Sukses

Siapa yang Mencetuskan Sehari adalah 24 Jam? Ini Jawabannya

Temukan makna abadi waktu dalam peradaban manusia, yang membentuk interaksi kita dengan lingkungan dari era kuno hingga modern. Mengungkap perjalanan menakjubkan dalam ketepatan waktu, mulai dari pengamatan awal hingga inovasi budaya selama ribuan tahun.

Liputan6.com, Jakarta Waktu, sebagai dimensi yang tak terelakkan dalam kehidupan manusia, memainkan peran sentral dalam peradaban sejak masa purba hingga era modern. Konsep waktu melibatkan sejumput perubahan yang berlangsung seiring berjalannya waktu, dan pemahaman akan hal ini telah membentuk landasan mendasar bagi manusia dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Sejak zaman prasejarah, manusia telah mengembangkan cara untuk mengukur, merekam, dan mengatur waktu sebagai tanggapan terhadap siklus alam, fenomena astronomi, dan kebutuhan sosial.

Sejak zaman prasejarah, manusia telah memperoleh kesadaran akan perjalanan waktu melalui observasi alam dan siklus yang teratur. Pengamatan terhadap pergerakan matahari, bulan, dan bintang membantu manusia prasejarah membangun sistem pengukuran waktu primitif, yang menjadi fondasi bagi pengetahuan lebih lanjut tentang perjalanan waktu. Dari sederetan batu matahari hingga penemuan jam pasir kuno, setiap budaya telah memberikan kontribusi unik dalam pengembangan alat-alat untuk mengukur waktu, menciptakan dasar bagi peradaban-peradaban awal untuk mengorganisir kehidupan sehari-hari mereka.

Sejarah waktu ternyata merupakan kisah yang memikat, dipenuhi dengan inovasi dan penemuan yang merefleksikan daya kreativitas manusia. Dari penggunaan jam air di Mesir Kuno hingga mekanisme jam canggih di Eropa abad pertengahan, evolusi alat pengukur waktu mencerminkan perkembangan masyarakat dan kebutuhan mereka. Selain sebagai alat praktis, waktu juga menjadi aspek integral dalam sistem kepercayaan dan budaya masyarakat, mencerminkan nilai-nilai yang dihormati dan dijunjung tinggi.

Kajian atas sejarah waktu tidak hanya memberikan wawasan tentang kemajuan teknologi, tetapi juga menawarkan perspektif unik terhadap bagaimana manusia mempersepsikan, menghargai, dan memanfaatkan waktu sebagai komponen tak terpisahkan dalam perjalanan peradaban mereka.

Lalu, bagaimana sejarah penemuan waktu itu sendiri? Berikut penjelasannya, dirangkum dari britannica.com, Senin (10/6/2024).

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 16 halaman

1. Orang Mesir Kuno yang Pertama Kali Menciptakan 24 Jam per Hari

Orang Mesir kuno, dengan kecerdasan dan observasi yang luar biasa terhadap alam, memimpin dalam penciptaan sistem waktu 24 jam per hari. Menggunakan bayangan matahari dan posisi bintang di langit sebagai patokan, mereka mengatasi keterbatasan instrumen seperti jam matahari yang sudah digunakan oleh budaya lain. Meskipun bangsa seperti Tiongkok, Babilonia, Yunani, dan Romawi telah memanfaatkan instrumen serupa, tantangan bagi mereka adalah ketidakpastian alam yang memengaruhi penentuan waktu. Mesir kuno, dengan kebijaksanaannya, memecahkan masalah ini dengan menentukan jumlah jam berdasarkan penampakan 12 bintang pada malam hari.

Dalam pencarian ketepatan waktu, orang Mesir kuno menggabungkan pengetahuan astronomi mereka dengan metode unik. Meskipun matahari tidak selalu muncul atau memberikan waktu yang akurat, mereka menetapkan bahwa satu jam telah berlalu ketika bintang-bintang tertentu muncul pada malam hari. Meski bintang-bintang tak terlihat pada siang hari, kebijakan diputuskan untuk membagi siang menjadi 12 bagian tetap, menciptakan dasar bagi pembagian waktu 24 jam yang kita kenal saat ini.

