Sukses

Kiat Menghadapi Pubertas pada Anak Autisme Menurut Psikolog

Liputan6.com, Jakarta Pubertas dini bisa menjadi sangat membingungkan bagi anak mana pun, tak terkecuali bagi anak penyandang disabilitas. Sejumlah perubahan fisik pun terjadi dan bisa mempengaruhi pola pikir anak.

Psikolog Dyah Puspita mengatakan, penyandang disabilitas intelektual itu sudah masuk pubertas atau belum ditentukan oleh bagaimana dia menampilkan dirinya setiap hari, bukan hanya secara fisik tapi juga secara non fisik atau psikis.

"Soalnya masa pubertas itu tidak ditentukan oleh usia. Biasanya mulai dari usia 9 sampai 10 tahun sudah terjadi perubahan di dalam diri. Tapi karena anak-anak berkebutuhan khusus tentu saja perkembangannya akan berbeda dari mereka-mereka yang tidak berkebutuhan khusus," jelasnya dalam tayangan YouTube Xabiru bertema Kiat Menghadapi Masa Pubertas pada Anak Berkebutuhan Khusus, ditulis Selasa (30/5/2023).

Kategori Pubertas Remaja Penyandang Disabilitas

Dyah menjelaskan, kategori pubertas remaja penyandang disabilitas terbagi menjadi dua hal, yaitu fisik dan pola pikir.

1. Fisik

- Wanita

Perubahan fisik bisa berupa munculnya jerawat, rambut kemaluan, payudara membesar, menstruasi, kehamilan, dsb.

"Perubahannya wanita biasanya tuh anaknya udah marah-marah nih dia jerawatan, dia nggak suka sudah mulai tumbuh bulu, payudaranya membesar, terus menstruasi. Dan jangan salah, banyak sekali remaja berkebutuhan khusus yang ternyata hamil diluar kehendak, ya karena mereka tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi di lingkungannya. Jadi hati-hati yang punya anak perempuan," ujar Dyah.

- Pria

Perubahan fisik berupa jerawat, kumis, mimpi basah, masturbasi, dsb. "Perubahan fisik pria gimana? Sama hati-hati juga lah, wong di luar sana banyak yang error gitu. Nah tapi kebanyakan perubahan fisik mereka berputar diantara jerawat, kumis, jenggot, terus dia mimpi basah, masturbasi dan itu secara fisik ya, bukan juga termasuk ketika mereka mulai sadar akan penisnya sendiri, terus mulai tahu, eh ini kenapa ya, kok beda dari sebelumnya gitu."

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini

2 dari 4 halaman

2. Pola Pikir

"Satu lagi masalah remaja yang selalu dibahas orang adalah yang bukan fisik, justru anak saya marah-marah nggak ada sebab. Anda pikir nggak ada sebab, buat dia ada sebab, masalahnya kita nggak tahu. Jadi saya pakai di sini marah-marah (seolah) tanpa sebab."

Selain itu, masalahnya seputar membangkang, sulit diatur, tertarik lawan jenis, ingin punya pasangan, dia punya masalah tapi solusinya belum tepat.

Menurut Dyah, perubahan ini akan dirasakan sangat mengganggu. Ia mengaanalogikan PMS (pre menstrual syndrome).

"Ibu-ibu disini pasti pernah mengalami PMS, sebelum menstruasi kok kayaknya nggak jelas gitu. Kayaknya mau sensi banget. Bayangin kalau mereka juga ngalamin itu tapi nggak tau apa yang terjadi. Dan itu bisa aja mereka alami terus-menerus sepanjang mereka berkembang," kata Dyah.

"Jadi intinya perubahan yang terjadi ini tentu saja membuat bingung anak-anak, dan karena anak-anak bingung, kelakuannya juga tentu saja membuat keluarga ikut bingung, guru jadi bingung. Nah kalau tidak ada penjelasan dari siapapun, mereka yang bingung ini berusaha untuk menjadi lebih nyaman dengan mencari opsi solusi sendiri. Tapi apakah opsi solusinya itu benar, ya belum tentu."

