Liputan6.com, Denpasar: Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Gufron, terpidana Kasus Bom Bali tidak keberatan dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Ini berkaitan dengan kabar bahwa pemerintah akan memindahkan Amrozi cs ke sana. "Mau dipindahkan ke pulau burung, pulau hitam, pulau ijo tidak masalah," kata Ali Gufron seusai melaksanakan salat Idul Adha di lapangan olahraga LP Krobokan, Denpasar, Bali, Jumat (21/1). Seluruh narapidana Kasus Bom Bali yang berjumlah 23 orang, termasuk Amrozi dan kawan-kawan ditahan di LP Krobokan.
Salat Id di LP Krobokan, biasanya digelar di dalam aula. Namun kali ini salat dilaksanakan di lapangan sepak bola LP tersebut. Saat Hari Raya Idul Fitri, 14 November tahun silam, Amrozi cs sempat menolak pelaksanaan salat Id di aula dengan alasan tempat itu pernah dipakai perayaan Natal [baca: Ryamizard Ryacudu Salat Id di Aceh].
Kesiapan Amrozi, terpidana mati Kasus Bom Bali, dipindah ke Nusakambangan, tentu meringankan tugas Kepala LP Kerobokan Bromo Setiono. Ia sangat setuju jika Amrozi cs dipindah. Menurut dia, Nusakambangan memiliki fasilitas pengamanan lebih bagus dibanding LP Krobokan. Saat ini, kondisi bangunan LP Krobokan tidak lagi memadai dan minim fasilitas. Banyak tembok yang roboh dan retak. Parahnya lagi, jumlah napi jauh melebihi daya tampung.(AIS/Aries Wicaksono)
Salat Id di LP Krobokan, biasanya digelar di dalam aula. Namun kali ini salat dilaksanakan di lapangan sepak bola LP tersebut. Saat Hari Raya Idul Fitri, 14 November tahun silam, Amrozi cs sempat menolak pelaksanaan salat Id di aula dengan alasan tempat itu pernah dipakai perayaan Natal [baca: Ryamizard Ryacudu Salat Id di Aceh].
Kesiapan Amrozi, terpidana mati Kasus Bom Bali, dipindah ke Nusakambangan, tentu meringankan tugas Kepala LP Kerobokan Bromo Setiono. Ia sangat setuju jika Amrozi cs dipindah. Menurut dia, Nusakambangan memiliki fasilitas pengamanan lebih bagus dibanding LP Krobokan. Saat ini, kondisi bangunan LP Krobokan tidak lagi memadai dan minim fasilitas. Banyak tembok yang roboh dan retak. Parahnya lagi, jumlah napi jauh melebihi daya tampung.(AIS/Aries Wicaksono)