Keputusan orang Mesir kuno untuk menciptakan sistem waktu 24 jam dengan merujuk pada bintang-bintang malam dan membagi siang menjadi 12 bagian tetap menjadi landasan kritis bagi pengukuran waktu yang berkelanjutan. Warisan inovatif mereka dalam astronomi dan pengukuran waktu tidak hanya memengaruhi peradaban Mesir, tetapi juga memberikan kontribusi penting dalam evolusi global sistem waktu yang kita gunakan hingga saat ini.

3 dari 16 halaman

2. Pembagian Waktu 1 Jam 60 Menit oleh Bangsa Babilonia

Pengaruh besar bangsa Babilonia terhadap pembagian waktu tak terbantahkan, mengenalkan sistem sexagesimal yang melibatkan angka 60. Mereka memilih 60 sebagai dasar perhitungan waktu, menciptakan struktur jam 60 menit dan semenit 60 detik yang kita kenal hari ini. Kepraktisan angka 60 menjadi kunci keberhasilan sistem ini, karena angka ini merupakan bilangan terkecil yang dapat dibagi oleh enam, membantu menghasilkan pecahan waktu yang mudah dihitung.

Pilihan bangsa Babilonia untuk menggunakan angka 60 tidak hanya terkait dengan kepraktisan, tetapi juga dengan sifat unik angka tersebut. Dengan rentang angka pertama dari 1 hingga 6, sistem sexagesimal memudahkan konsep pembagian waktu menjadi pecahan yang mudah diingat dan dihitung. Contohnya, pembagian waktu seperti 1/2 jam menjadi 30 menit, 1/3 jam menjadi 20 menit, dan 1/4 jam menjadi 15 menit dapat dengan cepat dan efisien dihitung.

Angka 60 juga menonjol karena fleksibilitasnya sebagai bilangan yang dapat dibagi oleh berbagai angka, termasuk 1, 2, 3, 4, 5, 6, 10, 12, 15, 20, 30, dan 60. Kecanggihan sistem perhitungan waktu Babilonia dengan angka 60 ini bukan hanya merangkul kepraktisan, tetapi juga memberikan fondasi kuat bagi pengukuran waktu yang efisien dan mudah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

4 dari 16 halaman

3. Manusia Pernah Tak Mengenal Konsep Pemberian Nama Pada Hari

Dalam awal sejarah manusia, konsep memberi nama pada hari-hari belum ada. Sebabnya sederhana: manusia belum menemukan pembagian waktu mingguan. Pada saat itu, satunya pembagian waktu yang dikenal adalah bulan, dan jumlah hari dalam satu bulan terlalu banyak untuk diberi nama masing-masing. Namun, seiring manusia mulai membangun kota-kota, keinginan untuk memiliki hari istimewa muncul, terutama untuk berdagang. Inilah mula-mula dari hari pasar.

Hari pasar ditetapkan pada berbagai hari, seperti setiap hari kesepuluh, ketujuh, atau kelima. Bangsa Babilonia memutuskan untuk menetapkan hari pasar pada hari ketujuh, di mana mereka tidak bekerja, melainkan berkumpul untuk berdagang dan merayakan upacara keagamaan. Bangsa Yahudi mengadopsi kebiasaan ini, tetapi mengkhususkan hari ketujuh untuk keperluan keagamaan, yang kemudian memberikan asal-usul bagi hari Minggu. Setiap hari dalam minggu Yahudi diberi nama, mengacu pada hari Sabat yang berarti "Dia berhenti," yaitu hari Sabtu. Sebagai contoh, hari Rabu disebut hari keempat, merujuk pada empat hari setelah hari Sabtu.

