Sukses

Hindari 7 Jenis Makanan Ini Jika Anda Idap Hipertensi

Hindari makanan berikut ini apabila Anda mengidap Hipertensi

Liputan6.com, Jakarta Tekanan darah tinggi dapat memiliki dampak serius pada berbagai organ tubuh seperti jantung, arteri, otak, ginjal, dan mata.

Kondisi ini meningkatkan risiko serangan jantung atau stroke, yang merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di seluruh dunia.

Dokter mungkin meresepkan obat seperti diuretik, beta-blocker, ACE, atau penghambat saluran kalsium untuk mengobati hipertensi. Mereka juga akan memberikan saran mengenai makanan yang sebaiknya dihindari oleh penderita tekanan darah tinggi.

Menurut kardiologi (dokter ahli jantung) bernama Nieca Goldberg, MD, meskipun pola makan merupakan dasar dalam pengobatan dan pencegahan penyakit jantung, pendekatan yang efektif dapat bervariasi tergantung pada faktor individunya seperti jenis kelamin, genetika, dan gaya hidup.

Masing-masing individu dapat memiliki rekomendasi yang berbeda dari dokter untuk mengelola tekanan darah tinggi.

Meskipun demikian, Nieca mencatat bahwa ada beberapa jenis makanan yang dapat menyebabkan ketidakstabilan tekanan darah.

Makanan-makanan ini sebaiknya dihindari oleh mereka yang berisiko tinggi terkena hipertensi, melansir dari Best Life, Selasa (11/06/2024).

1. Makanan dengan tinggi garam

Makanan yang tinggi natrium diketahui dapat menyebabkan hipertensi. Konsumsi garam berlebihan menyebabkan penahanan air oleh tubuh, yang meningkatkan volume cairan darah dan meningkatkan beban kerja jantung.

Meskipun natrium ada dalam berbagai makanan, beberapa makanan yang paling tinggi kandungan natriumnya termasuk sup dan kaldu kalengan, makanan yang diawetkan atau difermentasi, serta makanan yang sangat diproses atau makanan yang dikemas, yang dapat menyumbang hingga 70% dari asupan natrium (garam).

Namun, Chris Mohr, PhD, RD, seorang penasihat kebugaran dan ahli nutrisi di perusahaan Fortune Recommends Health, mencatat bahwa mengurangi asupan natrium adalah hanya salah satu bagian dari solusi: “Hal ini juga penting untuk menambahkan lebih banyak makanan yang kaya akan kalium, karena keduanya bekerja bersama seperti jungkat-jungkit.” jelasnya.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 7 halaman

2. Daging berlemak

Crish menyarankan bahwa potongan daging berlemak sebaiknya dihindari dalam pola makan Anda untuk mengendalikan tekanan darah tinggi, karena lemak jenuh yang ada dalam daging ini dapat meningkatkan risiko penumpukan plak di arteri.

Sebagai alternatif, disarankan untuk mengganti lemak jenuh dengan sumber lemak sehat seperti ikan berlemak yang kaya akan omega-3 seperti salmon, makarel, dan sarden.

Pilihan protein tanpa lemak seperti ayam, makanan laut, atau produk nabati juga dapat membantu meningkatkan kesehatan jantung.

3 dari 7 halaman

3. Daging olahan

Daging olahan juga dianggap sebagai ancaman besar bagi penderita hipertensi. Meskipun hot dog, sosis, dan dagin asap dikenal karena kandungan garamnya, Crish menjelaskan bahwa daging olahan yang tidak berlemak seperti irisan daging kalkun juga memiliki risiko yang sama.

"Satu hot dog bisa mengandung sekitar 700mg sodium (garam), hampir setengah dari rekomendasi harian sodium untuk penderita hipertensi, dan danyak orang menganggap sandwich kalkun sebagai pilihan makanan yang baik untuk jantung, tetapi hanya dua ons daging kalkun olahan juga bisa mengandung hampir 700mg sodium,” jelas Crish.

4 dari 7 halaman

4. Cemilan dan minuman manis

Mengonsumsi gula tambahan juga dapat secara tidak langsung meningkatkan tekanan darah Anda dengan menyebabkan "penambahan berat badan dari peningkatan kalori yang tidak memberikan nutrisi," menurut Crish.

Crish menunjukkan bahwa minuman bersoda, minuman energi, dan teh manis adalah beberapa penyumbang terburuk bagi pengidap hipertensi.

"Meminum terlalu banyak minuman bergula dapat menyebabkan penambahan berat badan dan meningkatkan gula darah Anda, menempatkan beban ekstra untuk jantung Anda," kata Raj Dasgupta, MD, seorang dokter bersertifikasi yang mengkhususkan diri dalam kedokteran internal, pulmonologi, dan perawatan kritis, serta seorang tinjauan medis untuk NCOA (Dewan Nasional untuk Penuaan di Amerika Serikat).

5 dari 7 halaman

5. Makanan yang digoreng

Menurut Raj, makanan yang digoreng umumnya mengandung tinggi natrium, lemak jenuh, dan kalori berlebih, yang dapat meningkatkan risiko hipertensi dan penambahan berat badan.

Faktanya, sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrition Research and Practice pada tahun 2020 meneliti dampak makanan yang digoreng terhadap risiko hipertensi menemukan bahwa orang yang mengonsumsi gorengan memiliki peluang yang lebih tinggi untuk mengalami pre-hipertensi dan hipertensi dibandingkan dengan mereka yang tidak mengonsumsi makanan yang digoreng.

6 dari 7 halaman

6. Kafein yang berlebih

Mengonsumsi terlalu banyak kafein dapat meningkatkan tekanan darah secara sementara, dan para ilmuwan masih mempelajari potensi efek jangka panjangnya.

Oleh karena itu, banyak ahli merekomendasikan untuk membatasi asupan kafein jika Anda khawatir dengan tekanan darah Anda.

Stephanie Dunne, seorang ahli gizi dan pendiri perusahaan Nutrition QED menjelaskan bahwa kafein meningkatkan aktivitas neuron di otak kita dengan stimulasi yang lebih sedikit dibandingkan saat tanpa kafein.

Hal tersebut memicu pelepasan adrenalin, hormon "fight, flight, or freeze", yang menyempitkan pembuluh darah dan meningkatkan tekanan darah.

7 dari 7 halaman

7. Alkohol

Asupan alkohol dapat memengaruhi tekanan darah, bahkan jika dikonsumsi dalam jumlah sedang. Crish menyarankan agar wanita tidak mengonsumsi lebih dari satu gelas alkohol per hari, sementara pria sebaiknya membatasi konsumsinya hingga dua gelas per hari.

“Tidak ada manfaat kesehatan yang didapat dari minum alkohol dalam jumlah tertentu, jadi disarankan untuk meminumnya dalam batas yang wajar,” katanya.

Raj Dasgupta menekankan bahwa orang yang mengonsumsi obat untuk hipertensi harus berhati-hati dalam minum alkohol, “Konsumsi minuman beralkohol yang berlebihan dapat berdampak negatif pada tekanan darah dan interferensi dengan beberapa obat, sehingga membuat pengelolaan hipertensi menjadi lebih sulit dan berpotensi merusak jantung dan hati,” ucap Raj.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.