Liputan6.com, Bireun: Sekitar 3.200 pengungsi di Bukit Gelungku, Bireun, Nanggroe Aceh Darussalam, dalam keadaan memprihatinkan. Dari pantauan SCTV, baru-baru ini, para pengungsi tinggal di tenda-tenda darurat yang sebagian besar didirikan sendiri. Tak hanya itu, para pengungsi yang berasal dari enam desa di Kecamatan Samalanga ini juga kekurangan air bersih.
Untuk minum, mereka hanya mengandalkan bantuan air kemasan. Sedangkan untuk cuci dan mandi, mereka terpaksa mengambil dari sumber air yang jaraknya cukup jauh. Kondisi ini karena pemerintah daerah setempat belum menyediakan bak penampungan air.
Hal serupa juga dialami lebih dari 2.800 warga Desa Telaga Tujuh, Kota Langsa, Aceh Timur, yang tinggal di pengungsian. Selain kekurangan air bersih dan keadaan lingkungan yang kotor, mereka terpaksa hidup berdesak-desakan karena tempat penampungan terbatas.
Para pengungsi ini tinggal di gedung sekolah, gedung penampungan udang, gardu jaga atau menumpang di rumah warga. Mereka yang umumnya keluarga nelayan ini menolak dipindahkan ke sebuah bangunan di dekat pelabuhan yang lebih layak. Alasannya, mereka masih trauma tinggal di dekat laut. Hal ini menyebabkan proses belajar mengajar di sebuah sekolah yang ditempati tak bisa berjalan. Untuk mengatasinya, pemda setempat berencana merelokasi pengungsi ke Desa Kuala [baca: Bantuan untuk NAD Masih Menumpuk].
Meulaboh, Aceh Barat, kini tidak terisolir lagi. Namun, distribusi bantuan di sana belum lancar. Untuk menuju ke lokasi pengungsi di Kecamatan Arungan, Meulaboh, para relawan dan aparat keamanan harus menggunakan perahu kecil untuk menyeberangi sungai. Ini dikarenakan jalan dan jembatan rusak parah akibat gelombang Tsunami. Mengingat para pengungsi sangat memerlukan bantuan pangan, sandang, dan tenaga medis, para relawan dan aparat TNI terus berupaya menembus lokasi pengungsian [baca: Di Meulaboh, Hanya Satu Dermaga yang Beroperasi].
Sebanyak 52 tenaga medis gabungan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Korean Medical Association diberangkatkan dari Jakarta ke Nanggroe Aceh Darussalam, Jumat siang. Tim dari IDI terdiri dari ahli spesialis bedah, anestesi, forensik, dan internis. Sedangkan tim Korean Medical Association mengirimkan dokter dan pelajar medik. Para tim medis ini juga dilengkapi alat-alat kedokteran dan 12 ton obat-obatan.
Ketua IDI Farid Anfasa Muluk mengatakan penanganan fisik yang menjadi tugas utama mereka di Aceh. Hal ini dilakukan agar penyakit menular tidak menyebar. Untuk itu, imunisasi, penyediaan air bersih, sanitasi lingkungan, dan pemberian gizi yang cukup akan dilakukan di sana. Langkah selanjutnya, IDI akan bekerja sama dengan lembaga psikologi untuk mengobati luka trauma warga korban Tsunami.
Untuk menyembuhkan luka trauma para korban gempa dan Tsunami, 10 paranormal dari Pati, Jateng, juga akan berangkat ke Aceh. Rombongan ini akan dipimpin Iman Suroso. Namun, rombongan masih memilih hari yang baik untuk berangkat. Menurut rencana, mereka akan tinggal sesuai dengan kebutuhan warga Aceh. Di sana, mereka juga akan melakukan ruwatan agar Aceh terbebas dari bencana.
Sebanyak 12 relawan ahli pertukangan bangunan dari Batang, Jawa Tengah, akan berangkat ke Aceh. Mereka akan bertugas selama dua bulan untuk mempercepat pemulihan bangunan pascagempa dan Tsunami di sana. Namun, mereka tidak keberatan untuk memperpanjang masa tugas jika masih diperlukan. Keberangkatan tahap pertama ini akan disusul lagi dengan keberangkatan berikutnya.
Kesulitan mendistribusikan bantuan ke Aceh dan Sumatra Utara terjadi di beberapa daerah. Karena itu, mereka hanya membatasi menerima bantuan berupa uang dan obat-obatan. Hal ini dilakukan Pos Koordinasi bantuan untuk kedua wilayah itu di Bandung, Jawa Barat.