Perkembangan dari hari pasar ke hari istirahat dan keagamaan menciptakan warisan yang kuat dalam pembagian waktu. Seiring berjalannya waktu, masyarakat mengembangkan sistem mingguan yang menggabungkan kegiatan ekonomi dan spiritual. Inisiatif Babilonia dan Bangsa Yahudi dalam menentukan hari pasar dan keagamaan menjadi dasar bagi pembentukan hari-hari dalam minggu, memberikan identitas dan struktur pada waktu yang melampaui sederetan hari yang tak bernama pada masa awal sejarah manusia.

5 dari 16 halaman

4. Pemberian Nama Hari Berdasarkan Nama Dewa

Tradisi penamaan hari dalam seminggu mengalami perjalanan panjang dari Bangsa Mesir hingga Anglo-Saxon, mencerminkan pengaruh budaya dan keyakinan yang melintasi peradaban. Bangsa Mesir, dengan seminggu berjumlah tujuh hari, menamai hari-hari tersebut sesuai dengan lima planet, Matahari, dan Bulan. Romawi kemudian mengadopsi nama-nama Mesir untuk membentuk seminggu mereka, memperkenalkan hari-hari seperti hari Matahari, Bulan, dan hari-hari planet.

Namun, nama-nama hari yang kita kenal saat ini tidak bersumber dari penamaan Romawi. Sebaliknya, Bangsa Anglo-Saxon, pada suatu masa, memberikan nama-nama hari berdasarkan dewa-dewa mereka. Hari Matahari menjadi Sunnandaeg atau Sunday (Minggu), hari Bulan menjadi Monandaeg atau Monday (Senin), dan hari Mars menjadi Tiwesdaeg atau Tuesday (Selasa). Dewa Woden memberi nama hari Rabu, sedangkan hari Yupiter Romawi berubah menjadi Thursday (Kamis) setelah mengambil nama Dewa Thor. Hari Frigg, istri Dewa Odin, diberikan pada hari Jumat, dan hari Sabtu tetap mengikuti nama Romawi, berasal dari hari Saturnus.

Di Indonesia, selain Minggu dan Sabtu, nama-nama hari Senin hingga Jumat berasal dari bahasa Arab. Senin, Selasa, Rabu, Kamis, dan Jumat mempunyai arti berurutan sebagai dua, tiga, empat, lima, dan ramai dalam bahasa Arab. Sedangkan Minggu, dalam bahasa Melayu lama dieja sebagai Dominggu sebelum kemudian menjadi Minggu pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Sabtu, konon, diambil dari bahasa Ibrani, sabat, yang berarti "Dia berhenti." Setiap nama hari mencerminkan perjalanan panjang dan kekayaan kultural yang melibatkan sejarah, agama, dan linguistik di berbagai peradaban.

6 dari 16 halaman

5. Pembagian Hari dalam Setahun

Dalam kompleksitas penentuan waktu, terdapat berbagai sistem kalender yang mencerminkan keragaman budaya dan pandangan dunia. Dari perhitungan jalannya Matahari seperti kalender Gregorianis, hingga kalender Islam yang berbasis perjalanan Bulan, serta kalender Yahudi dan China yang menggabungkan Matahari dan Bulan. Sistem lainnya, seperti siklus Tzolkin dari kalender Maya, kalender Pawukon di Bali, dan kalender Wetonan, memberikan gambaran tentang beragamnya pendekatan dalam mencatat waktu.

Sejarah kalender mencatat pergeseran dan transformasi, terutama saat Kalender Gregorianis menggantikan Kalender Yulianis dan Romawi. Kalender Romawi yang hanya memiliki 10 bulan dengan awal tahun pada bulan Maret, gagal mengakomodasi musim dingin yang seharusnya terjadi pada bulan musim gugur. Reformasi yang diprakarsai oleh Julius Caesar pada tahun 46 SM menyebabkan penggantian nama menjadi Kalender Yulianis, yang dipakai selama hampir 1600 tahun.

