Liputan6.com, Nias: Tim evakuasi gabungan berhasil menyelamatkan salah seorang korban gempa bumi yang telah lima hari tertimbun reruntuhan di Kota Gunung Sitoli, Nias, Sumatra Utara, Sabtu (2/4). Keberadaan Hendra terdeteksi sonar life detector yang dibawa tim evakuasi dari Singapura. Dengan alat ini pula tim evakuasi mendengar suara seorang perempuan yang diduga istri Hendra, yakni Rini Tan.
Sonar life detector adalah sebuah alat yang bisa mendeteksi degup jantung, bahkan detak jantung yang lemah dan terhalang tembok sekalipun. Berdasarkan alat ini, tim evakuasi mendengar Hendra yang meminta air minum dan ingin segera dikeluarkan. Tim dari Singapura, Meksiko, dan TNI, lantas membuat sebuah lubang untuk mengirimkan air minum melalui selang. Setelah berusaha selama enam jam, Hendra berhasil diangkat dari reruntuhan dan segera dikirim ke rumah sakit.
Evakuasi juga disaksikan Junianto, sepupu Hendra yang datang langsung dari Jakarta. Menurut Junianto, Hendra adalah pemilik sebuah bengkel sepeda di kawasan pertokoan Nusantara Jaya di Gunung Sitoli. Ketika gempa berkekuatan 8,7 skala Richter terjadi, Hendra diduga sedang bersama Rini Tan dan kedua putri mereka, yakni Bina Rahayu dan Lisa Rahayu. Hingga berita ini disusun, belum diketahui nasib anggota keluarga Hendra.
Berbeda dengan Hendra yang berhasil diselamatkan dalam tempo enam jam, Melani hingga kini belum berhasil diangkat. Perempuan yang terkubur di lantai dasar rumahnya sejak gempa mengguncang Senin malam silam baru bisa dipastikan masih hidup. Berpacu dengan waktu, tim penyelamat kini menggunakan alat berat untuk mengeluarkan Melani yang diduga masih terkubur bersama ibu, adik, dan pembantunya [baca: Melani Dipastikan Masih Hidup].
Sejak Melani diketahui tertimbun, proses evakuasi menggunakan peralatan seadanya. Tak heran jika kemudian evakuasi berjalan lambat. Sejak siang tadi, tim evakuasi mengandalkan ekskavator. Namun hingga berita ini disusun, Melani belum berhasil diangkat. Sementara ayah Melani, Fransico alias Kim Ling, sudah ditemukan meninggal. Evakuasi juga disaksikan tiga saudara Melani yang datang dari Jakarta [baca: Evakuasi Melani Dilanjutkan Besok].
Di Pulau Asu, militer Singapura berhasil menyelamatkan enam wisatawan asing dan seorang warga negara Indonesia. Menggunakan helikopter, ketujuh orang itu kemudian diangkut ke rumah sakit di Medan, Sumut. Mereka baru berhasil dievakuasi karena selama ini tak ada regu penolong yang mendatangi pulau di sebelah barat Nias itu.
Saat ini ketujuh orang yang terdiri dari empat warga negara Belgia, seorang Swedia, seorang warga Australia, dan seorang warga Indonesia itu, dalam kondisi sehat. Menurut para korban, gempa Senin silam menyebabkan transportasi dari dan menuju Pulau Asu terputus. Kondisi ini membuat warga setempat yang terluka tak mendapatkan pertolongan [baca: Rekaman Gempa Nias Ditayangkan Televisi Australia].
Gempa bumi yang mengguncang Nias pada Senin silam kini menyisakan cerita pilu bagi para korbannya. Satu di antara sekian banyak korban itu adalah Peter. Pria ini mengeluarkan istri dan anak dari reruntuhan rumahnya seorang diri. Peter juga yang menggali lubang kemudian menguburkan sendiri anggota keluarganya.
Menurut Peter, saat gempa mengguncang, dia sedang ke luar rumah untuk membeli makan. Ketika pulang, dia mendapati rumahnya runtuh dan mengubur istrinya, Sri Dewi Damayanti, serta anaknya, Yurike Yolanda. Belakangan, dia mendapati istri dan anaknya telah tewas dalam posisi berpelukan. Selain dua anggota keluarga Peter, masih ada Medi, pembantu rumah tangga Peter yang masih terimpit reruntuhan rumah. Dia tak bisa mengeluarkan Medi seorang diri karena membutuhkan peralatan berat.
