Sukses

Cerita Getir Pemain Asing di Indonesia

Liputan6.com, Jakarta Cerita miris pemain asing yang merumput di Indonesia kembali mengemuka di ruang publik Pemain asal Rusia, Sergei Litvinov harus hidup menderita. Demi menyambung hidup, Litvinov berjualan jus lantaran belum digaji manajemen Persis Solo.

Nasib Litvinov masih lebih baik dibanding dua pemain asing lainnya, Salomon Begondou dan Diego Mendieta. Dua pemain itu meregang nyawa karena ditelantarkan manajemen tim. Sementara itu, pemain asal Prancis, Moukwelle Ebanga Silvain memiliki nasib lebih baik, namun dia kapok bermain di Indonesia.

Berikut deretan pemain asing yang bernasib mengenaskan di Indonesia yang dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber.

Diego Mendieta

Pemain asal Paraguay, Diego Mendieta menghembuskan napas terakhir karena sakit (4/12/2012). Tidak memiliki biaya untuk berobat, Mendieta menyerah pada virus dan jamur yang menyerang telah menyerang otaknya. Gaji yang tidak dibayarkan manajemen Persis Solo membuat pemain 32 tahun itu hanya bisa berobat seadanya. Mendieta juga tidak bisa pulang ke Paraguay karena tidak memiliki ongkos.

Selama sakit, Mendieta berusaha mencari keadilan. Dia berusaha menemui pengurus klub, pengurus cabang PSSI menuntut haknya yang tertunggak selama 4 bulan ditambah sisa kontrak yang dibayarkan. Baru setelah Mendieta meninggal, manajemen Persis membayar gaji Mendieta dengan total keseluruhan mencapai Rp 131 juta.

Selama sakit, Mendieta hanya tinggal di kos-kosan. Dia tidak tinggal di mess pemain Persis. Berita meninggalnya Mendieta menjadi sorotan. Mantan Ketua Umum Persis, FX Hadi Rudyatmo turun tangan memulangkan jenazah Mendieta ke Paraguay. Kasus kematian Mendieta mendapat perhatian seris dari FIFPro. Asosiasi pemain profesional itu akan membawa kasus kematian Mendieta ke FIFA.

Salomon Begoundou

Nasib serupa juga dialami pemain asing lainnya, Salomon Begondou. Pemain Persipro Probolinggo itu juga meninggal karena sakit. Lantaran tidak memiliki biaya berobat, pemain asal Kamerun itu terlunta-lunta di Indonesia. Begoundou meninggal di Indonesia pada 29 November 2013.

Jenazah Begoundou sempat tertahan selama dua pekan di Rumah Sakit Umum Daerah Tangerang (RSUD)  selama dua pekan karena terkendala adminstrasi. PSSI akhirnya menanggung semua biaya pemulangan jenazah ke Kamerun.

Krisis keuangan klub membuat Begondou terlantar di Indonesia. Persipro menunggak gaji Begoundou hingga Rp 120 juta. Saat menjalani perawatan selama sakit, Begoundou dibantu rekan-rekannya dari Kemerun. Selama bertahan hidup, Begoundou bersama rekan-rekannya sesama pesepakbola dari Kamerun mengamen di pinggir jalan.

Moukwelle Ebanga Silvain

Nasib lebih baik dirasakan pemain asal Kamerun, Moukwelle Ebanga Silvain. Sempat menderita sakit, Moukwelle lolos dari maut. Gaji yang ditunggak oleh klub Persiwangi Banyuwangi membuat Moukwelle menjalani kehidupan sulit di Indonesia. Dia berusaha mencari kejelasan mengenai hak-haknya yang belum dibayarkan manajemen.

Di Persewangi, Moukwelle dikontrak Rp 300 juta untuk satu musim. Namun manajemen tim melakukan wanprestasi. Moukewelle hanya mendapatkan gaji sebesar Rp 80 juta. Beruntung, salah seorang tokoh supoter Persewangi, Ahmad Mustain ikut memperjuangkan hak-hak Moukwelle. Saat pulang ke kampung halamannya, Moukwelle mendapat bantuan tiket sebesar Rp 20 juta dari Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas.

“Terimakasih atas bantuan kalian, terutama Mustain. Saya kapok bermain di Indonesia,” kata Moukwelle Februari 2013 lalu.