Keunggulan Kalender Gregorianis menjadi jelas ketika ia menggantikan Kalender Yulianis, memperbaiki ketidakakuratan dalam penentuan musim. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa tahun Matahari lebih pendek 11 menit dan 14 detik setiap tahunnya. Dalam waktu 128 tahun, satu tahun menjadi berkurang satu hari, dan pada tahun 1580, setelah hampir 1600 tahun digunakan, kalender ini mengalami penyusutan sebanyak 10 hari. Dengan ketelitian dan akurasi lebih tinggi, Kalender Gregorianis tetap menjadi kalender yang berlaku hingga sekarang.

7 dari 16 halaman

6. Pemanfaatan Bayangan Matahari untuk Melihat Perubahan Waktu

Sejak milenium ketiga sebelum masehi, manusia telah memanfaatkan observasi bayangan matahari sebagai metode tertua untuk menandai perubahan waktu. Salah satu alat yang muncul dari pengamatan ini adalah jam matahari, sebuah perangkat yang dilengkapi dengan skala dan gnomon. Berbagai budaya menciptakan versi jam matahari yang unik. Bangsa Yunani, misalnya, menciptakan hemispherium, jam matahari berbentuk mangkuk terpotong dari batu dengan gnomon dan ukiran yang menjelaskan pembagian waktu sepanjang 12 jam dalam sehari. Namun, keberanian Mesir kuno muncul dalam bentuk jam matahari monumental mereka, yang menggunakan obelisk atau tiang batu sebagai penanda waktu yang megah.

Bangsa Yunani, dengan kecintaan mereka pada seni dan arsitektur, menciptakan jam matahari yang mencerminkan keindahan dalam bentuk batu. Hemispherium Yunani, terbuat dari batu dan berbentuk mangkuk terpotong, memanfaatkan gnomon dan ukiran yang memberikan penjelasan visual tentang pembagian waktu sepanjang 12 jam dalam sehari. Keelokan jam matahari ini tidak hanya menjadi alat praktis untuk mengukur waktu, tetapi juga karya seni yang memadukan fungsi dan estetika dengan indah.

Mesir kuno memberikan kontribusi monumental dalam bentuk jam matahari mereka yang menggunakan obelisk atau tiang batu sebagai penanda waktu. Jam matahari Mesir ini tidak hanya berfungsi sebagai alat pengukur waktu yang akurat tetapi juga sebagai monumen yang mencerminkan kebesaran peradaban Mesir. Dengan presisi dalam observasi bayangan matahari, jam matahari Mesir menghadirkan pemahaman yang mendalam tentang pergerakan matahari dan waktu, menjadi bukti kecanggihan ilmu pengetahuan dan rekayasa yang dimiliki oleh bangsa Mesir kuno.

8 dari 16 halaman

7. Pengukuran Waktu Lewat Tetesan Air

Meskipun jam matahari memberikan cara awal untuk mengukur waktu, kelemahan utamanya terletak pada ketergantungan pada cuaca dan sinar matahari. Dalam menjawab tantangan ini, perkembangan ilmu pneumatik dan pemahaman fenomena hidrolik membuka jalan bagi munculnya jam air atau clepsydrae. Jam air ini terdiri dari bejana sederhana yang diisi air dan memiliki corong tempat air menetes keluar. Proses menetesnya air menjadi ukuran waktu yang akurat. Kemunculan jam air ini menjadi pendorong signifikan dalam evolusi alat pengukur waktu, dan perkembangannya terutama terjadi di India dan Tiongkok pada milenium pertama sebelum masehi.

Jam air, atau clepsydrae, menawarkan solusi efektif terhadap kelemahan jam matahari dengan memanfaatkan prinsip pneumatik dan hidrolik. Di India dan Tiongkok, pada milenium pertama sebelum masehi, masyarakat mulai mengembangkan versi-versi awal clepsydrae. Alat ini terdiri dari bejana yang diisi dengan air, dan melalui corong yang ditempatkan di bagian bawah bejana, air akan secara perlahan menetes.

Jumlah air yang menetes menjadi indikator waktu, memungkinkan manusia untuk mengukur waktu tanpa ketergantungan pada sinar matahari. Clepsydrae tidak hanya menyediakan cara praktis untuk mengukur waktu tetapi juga membuka jalan bagi penemuan dan perkembangan lebih lanjut dalam ilmu hidrolik.

