Sukses

Bu Kustris, Sosok Sang Guru yang Sederhana

Citizen6, Jakarta: Pendidikan bagi seorang anak memang merupakan kebutuhan utama. Namun, seratus persen, kewajiban orangtualah untuk mendidik anak. Ayah dan ibu tetap menjadi sandaran nomor satu meskipun untuk urusan pendidikan formal masih membutuhkan bantuan dari guru sekolah. Ya, guru yang berinteraksi dengan murid-muridnya tak lebih dari separuh hari. Justru dari waktu yang sedikit itulah makna kasih sayang dalam balutan kurikulum teruji sepenuhnya.

Dalam Bahasa Jawa, guru merupakan akronim dari 'digugu lan ditiru', yang artinya dijadikan panutan dan ditiru semua tindak tanduknya. Meski sudah lazim kita tahu, tak semua guru masuk kriteria di atas. Namun, hal ini tak lantas menjadikan kita tak menghargai jasa guru yang telah mendidik kita, bukan?

Uniek, salah satu peserta yang mengirimkan artikel bertema Guruku Idolaku di Citizen6 Liputan6, menceritakan pengalamannya saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar hingga SMA.

"Saat itu saya tidak pernah bermasalah dengan guru. Mungkin karena anak perempuan itu jauh lebih nurut dibandingkan anak laki-laki," ujarnya.

Banyak sekali perlakuan istimewa yang diterimanya dari guru-guru di sekolahnya. Hal ini karena sebagian besar dari bapak dan ibu gurunya mengenal orangtuanya yang dulunya menjadi pengajar mereka.

"Bapak saya memang dosen olahraga. Guru olahraga saya di SD, SMP hingga SMA, rata-rata dulunya siswa beliau. Jadi tak aneh bila guru olahraga saya selalu memberikan perlakuan khusus. Meskipun, itu harus saya bayar dengan kerja keras mengikuti berbagai cabang olahraga dalam tiap kejuaraan antar sekolah," tuturnya.

Lain halnya manakala memandang perhatian guru kepada murid tanpa embel-embel pengaruh orang tua. Uniek teringat akan guru mata pelajaran Sosiologi-nya saat ia masih duduk di kelas 2 SMA. Tak pernah dibayangkan, gurunya yang terkenal sabar luar biasa, lembut, dan tak banyak bicara itu, bisa sedemikian murka hingga sampai menampar temannya yang memang kelakuannya sangat menyebalkan.

"Meskipun saya tak membela teman saya itu, namun apa yang dilakukan bapak guru itu jelas salah. Beliau kurang menangkap esensi mendidik yang sebenarnya," jelas Uniek.

Uniek mencoba membandingkannya dengan salah satu guru idolanya di masa SMA dulu. Kustrisnowati atau yang akrab dipanggil Bu Kustris, guru mata pelajaran akutansi. Saat jam pelajaran akuntansi yang sangat membutuhkan ketekunan dan ketelitian, temannya Adam tetap saja berisik dan sering mengganggu gurunya  yang sedang membantu pemahaman hitungan akuntansi kepada murid-murid  yang belum jelas satu persatu. Entah tidak tahu ataupun memang memiliki kesabaran yang tak berbatas, Bu Kustris menjawab setiap pertanyaan Adam yang jelas-jelas menyita waktu.

Dari kesabaran yang ditunjukkan oleh gurunya, Uniek sangat mengagumi cara sang guru menghadapi muridnya. Perlakuan tersebut, tidak hanya kepada Adam, namun juga kepada sebagian besar murid nakal lainnya, yang tahu bahwa Bu Kustris tidak akan pernah marah, sehingga sering menjadikan beliau sebagai sasaran keisengan mereka.

Saat ini Bu Kustris telah memasuki masa pensiun dan sudah lama tidak mengajar. Kebetulan sekali saat menghadiri arisan mantan guru di kediaman orangtuanya setahu lalu (ibuku dulu rekan sejawat Bu Kustris), Uniek mendapat kesempatan berjumpa dengannya. Masih sederhana dan lemah lembut seperti dahulu. (Uniek/mar)

Uniek adalah pewarta warga.

Mulai 18 November-29 November ini, Citizen6 mengadakan program menulis bertopik "Guruku Idolaku". Dapatkan merchandise menarik dari Liputan6.com bagi 6 artikel terpilih. Syarat dan ketentuan bisa disimak di sini.

Anda juga bisa mengirimkan artikel disertai foto seputar kegiatan komunitas atau opini Anda tentang politik, kesehatan, keuangan, wisata, social media dan lainnya ke Citizen6@liputan6.com.