Liputan6.com, Jakarta: Gempa yang melahirkan Tsunami di Aceh meninggalkan duka amat dalam. Tak terperikan. Aceh kembali ke titik nol. Persoalan di daerah paling barat Indonesia menjadi problematik. Butuh kerja keras untuk membangun kembali Serambi Mekah.
Mengembalikan Aceh bukan cuma sekadar infrastruktur. Beban psikologis yang harus ditanggung warga di sana pun tak bisa dianggap main-main, terutama bagi anak-anak. Sebagian besar anak di Aceh kini banyak yang menjadi yatim piatu. Sebatang kara, terpisah dari sanak keluarga.
Ya, baru-baru ini, memang banyak orang yang ingin mengadopsi mereka. Tapi tak sedikit pula yang tega memanfaatkan mereka. Bila tak ada langkah taktis dan cepat untuk menanggulangi masalah ini, niscaya anak-anak Aceh tumbuh dan berkembang tanpa kontrol.
Sayang, sampai detik ini, pemerintah belum memberi lampu hijau soal itu. Menteri Sosial Bachtiar Camsyah menegaskan, anak-anak Aceh masih punya kesempatan bertemu keluarga yang kini tercerai-berai. Mekanisme adopsi pun cukup ketat. Menurut dia, penelusuran calon orang tua angkat harus benar-benar dilakukan secara hati-hati.
Kehati-hatian pemerintah mungkin bisa dimaklumi. Namun, sebagian kalangan menilai, pemerintah tak boleh berlama-lama menggantung nasib anak-anak Aceh. Masa depan mereka menjadi taruhannya.
Beberapa kalangan berpendapat, soal status orang tua angkat bagi mereka, sebaiknya pemerintah memprioritaskan masyarakat yang berasal dari Tanah Rencong. Tujuannya agar mereka tak kehilangan akar budayanya [baca: Saatnya Aceh Bangkit].(ICH/Tim Liputan 6 SCTV)
Mengembalikan Aceh bukan cuma sekadar infrastruktur. Beban psikologis yang harus ditanggung warga di sana pun tak bisa dianggap main-main, terutama bagi anak-anak. Sebagian besar anak di Aceh kini banyak yang menjadi yatim piatu. Sebatang kara, terpisah dari sanak keluarga.
Ya, baru-baru ini, memang banyak orang yang ingin mengadopsi mereka. Tapi tak sedikit pula yang tega memanfaatkan mereka. Bila tak ada langkah taktis dan cepat untuk menanggulangi masalah ini, niscaya anak-anak Aceh tumbuh dan berkembang tanpa kontrol.
Sayang, sampai detik ini, pemerintah belum memberi lampu hijau soal itu. Menteri Sosial Bachtiar Camsyah menegaskan, anak-anak Aceh masih punya kesempatan bertemu keluarga yang kini tercerai-berai. Mekanisme adopsi pun cukup ketat. Menurut dia, penelusuran calon orang tua angkat harus benar-benar dilakukan secara hati-hati.
Kehati-hatian pemerintah mungkin bisa dimaklumi. Namun, sebagian kalangan menilai, pemerintah tak boleh berlama-lama menggantung nasib anak-anak Aceh. Masa depan mereka menjadi taruhannya.
Beberapa kalangan berpendapat, soal status orang tua angkat bagi mereka, sebaiknya pemerintah memprioritaskan masyarakat yang berasal dari Tanah Rencong. Tujuannya agar mereka tak kehilangan akar budayanya [baca: Saatnya Aceh Bangkit].(ICH/Tim Liputan 6 SCTV)