Munculnya jam air tidak hanya menandai langkah besar dalam melampaui keterbatasan jam matahari tetapi juga memberikan kontribusi signifikan dalam evolusi alat pengukur waktu. Clepsydrae menjadi bukti inovasi manusia dalam memahami prinsip-prinsip sederhana seperti tekanan udara dan aliran air. Dengan membawa dimensi baru dalam pengukuran waktu, jam air membuka pintu bagi kemajuan lebih lanjut dalam teknologi dan sains, mengukir jejak perjalanan manusia dalam mengukur waktu sepanjang sejarah.

9 dari 16 halaman

8. Penggunaan Jam Pasir yang Tak Bergantung dengan Cuaca

Jam pasir menjadi terobosan dalam pengukuran waktu, terlepas dari kendala cuaca atau sinar matahari. Bentuknya sederhana, terdiri dari dua tabung kaca yang dihubungkan oleh tabung sempit di tengahnya. Pasir diisi pada bagian atas dan secara perlahan mengalir ke bagian bawah, memberikan indikasi visual tentang perjalanan waktu. Pada abad ketiga, bangsa Yunani mengadopsi penggunaan jam pasir, menggunakannya untuk menandai durasi waktu bicara dalam Senat. Keleluasaan jam pasir dalam memberikan pengukuran waktu yang konsisten menjadikannya pilihan yang efektif, dan perkembangan lebih lanjut terus berlanjut di berbagai belahan dunia.

Pada abad ketiga, jam pasir diperkenalkan oleh bangsa Yunani dan segera diterima sebagai alat yang praktis untuk mengukur waktu. Keistimewaan jam pasir terletak pada kemampuannya memberikan pengukuran waktu yang akurat dan konsisten tanpa bergantung pada faktor cuaca. Bangsa Yunani mengadopsi jam pasir ini, menggunakannya khususnya dalam konteks Senat. Fungsi jam pasir menjadi penting untuk menentukan batasan waktu dalam pidato atau pembicaraan di Senat, memberikan tata cara yang teratur dan efisien dalam mengelola waktu dalam keputusan dan diskusi politik.

Perkembangan lebih lanjut dalam evolusi jam pasir terjadi di daratan Eropa, di mana seorang pendeta bernama Luitprand di katedral Chartres Prancis berperan dalam pengembangan alat ini. Jam pasir, dengan desainnya yang sederhana namun efektif, mulai digunakan secara luas di berbagai konteks, termasuk di gereja dan dalam kehidupan sehari-hari. Keunggulan jam pasir dalam memberikan ukuran waktu yang dapat diandalkan menjadikannya pilihan yang populer dan terus mendapat perhatian untuk penyempurnaan lebih lanjut dalam pengukuran waktu.

10 dari 16 halaman

9. Tradisi Pembakaran Lilin Selama Sesi Doa Malam

Pada masa Abad Pertengahan, biara Cluny di Burgundia, Prancis, mengembangkan kebiasaan unik untuk menandai waktu selama sesi doa malam mereka. Tradisi ini melibatkan pembakaran lilin, yang memberikan petunjuk visual terhadap durasi waktu yang dihabiskan dalam berdoa. Biara Kristen di Eropa pada masa itu sering mengadopsi praktik serupa untuk memandu rutinitas spiritual mereka. Pembakaran lilin menjadi penanda waktu yang khusus, menciptakan pengalaman spiritual yang teratur dan terstruktur bagi para biarawan di biara Cluny.

Kebiasaan pembakaran lilin yang dimulai di biara Cluny tidak hanya terbatas pada aspek keagamaan, melainkan juga meluas ke kehidupan sehari-hari. Penggunaannya berkembang menjadi alat yang efektif untuk menunjukkan durasi waktu dalam berbagai konteks, seperti lelang barang dan proses pemilihan pemimpin. Lilin, dengan kemampuannya untuk menyala dalam periode waktu tertentu, memberikan solusi praktis dalam mengukur dan mengatur aktivitas sehari-hari. Praktik ini mencerminkan bagaimana aspek keagamaan dapat memberikan dampak pada kehidupan sosial dan kultural masyarakat pada masa Abad Pertengahan.