"Terutama untuk individu autistik, yang pola pikirnya cenderung kaku, perubahan itu sangat mengganggu mereka karena mereka tidak suka atau mereka tidak mengerti."

 

3 dari 4 halaman

Kiat Hadapi Masa Pubertas untuk Individu Autistik

1. Tegakkan batasan perilaku benar dan salah sedini mungkin

"Jadi kalau anak baru umur 3 tahun setengah, 2 tahun setengah, dianggap masih kecil lalu dibiarkan saja atau umur 7 masih disuapin, berpikirlah kembali, nanti saya umur 60 dia umur sekian, saya masih mau dia begini nggak ya, kalau Anda merasa, 'Ya enggaklah', Ya sudah dari sekarang diajarin.

2. Ajari bahwa setiap pelanggaran aturan, ada akibatnya

"Kalau Anda berpikir, 'saya nggak mau anak saya bawa-bawa barang orang kemana-mana', sedangkan masih mengambil minum orang di meja yang sebelah, ya udah ajarin nggak boleh itu."

"Setiap pelanggaran aturan ada akibatnya. Jadi jangan kita yang minta maaf pada orang lain, 'Maaf ya anak saya autis, jadi dia ambil makanan Ibu'. Kalau Anda lakukan itu, itu sama persis dengan 'Maaf ya saya Anak saya rampok rumah Ibu, dia lagi butuh uang.' Is that make any sense? Masuk akal nggak sih kalau saya pribadi nggak."

3. Ajari urusan higiene, toilet training sedini mungkin

"Saya sering sekali kecewa dan sedih berhadapan dengan calon murid datang ke saya udah jelang usia 7 tahun masih pakai pampers. Sementara saya tanya sama ibunya sama bapaknya, mereka ada di rumah. Lalu kenapa anaknya harus pakai pampers? Ada masalah fisik kah? Saya nggak ngerti di situ. Apakah kemudian mereka berpikir, kalau anaknya udah sekolah, anak ini otomatis lepas pampers?

"Semua individu di dunia ini ya diajarin dulu lah. Kita lahirkan bayi sampai umur sekian pakai popok, tapi untuk bisa pakai celana biasa ya diajarin. Enggak mungkin bisa kalau nggak diajarin. 'Tapi anak saya autis', So what? 'Tapi anaknya belum bisa bicara', lah apa hubungannya bicara dengan kemampuan toileting sendiri?"

4. Ajari membersihkan diri dan lingkungan

"Saya mikir nanti saya umur 60, apakah saya akan terus ngurusin pakaiannya dia, tempat tidurnya dia, membersihkan kamarnya dia, pada saat itu? Saya kasih tahu ya, pada saat umur 40-an 50-an badan itu mudah capek, apalagi kalau anaknya nggak cuma satu. Pikir panjang, ajarin aja.

"Jadi ketika anak saya misalnya dia makan jatuh-jatuh saking excited nya saya cuma lihat ke bawah sama ngeliatin dia, dia otomatis ambil sapu, dia bersihin gitu. Kok bisa gitu? Ya dibiasain, sesegitu simple nya lah."

5. Ajari makna privacy

"Anaknya mana ngerti Bu, privasi, dia kan nggak ada malu'. Ya sudah, fokus ke perilaku. Bilang ke anak, kalau kamu mau ganti baju, ya di dalam kamar. Tutup pintunya. That's privacy."

"Jadi disiplin itu dibentuk sejak usia dini. Karena nggak mungkin kita mengharapkan mereka tahu dengan sendirinya," ujar Dyah

 

4 dari 4 halaman

6. Perlakukanlah Anak Sesuai Usia, Tidak Perlu Dilayani

Aturan untuk remaja difabel sama persis dengan aturan di masyarakat. "Makan pagi, kamu mau makan. Minta disuapin, 'nggak bisa Ibu lagi ngerjain yang lain, Ibu juga makan, nggak mau, nggak usah makan', itu saya."

