Liputan6.com, Situbondo: Para siswi kelas tiga Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Panji, Situbondo, Jawa Timur, selama tiga bulan terakhir ini mengalami gejala kerasukan. Para siswi mengaku kepanasan dan kerap menjerit histeris.
Setiap hari, jumlah siswi yang kesurupan bisa lima orang. Khusus Selasa dan Kamis bahkan mencapai sembilan hingga 12 siswi. Akibatnya para orang tua harus menunggui anak-anak mereka selama di sekolah.
Mulanya, menurut para siswa, kerusupan hanya dialami seorang siswa dalam sehari. Musibah ini terjadi sejak pihak sekolah membangun tempat parkir Desember 2004 di bekas sumur tua. Untuk mengantisipasinya, pihak sekolah sudah meliburkan siswa yang kesurupan agar tak kesurupan lagi. Namun, belakangan, justru banyak korban kesurupan baru. Biasanya waktunya antara pukul 9.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB.
Untuk itu, pihak sekolah berniat memindahkan jam pelajaran siswa kelas tiga dari pagi ke siang. Pihak sekolah juga terus melakukan berbagai upaya untuk menangani hal ini, termasuk melakukan upaya-upaya metafisik. Sedangkan pihak Departemen Pendidikan setempat hanya bisa mengawasi kejadian itu.(MAK/Agus Ainulyakin dan Taufikurrahman)
Setiap hari, jumlah siswi yang kesurupan bisa lima orang. Khusus Selasa dan Kamis bahkan mencapai sembilan hingga 12 siswi. Akibatnya para orang tua harus menunggui anak-anak mereka selama di sekolah.
Mulanya, menurut para siswa, kerusupan hanya dialami seorang siswa dalam sehari. Musibah ini terjadi sejak pihak sekolah membangun tempat parkir Desember 2004 di bekas sumur tua. Untuk mengantisipasinya, pihak sekolah sudah meliburkan siswa yang kesurupan agar tak kesurupan lagi. Namun, belakangan, justru banyak korban kesurupan baru. Biasanya waktunya antara pukul 9.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB.
Untuk itu, pihak sekolah berniat memindahkan jam pelajaran siswa kelas tiga dari pagi ke siang. Pihak sekolah juga terus melakukan berbagai upaya untuk menangani hal ini, termasuk melakukan upaya-upaya metafisik. Sedangkan pihak Departemen Pendidikan setempat hanya bisa mengawasi kejadian itu.(MAK/Agus Ainulyakin dan Taufikurrahman)