Penggunaan lilin tidak hanya berfungsi sebagai penanda waktu praktis tetapi juga membawa simbolisme yang mendalam. Lilin, dengan kemampuannya untuk menyala dan padam, menciptakan metafora tentang awal dan akhir, serta perubahan dalam perjalanan waktu. Sebagai inovasi praktis, penggunaan lilin di berbagai konteks mencerminkan adaptasi kreatif masyarakat pada era tersebut dalam mencari cara yang efisien dan berarti untuk mengelola waktu dan kegiatan sehari-hari.

11 dari 16 halaman

10. Terciptanya Foliot

Pada akhir Abad Pertengahan, ketertarikan terhadap penunjuk waktu yang lebih tepat mendorong para pembuat jam Eropa untuk mengembangkan mekanisme yang lebih canggih. Salah satu inovasi kunci adalah penggunaan roda bergerigi untuk mengatur escapement, suatu alat yang mengontrol gerakan jam. Dengan roda bergerigi ini, gerakan jam dapat diatur dengan lebih akurat, menciptakan kemungkinan untuk menghasilkan jam yang lebih presisi. Inovasi ini menjadi langkah penting dalam evolusi teknologi jam dan memunculkan pendekatan baru terhadap pengukuran waktu.

Sebagai bagian dari peningkatan mekanisme jam, para pembuat jam pada masa itu memasang semacam batang atau foliot untuk menjaga interval putaran gerigi. Pengatur interval putaran ini memiliki peran krusial dalam menjaga kestabilan gerakan jam dan memastikan bahwa waktu yang diukur tetap konsisten.

Dengan memanfaatkan pengetahuan astronomi dan prinsip-prinsip mekanika, para inovator menciptakan jam yang tidak hanya akurat tetapi juga dapat diandalkan dalam menjaga keakuratan waktu. Deskripsi rinci tentang mekanisme jam model ini dicatat oleh Giovanni de Dondi, seorang profesor astronomi dari Padua, Italia, pada tahun 1364, yang diterbitkan dengan judul 'II Tractus Astarii'.

Giovanni de Dondi, dengan karyanya yang berjudul 'II Tractus Astarii', memberikan kontribusi penting dalam dokumentasi dan penyebaran pengetahuan tentang mekanisme jam pada abad ke-14. Sebagai seorang profesor astronomi, ia tidak hanya menciptakan jam yang inovatif tetapi juga berbagi pengetahuannya dengan masyarakat melalui karya tulisnya. Deskripsi rinci yang disampaikan oleh de Dondi menggambarkan kemajuan signifikan dalam teknologi jam pada masanya dan membuka jalan bagi pengembangan lebih lanjut dalam ilmu jam dan mekanika.

12 dari 16 halaman

11. Penemuan Pendulum oleh Galileo Galilei

Pada tahun 1656, Christiaan Huygens, seorang ahli fisika, matematika, dan astronomi Belanda, memberikan kontribusi revolusioner terhadap teknologi jam dengan menciptakan mekanisme baru: pendulum. Walaupun ide pendulum sendiri telah tercetus sebelumnya oleh ahli fisika Italia, Galileo Galilei, Huygens berhasil mengimplementasikannya dalam mesin jam dengan sukses. Pendulum menggantikan foliot yang berat sebagai pengatur gerakan jam, memberikan stabilitas yang lebih baik dan meningkatkan akurasi waktu. Inovasi ini memunculkan era baru dalam dunia jam dan membuka jalan bagi pengembangan lebih lanjut.

Tidak puas dengan kontribusinya terhadap pendulum, Huygens terus mengembangkan teknologi jam. Pada tahun 1675, ia menciptakan hairspring, sebuah per tipis yang berfungsi mengontrol kecepatan putaran dan keseimbangan roda gerigi dalam mesin jam. Hairspring menjadi elemen kunci dalam mencapai keakuratan yang lebih tinggi dalam pengukuran waktu.