Kondisi memprihatinkan juga dialami para korban selamat dalam gempa Nias. Para korban yang kini mengungsi di sejumlah penampungan berebut jatah makanan yang terbatas. Salah satunya di lokasi penampungan pengungsi di sekitar Lapangan Pertamina di Gunung Sitoli. Menurut salah seorang pengungsi bernama Mirna, saat ini para korban terpaksa berebut makanan yang terbatas. Selain itu, mereka juga sangat membutuhkan pasokan air bersih. "Untuk nyuci piring aja nggak ada karena air PAM sudah mati. Sumur juga nggak ada,&quot kata Mirna sambil menyeka air mata.(YAN/Tim Liputan 6 SCTV)
Sonar life detector adalah sebuah alat yang bisa mendeteksi degup jantung, bahkan detak jantung yang lemah dan terhalang tembok sekalipun. Berdasarkan alat ini, tim evakuasi mendengar Hendra yang meminta air minum dan ingin segera dikeluarkan. Tim dari Singapura, Meksiko, dan TNI, lantas membuat sebuah lubang untuk mengirimkan air minum melalui selang. Setelah berusaha selama enam jam, Hendra berhasil diangkat dari reruntuhan dan segera dikirim ke rumah sakit.
Evakuasi juga disaksikan Junianto, sepupu Hendra yang datang langsung dari Jakarta. Menurut Junianto, Hendra adalah pemilik sebuah bengkel sepeda di kawasan pertokoan Nusantara Jaya di Gunung Sitoli. Ketika gempa berkekuatan 8,7 skala Richter terjadi, Hendra diduga sedang bersama Rini Tan dan kedua putri mereka, yakni Bina Rahayu dan Lisa Rahayu. Hingga berita ini disusun, belum diketahui nasib anggota keluarga Hendra.
Berbeda dengan Hendra yang berhasil diselamatkan dalam tempo enam jam, Melani hingga kini belum berhasil diangkat. Perempuan yang terkubur di lantai dasar rumahnya sejak gempa mengguncang Senin malam silam baru bisa dipastikan masih hidup. Berpacu dengan waktu, tim penyelamat kini menggunakan alat berat untuk mengeluarkan Melani yang diduga masih terkubur bersama ibu, adik, dan pembantunya [baca: Melani Dipastikan Masih Hidup].
Sejak Melani diketahui tertimbun, proses evakuasi menggunakan peralatan seadanya. Tak heran jika kemudian evakuasi berjalan lambat. Sejak siang tadi, tim evakuasi mengandalkan ekskavator. Namun hingga berita ini disusun, Melani belum berhasil diangkat. Sementara ayah Melani, Fransico alias Kim Ling, sudah ditemukan meninggal. Evakuasi juga disaksikan tiga saudara Melani yang datang dari Jakarta [baca: Evakuasi Melani Dilanjutkan Besok].
Di Pulau Asu, militer Singapura berhasil menyelamatkan enam wisatawan asing dan seorang warga negara Indonesia. Menggunakan helikopter, ketujuh orang itu kemudian diangkut ke rumah sakit di Medan, Sumut. Mereka baru berhasil dievakuasi karena selama ini tak ada regu penolong yang mendatangi pulau di sebelah barat Nias itu.
Saat ini ketujuh orang yang terdiri dari empat warga negara Belgia, seorang Swedia, seorang warga Australia, dan seorang warga Indonesia itu, dalam kondisi sehat. Menurut para korban, gempa Senin silam menyebabkan transportasi dari dan menuju Pulau Asu terputus. Kondisi ini membuat warga setempat yang terluka tak mendapatkan pertolongan [baca: Rekaman Gempa Nias Ditayangkan Televisi Australia].
Gempa bumi yang mengguncang Nias pada Senin silam kini menyisakan cerita pilu bagi para korbannya. Satu di antara sekian banyak korban itu adalah Peter. Pria ini mengeluarkan istri dan anak dari reruntuhan rumahnya seorang diri. Peter juga yang menggali lubang kemudian menguburkan sendiri anggota keluarganya.
Menurut Peter, saat gempa mengguncang, dia sedang ke luar rumah untuk membeli makan. Ketika pulang, dia mendapati rumahnya runtuh dan mengubur istrinya, Sri Dewi Damayanti, serta anaknya, Yurike Yolanda. Belakangan, dia mendapati istri dan anaknya telah tewas dalam posisi berpelukan. Selain dua anggota keluarga Peter, masih ada Medi, pembantu rumah tangga Peter yang masih terimpit reruntuhan rumah. Dia tak bisa mengeluarkan Medi seorang diri karena membutuhkan peralatan berat.
Kondisi memprihatinkan juga dialami para korban selamat dalam gempa Nias. Para korban yang kini mengungsi di sejumlah penampungan berebut jatah makanan yang terbatas. Salah satunya di lokasi penampungan pengungsi di sekitar Lapangan Pertamina di Gunung Sitoli. Menurut salah seorang pengungsi bernama Mirna, saat ini para korban terpaksa berebut makanan yang terbatas. Selain itu, mereka juga sangat membutuhkan pasokan air bersih. "Untuk nyuci piring aja nggak ada karena air PAM sudah mati. Sumur juga nggak ada,&quot kata Mirna sambil menyeka air mata.(YAN/Tim Liputan 6 SCTV)