Duterte Soal Hubungan Militer dengan AS

Liputan6.com, Manila - Presiden Filipina Rodrigo Duterte dikenal sebagai sosok yang begitu keras. Bahkan, ia tak ragu menghina pemimpin dunia lain dengan kata-kata kasar.

Salah satu pemimpin yang kerap jadi sasarannya adalah Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

Meski sering mengeluarkan cercaan kepada Obama, bukan berarti Duterte akan memutus hubungan AS dengan negaranya. Ia terus menganggap Negeri Paman Sam adalah sekutu militer bagi mereka.

"Kami terus memelihara sekutu militer kami karena, mereka berkata, hal in dibutuhkan bagi pertahanan kami," ujar Duterte, seperti dikutip dari CNN Kamis (13/10/2016).

Walau begitu, latihan militer gabungan antar Filipina-AS pada tahun depan tidak akan dilakukan. Latihan ini merupakan kegiatan rutin yang tiap tahunnya dilakukan kedua negara.

"Saya memberi tahu Menteri Pertahanan, Delfin Lorezana, tidak usah membuat persiapan untuk tahun depan, kita sudah tidak membutuhkan lagi," ucap Duterte.

Dia menyatakan, ada alasan khusus kenapa latihan militer gabungan tak dibutuhkan lagi. Alasannya Duterte ingin mengatur kebijakan luar negerinya sendiri.

Akibat pernyataan tersebut, Duterte dinilai tak konsisten. Pasalnya, awal Oktober ini, mengancam Presiden Barak Obama akan memutus hubungan bilateral antar kedua negara dan menyuruh pemimpin AS itu pergi ke 'neraka'.

Lebih mengejutkan lagi, Duterte menegaskan keinginan mereka memutus hubungan dengan AS karena ingin berpaling ke pihak China dan Rusia .

Komentar awal bulan tersebut keluar dari mulut Duterte pasca-dirinya mengatakan latihan militer AS-Filipina pada 2016 adalah yang terakhir.

Mendengar cercaan Filipina, AS tidak mau terlalu banyak merespons. Menteri Pertahanannya, Ash Carter, mengatakan, hubungannya dengan pihak Manila sudah berlangsung sangat lama.

Oleh karenanya, aliansi serta kerjasama antara AS dan Filipina sifatnya kokoh dan tak mudah untuk digoncangkan.