Dengan inovasi ini, mesin jam dapat diatur dengan presisi yang lebih tinggi, membuka kemungkinan untuk menciptakan jam yang lebih kecil dan portable. Hasilnya adalah munculnya jam saku yang praktis, yang dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam saku jas, memberikan kemerdekaan dalam membawa penunjuk waktu di mana pun seseorang berada.

Berkat penciptaan hairspring oleh Huygens, perkembangan jam kecil dan portabel semakin pesat. Jam saku menjadi populer di kalangan masyarakat karena kemudahan penggunaannya dan kemampuannya memberikan waktu dengan akurasi yang baik. Inovasi ini memberikan dampak besar pada gaya hidup manusia, memungkinkan mereka untuk membawa waktu ke mana pun pergi. Keberhasilan mekanisme pendulum dan hairspring tidak hanya merubah cara manusia mengukur waktu tetapi juga mengubah jam dari perangkat besar menjadi benda portabel yang menjadi aksesori penting dalam kehidupan sehari-hari.

13 dari 16 halaman

12. Hadirnya Model Jam dengan Tenaga Listrik

Pada masa awal pengembangan jam mekanik dengan pendulum, masalah sumber daya menjadi hambatan signifikan. Namun, solusi datang dari seorang pembuat jam berkebangsaan Skotlandia, Alexander Bain. Pada abad ke-19, Bain memperkenalkan konsep revolusioner dengan menciptakan model jam menggunakan tenaga listrik. Inovasi ini melibatkan penerapan tenaga elektromagnetik untuk menggerakkan mesin jam, mengatasi keterbatasan sumber daya yang dialami oleh jam mekanik tradisional. Pada tahun 1841, Bain berhasil mematenkan penciptaan jam elektriknya, membuka babak baru dalam evolusi teknologi jam.

Pemakaian tenaga listrik dalam jam elektrik membawa manfaat besar, terutama dalam hal sumber daya. Meskipun jam mekanik bergantung pada pegas atau bobot yang perlu diulur kembali secara berkala, jam elektrik Alexander Bain menggunakan tenaga elektromagnetik untuk menjaga gerakan jam. Hal ini tidak hanya memberikan ketenangan dalam penggunaan, tetapi juga menghilangkan kebutuhan akan intervensi manusia yang terus-menerus untuk menjaga jam tetap berjalan. Dengan kata lain, jam elektrik memberikan solusi efisien terhadap tantangan sumber daya yang dihadapi oleh pendahulunya.

Inovasi Alexander Bain dalam menciptakan jam elektrik bukan hanya merubah cara jam berfungsi, tetapi juga membuka jalan bagi pengembangan lebih lanjut dalam dunia teknologi dan penggunaan tenaga listrik. Pengaplikasian tenaga listrik dalam jam menjadi dasar untuk revolusi lebih lanjut dalam pengembangan perangkat elektronik. Dampaknya terasa luas, tidak hanya memajukan teknologi jam, tetapi juga mengubah paradigma tentang sumber daya dan efisiensi dalam berbagai perangkat mekanis.

14 dari 16 halaman

Apa yang dimaksud dengan konsep waktu dalam sejarah?

Konsep waktu dalam sejarah meliputi dua hal, yakni proses kelangsungan dari suatu peristiwa dalam batasan waktu tertentu dan kesatuan kelangsungan waktu, yaitu waktu pada masa yang lampau, sekarang, dan masa yang akan datang.

 

15 dari 16 halaman

Apa saja 4 konsep waktu dalam sejarah jelaskan?

Menurut Kuntowijoyo, terdapat empat konsep waktu esensial dalam suatu peristiwa sejarah, yakni ada perkembangan, kesinambungan, pengulangan, dan perubahan.

 

16 dari 16 halaman

Siapa yang menciptakan 1 hari 24 jam?

Orang Mesir kuno adalah yang pertama menciptakan 24 jam per hari.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Video Terkini