Demikian pula yang dilakukan Pemerintah Daerah Kalimantan Tengah di Palangkaraya. Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana Aceh dan Sumut setempat menolak sumbangan dalam bantuk barang. Pemerintah daerah setempat menyarankan warga memberikan bantuan dalam bentuk uang.(DNP/Tim Liputan 6 SCTV)
Untuk minum, mereka hanya mengandalkan bantuan air kemasan. Sedangkan untuk cuci dan mandi, mereka terpaksa mengambil dari sumber air yang jaraknya cukup jauh. Kondisi ini karena pemerintah daerah setempat belum menyediakan bak penampungan air.
Hal serupa juga dialami lebih dari 2.800 warga Desa Telaga Tujuh, Kota Langsa, Aceh Timur, yang tinggal di pengungsian. Selain kekurangan air bersih dan keadaan lingkungan yang kotor, mereka terpaksa hidup berdesak-desakan karena tempat penampungan terbatas.
Para pengungsi ini tinggal di gedung sekolah, gedung penampungan udang, gardu jaga atau menumpang di rumah warga. Mereka yang umumnya keluarga nelayan ini menolak dipindahkan ke sebuah bangunan di dekat pelabuhan yang lebih layak. Alasannya, mereka masih trauma tinggal di dekat laut. Hal ini menyebabkan proses belajar mengajar di sebuah sekolah yang ditempati tak bisa berjalan. Untuk mengatasinya, pemda setempat berencana merelokasi pengungsi ke Desa Kuala [baca: Bantuan untuk NAD Masih Menumpuk].
Meulaboh, Aceh Barat, kini tidak terisolir lagi. Namun, distribusi bantuan di sana belum lancar. Untuk menuju ke lokasi pengungsi di Kecamatan Arungan, Meulaboh, para relawan dan aparat keamanan harus menggunakan perahu kecil untuk menyeberangi sungai. Ini dikarenakan jalan dan jembatan rusak parah akibat gelombang Tsunami. Mengingat para pengungsi sangat memerlukan bantuan pangan, sandang, dan tenaga medis, para relawan dan aparat TNI terus berupaya menembus lokasi pengungsian [baca: Di Meulaboh, Hanya Satu Dermaga yang Beroperasi].
Sebanyak 52 tenaga medis gabungan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Korean Medical Association diberangkatkan dari Jakarta ke Nanggroe Aceh Darussalam, Jumat siang. Tim dari IDI terdiri dari ahli spesialis bedah, anestesi, forensik, dan internis. Sedangkan tim Korean Medical Association mengirimkan dokter dan pelajar medik. Para tim medis ini juga dilengkapi alat-alat kedokteran dan 12 ton obat-obatan.
Ketua IDI Farid Anfasa Muluk mengatakan penanganan fisik yang menjadi tugas utama mereka di Aceh. Hal ini dilakukan agar penyakit menular tidak menyebar. Untuk itu, imunisasi, penyediaan air bersih, sanitasi lingkungan, dan pemberian gizi yang cukup akan dilakukan di sana. Langkah selanjutnya, IDI akan bekerja sama dengan lembaga psikologi untuk mengobati luka trauma warga korban Tsunami.
Untuk menyembuhkan luka trauma para korban gempa dan Tsunami, 10 paranormal dari Pati, Jateng, juga akan berangkat ke Aceh. Rombongan ini akan dipimpin Iman Suroso. Namun, rombongan masih memilih hari yang baik untuk berangkat. Menurut rencana, mereka akan tinggal sesuai dengan kebutuhan warga Aceh. Di sana, mereka juga akan melakukan ruwatan agar Aceh terbebas dari bencana.
Sebanyak 12 relawan ahli pertukangan bangunan dari Batang, Jawa Tengah, akan berangkat ke Aceh. Mereka akan bertugas selama dua bulan untuk mempercepat pemulihan bangunan pascagempa dan Tsunami di sana. Namun, mereka tidak keberatan untuk memperpanjang masa tugas jika masih diperlukan. Keberangkatan tahap pertama ini akan disusul lagi dengan keberangkatan berikutnya.
Kesulitan mendistribusikan bantuan ke Aceh dan Sumatra Utara terjadi di beberapa daerah. Karena itu, mereka hanya membatasi menerima bantuan berupa uang dan obat-obatan. Hal ini dilakukan Pos Koordinasi bantuan untuk kedua wilayah itu di Bandung, Jawa Barat.
Demikian pula yang dilakukan Pemerintah Daerah Kalimantan Tengah di Palangkaraya. Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana Aceh dan Sumut setempat menolak sumbangan dalam bantuk barang. Pemerintah daerah setempat menyarankan warga memberikan bantuan dalam bentuk uang.(DNP/Tim Liputan 6 SCTV)