Agung Laksono: Keadaan Ini Sangat Memalukan

Kericuhan di Gedung Dewan sebenarnya bisa direm kalau saja masing-masing pihak tak saling memaksakan kehendak. Sidang paripurna di Gedung Wakil Rakyat berlangsung panas sejak awal.

oleh Liputan6Diterbitkan 16 Maret 2005, 19:55 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Ketua DPR Agung Laksono sangat menyesalkan kericuhan pada sidang paripurna DPR. "Keadaan ini sangat memalukan," kata Agung beberapa saat setelah sidang paripurna akhirnya diskors, Rabu (16/3) sekitar pukul 17.30 WIB [baca: Ricuh di Sidang Paripurna DPR].

Agung berpendapat, seharusnya sidang bisa berlangsung damai asalkan kedua pihak, baik yang mendukung maupun menolak kenaikan harga bahan bakar minyak tak saling memaksakan kehendak. Seharusnya mereka bisa menghargai setiap perbedaan. "Tapi itulah wajah DPR kita," ungkap Agung, lirih.

Wakil Ketua Umum Partai Golongan Karya ini juga membantah tuduhan dirinya arogan saat memimpin sidang. Dia cuma mau bersikap demokratis dengan mencoba menyampaikan pandangan tiap fraksi. Sebab ada dua opsi, apakah DPR perlu mengeluarkan sikap resmi soal kenaikan BBM atau menugaskan Komisi VII, Komisi XI serta Panitia Anggaran untuk membicarakan kembali kenaikan BBM. Namun kenyataannya di luar dugaan. Anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan justru marah.

Namun menurut pantauan reporter SCTV Indiarto Priadi yang ada di ruang sidang, kericuhan sebenarnya hanya tinggal tunggu waktu. Sidang sudah berlangsung panas sejak awal. Anggota sidang silih berganti mengajukan interupsi [baca: Sidang Paripurna DPR Dimulai].

Patut disayangkan, memang. Apalagi pada dasarnya semua fraksi dapat memahami kebijakan pemerintah manaikkan harga BBM. Anggota Dewan hanya mempersoalkan niat baik dari pemerintah. Sebab menurut sebagian wakil rakyat sepatutnya pemerintah meminta izin dahulu sebelum menaikkan harga BBM. Tapi pada kenyataannya tak demikian.

Sikap slonong boy pemerintah itulah yang banyak dikecam anggota Dewan, khususnya kelompok penentang kebijakan ini--Fraksi PDIP, F-Kebangkitan Bangsa, F-Partai Keadilan Sejahtera, F-Partai Amanat Nasional, dan F-Partai Damai Sejahtera. Bahkan ada kesan pemerintah justru mengacuhkan keberatan DPR. Sampai pada akhirnya kubu penolak kenaikan BBM berang dan bersikap ektrem: pemerintah harus mencabut kebijakan BBM.

Suasana tegang juga bergejolak jauh di luar Gedung Dewan. Di Bandung, Jawa Barat, gelombang penolakan kenaikan BBM seperti tak ada putusnya. Ratusan orang, siang tadi, berdemonstrasi di depan Kompleks Gedung Sate dan Gedung Radio Republik Indonesia di Jalan Diponegoro.

Pemandangan tak jauh berbeda tampak pula di depan gerbang Kampus Institut Teknologi Bandung di Jalan Ganesa. Di sana puluhan mahasiswa ITB menggelar aksi penolakan kenaikan harga BBM dengan cara mogok makan dan penggalangan tanda tangan.

Ratusan mahasiswa di Malang, Jawa Timur pun menggelar unjuk rasa secara bersamaan di kawasan Tugu dan depan DPRD Kota Malang. Dalam orasinya, demonstran mendesak pemerintah membatalkan kenaikan harga BBM dan menyita harta para koruptor untuk subsidi rakyat.

Setelah puas berorasi, mahasiswa berusaha menurunkan bendera merah putih di halaman Kantor Wali Kota. Aksi ini sempat menimbulkan ketegangan dengan petugas. Untung situasi bisa cepat terkendali.

Di Makassar, Sulawesi Selatan, puluhan mahasiswa menyandera sebuah mobil tangki yang kebetulan melintas di depan Kampus Universitas Negeri Makassar. Mereka juga menyandera mobil dinas milik Ketua DPRD Kota Makassar Adnan Mahmud. Aksi sebagai protes keras terhadap kebijakan pemerintah menaikkan BBM [baca: Mahasiswa di Makassar Menyandera Mobil Tangki Minyak].(ICH/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya