Dua Mantan Presiden AS Tiba di Aceh

Setelah bertemu Presiden Yudhoyono di Medan, Sumut, dua utusan pemerintah Gedung Putih itu berangkat ke Aceh. Di NAD, Bush senior dan Clinton memantau kondisi lapangan dan membagikan bantuan kemanusiaan.

oleh Liputan6Diterbitkan 20 Februari 2005, 15:14 WIB
Liputan6.com, Aceh Besar: Dua mantan Presiden Amerika Serikat George Herbert Walker Bush dan Bill Clinton tiba di Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Nanggroe Aceh Darussalam, Ahad (20/2) pukul 11.30 WIB. Kedatangan keduanya adalah untuk memantau kondisi lapangan dan membagikan bantuan kemanusiaan bagi wilayah-wilayah korban gempa dan Tsunami.

Selanjutnya, dua utusan khusus yang ditunjuk Gedung Putih itu akan membicarakan rencana pemberian sumbangan dari Gedung Putih untuk Aceh serta Sumatra Utara dengan pemerintah Indonesia. Indonesia berada di urutan kedua setelah Thailand dalam rute lawatan Bush senior dan Clinton.

Setelah menginjakkan kaki di bandara, Clinton langsung berangkat ke lokasi bencana di Lampo, Aceh Besar. Di sebuah masjid di Lampo, Clinton yang ditunjuk Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Kofi Annan sebagai koordinator bantuan swasta internasional itu menggelar konferensi pers khusus. Bagi wartawan yang tidak mendapat izin, cuma bisa menyaksikan jalannya konferensi pers dari jarak sekitar 500 meter. Penjagaan ketat tampak di sekitar lokasi yang akan disinggahi Clinton.

Beberapa saat sebelumnya di Medan, Sumut, Bush senior dan Clinton berdialog dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pertemuan dirancang dalam upaya menggalang dukungan internasional untuk membantu korban musibah Tsunami di Aceh dan Sumut. Keduanya mendarat di Bandara Polonia, Medan, Ahad ini pukul 09.10 WIB menggunakan pesawat khusus Boeing 757. Selanjutnya, mereka bertolak ke Srilangka petang nanti dan Maladewa keesokan harinya [baca: Hari Ini SBY Bertemu Bush dan Clinton].

Sabtu kemarin di Thailand, Bush dan Clinton memeriksa besarnya keperluan bantuan kemanusiaan. Sejauh ini keduanya menyimpulkan, jumlah sumbangan dari AS perlu ditambah sebesar US$ 5 miliar atau setara dengan sekitar Rp 46,3 triliun. Nantinya, sebagian besar sumbangan diutamakan untuk keperluan pembangunan kembali Aceh dan Srilangka. Sebab, dua daerah itulah yang mereka nilai mengalami kerusakan struktural terparah akibat gempa dan gelombang Tsunami, 26 Desember 2004.(AIS/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya