Liputan6.com, Jakarta: Kepolisian Daerah Metro Jaya intensif memeriksa empat tersangka pembunuh Rahmat bin Rohadi (40) dan Barkah Hani (41), istri Direktur Operasional Badan Intelijen Negara Abdurrahman Pelu. Selain mengumpulkan bukti-bukti, polisi sempat meminta keterangan dari putra seorang tersangka Subono bernama Dani dan Lucky. Tiga tersangka lain yang juga diciduk adalah Leo Hasibuan, Adnan, dan Nurlida Alkatiri alias Ida. Motif pembunuhan hingga Rabu (16/2), masih ditetapkan soal utang piutang [baca: Kapolda Metro: Barkah Hani Dibunuh karena Utang].
Ida besar kemungkinan ditetapkan sebagai otak pembunuhan. Dari informasi yang dikumpulkan SCTV, masalah bermula dari kekesalan Ida karena Barkah terus menagih utang sebesar Rp 500 juta. Cara Barkah menagih dinilai tidak sopan. Ida lantas mengajak Adnan, teman selingkuhnya menghabisi Barkah. Ida menghubungi Subono yang juga berutang kepada korban. Untuk mempermudah pembunuhan mereka mengajak Leo, seorang anggota TNI. Pembunuhan sadis yang terjadi pada Minggu silam sekitar pukul 03.00 WIB dilakukan di rumah Subono di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur.
Percikan darah di rumah Subono-lah titik awal kasus pembunuhan terungkap. Dari mulut pensiunan pegawai Departemen Perhubungan juga terbuka ia tidak bekerja sendiri. Menurut Subono, Barkah Hani diundang ke rumahnya pada malam nahas itu. Setelah Dani dan Lucky keluar rumah, Subono dan Adnan serta Leo beraksi. Barkah Hanny dihabisi di dapur. Para tersangka menjerat leher dan menusuk wajah serta tubuh korban. Setelah itu, mereka membunuh Rahmat, sopir Barkah Hani di lantai dua. Ida hanya menyaksikan eksekusi itu. Untuk menghilangkan kecurigaan, Subono membersihkan darah yang memercik di dinding dan lantai.
Kedua mayat dibawa ke kawasan Bintara Jaya, Bekasi Barat, Jawa Barat. Ketika membawa jenazah keluar dari rumah tak seorang pun warga setempat curiga. "Malam itu hujan deras," kata Usman, seorang tetangga Subono. Leo bertugas menyupir mobil pick-up yang biasa dikemudikan Rahmat. Tiba di tempat sepi, Leo dan Adnan menjejalkan jenazah Barkah dan Rahmat di bawah dashboard. Karena jaket Leo tertinggal di dalam mobil, ia dan Adnan lantas memecahkan kaca untuk mengambilnya.
Warga menemukan mobil berisi kedua jenazah, satu jam setelah Leo dan Adnan pergi. Polisi lalu mengerahkan anjing pelacak untuk memburuk jejak, tapi nihil. Pembunuhan akhirnya disimpulkan dilakukan di tempat lain. Kepolisian Resor Metro Bekasi mengambil alih kasus tersebut dari Kepolisian Sektor Bekasi Barat. Dengan bantuan Polda Metro Jaya, selama 50 jam satu demi satu tersangka dapat diciduk di tempat terpisah.(KEN/Widiyaningsih dan Sonny Sigit)
Ida besar kemungkinan ditetapkan sebagai otak pembunuhan. Dari informasi yang dikumpulkan SCTV, masalah bermula dari kekesalan Ida karena Barkah terus menagih utang sebesar Rp 500 juta. Cara Barkah menagih dinilai tidak sopan. Ida lantas mengajak Adnan, teman selingkuhnya menghabisi Barkah. Ida menghubungi Subono yang juga berutang kepada korban. Untuk mempermudah pembunuhan mereka mengajak Leo, seorang anggota TNI. Pembunuhan sadis yang terjadi pada Minggu silam sekitar pukul 03.00 WIB dilakukan di rumah Subono di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur.
Percikan darah di rumah Subono-lah titik awal kasus pembunuhan terungkap. Dari mulut pensiunan pegawai Departemen Perhubungan juga terbuka ia tidak bekerja sendiri. Menurut Subono, Barkah Hani diundang ke rumahnya pada malam nahas itu. Setelah Dani dan Lucky keluar rumah, Subono dan Adnan serta Leo beraksi. Barkah Hanny dihabisi di dapur. Para tersangka menjerat leher dan menusuk wajah serta tubuh korban. Setelah itu, mereka membunuh Rahmat, sopir Barkah Hani di lantai dua. Ida hanya menyaksikan eksekusi itu. Untuk menghilangkan kecurigaan, Subono membersihkan darah yang memercik di dinding dan lantai.
Kedua mayat dibawa ke kawasan Bintara Jaya, Bekasi Barat, Jawa Barat. Ketika membawa jenazah keluar dari rumah tak seorang pun warga setempat curiga. "Malam itu hujan deras," kata Usman, seorang tetangga Subono. Leo bertugas menyupir mobil pick-up yang biasa dikemudikan Rahmat. Tiba di tempat sepi, Leo dan Adnan menjejalkan jenazah Barkah dan Rahmat di bawah dashboard. Karena jaket Leo tertinggal di dalam mobil, ia dan Adnan lantas memecahkan kaca untuk mengambilnya.
Warga menemukan mobil berisi kedua jenazah, satu jam setelah Leo dan Adnan pergi. Polisi lalu mengerahkan anjing pelacak untuk memburuk jejak, tapi nihil. Pembunuhan akhirnya disimpulkan dilakukan di tempat lain. Kepolisian Resor Metro Bekasi mengambil alih kasus tersebut dari Kepolisian Sektor Bekasi Barat. Dengan bantuan Polda Metro Jaya, selama 50 jam satu demi satu tersangka dapat diciduk di tempat terpisah.(KEN/Widiyaningsih dan Sonny Sigit)