"Aturan untuk remaja berkebutuhan khusus harus persis dengan aturan yang berlaku di masyarakat. Jadi kalau usia 7 tahun dimana-mana anak makan sendiri, kecuali anak Anda memang punya masalah fisik. Catat ya, kecuali memang punya masalah fisik. Kalau nggak ada, ajari untuk mengurus dirinya sendiri. Kalau nggak bisa yang salah orang tuanya.

7. Biasakan atur asupan makanan sejak dini

"Karena sejujurnya saya kalau lihat anak lain yang overweight, saya takut sekali anak saya kolesterol tinggi, atau dia kena penyakit lain dan itu membuat dia tidak nyaman. Saya takut sekali. Jadi saya jaga asupan sejak dini. Sehingga Alhamdulillah dia senang minum air putih, dia senang sayur. Bahkan dia nyari-nyari kok, nggak ada sayur, tahu tempe nggak ada masalah, ayam oke, daging oke, ikan fine. Kayaknya dia makan segala macam yang ada di meja makan deh. Jadi kami sebagai orang tuanya yang mengatur apa yang ada di meja makan."

8. Biasakan kegiatan fisik (apapun bentuknya) dan itu adalah sesuatu yang ia sukai

Penting untuk membantu remaja difabel menenangkan diri, mengurangi tekanan hormon. "Kalau dia suka jalan kaki, fine. Kalau dia suka berenang, fine. Kalau dia suka naik sepeda, oke kalau dia suka. Dia nggak suka kegiatan fisik, paksakan untuk paling tidak jalan beberapa menit setiap hari.

"Kenapa ini penting sekali untuk supaya mereka itu menenangkan diri pada saat hormon sedang menekan mereka untuk gelisah. Kegiatan fisik itu teorinya dan prakteknya mempengaruhi segala kimiawi di otak sehingga dia bisa membuat orang lebih tenang. Nah kalau anak Anda masih kecil, tolong jangan hanya disimpan di rumah tapi ajak ke lapangan untuk sesekali lari. Anak kecil tuh otomatis nalurinya mau eksplorasi. Jangan takut repot, karena kalau kecilnya takut repot, tuanya saya yakin lebih repot lagi."

9. Cari minatnya, harus sesuatu yang bisa dia tekuni kapan saja, penting untuk stabilitas emosi

"Jadi kalau misalnya dia minatnya olahraga, hati-hati, kan nggak bisa ditekuni setiap saat. Jadi terus cari minatnya, sesuatu yang bisa dia kelola, bisa dia tekuni. Dan bukannya nggak mungkin menjadi penghasilan bagi dia. Karena ini penting untuk stabilitas emosi. Buat saya nggak masalah anak saya umur 31 tahun, dia senang mewarnai, biasanya nggak masalah karena itu membuat dia tenang, semacam meditasi buat dia. Dan saya tahu pasti banyak dokter anak atau dokter spesialis yang keren-keren itu kesenangannya nonton kartun. So what?".

10. Selalu usahakan beri penjelasan untuk semua perubahan yang terjadi padanya

"Ini yang selalu nggak ada. Orang tua tidak memberi penjelasan, guru tidak memberi penjelasan, tapi langsung memberikan instruksi langsung menegur.

"Jadi saya minta pertolongan gurunya untuk membacakan dan menjelaskan gambar (kelamin) di situ yang dijelaskan adalah masalah ereksi ejakulasi. Bahwa itu terjadi pada semua pria yang sudah dewasa itu biasa. Tapi kalau terjadi, Ikhsan harus yakin tidak ada orang, lalu bersihkan bekasnya. Dan saya lihat respons dia saat itu, membuat saya berlinang air mata. Dia dengerin, dia menyimak, lalu dia mengangguk-angguk kayak bilang, 'oh jadi yang selama ini aku alami itu nggak apa-apa'.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.