Liputan6.com, Jakarta: Azahari menerawang. Tatapannya kosong. Bencana hebat di Aceh yang merenggut kehidupan ayahnya--sementara ibu dan kakaknya belum ditemukan--begitu berbekas di hatinya. Tampaknya dia masih trauma.
Tak banyak yang terucap ketika bocah berusia 11 tahun itu menginjakkan kakinya di Jakarta, baru-baru ini, setelah dijemput sepupunya di Banda Aceh. Azahari lebih banyak diam. Merenungi nasibnya yang begitu pahit.
Azhari, kini, sudah tinggal di Ibu Kota bersama sepupunya. Di tengah kesedihannya, bocah asal Merduati, Banda Aceh ini masih menyimpan harapan semoga sang ibu, Yusriati dan kakaknya, Diana, masih hidup.
Dia bercerita, ketika Tsunami menyapu Banda Aceh, dirinya berlari menyelamatkan diri bersama keluarganya. Karena panik, akhirnya mereka berpisah--Azahari bergabung dengan bapaknya, sementara ibu dan kakaknya terpisah. Tapi, menurut Azahari, dua hari setelah bencana bapaknya tewas karena kekurangan oksigen.
Azahari tak punya rencana muluk setelah di Jakarta. Yang terang, dalam waktu dekat dia berencana berobat karena masih merasakan sesak nafas dan luka-luka di kakinya. Selain itu, tak lebih.(ICH/Pris Simon)
Tak banyak yang terucap ketika bocah berusia 11 tahun itu menginjakkan kakinya di Jakarta, baru-baru ini, setelah dijemput sepupunya di Banda Aceh. Azahari lebih banyak diam. Merenungi nasibnya yang begitu pahit.
Azhari, kini, sudah tinggal di Ibu Kota bersama sepupunya. Di tengah kesedihannya, bocah asal Merduati, Banda Aceh ini masih menyimpan harapan semoga sang ibu, Yusriati dan kakaknya, Diana, masih hidup.
Dia bercerita, ketika Tsunami menyapu Banda Aceh, dirinya berlari menyelamatkan diri bersama keluarganya. Karena panik, akhirnya mereka berpisah--Azahari bergabung dengan bapaknya, sementara ibu dan kakaknya terpisah. Tapi, menurut Azahari, dua hari setelah bencana bapaknya tewas karena kekurangan oksigen.
Azahari tak punya rencana muluk setelah di Jakarta. Yang terang, dalam waktu dekat dia berencana berobat karena masih merasakan sesak nafas dan luka-luka di kakinya. Selain itu, tak lebih.(ICH/Pris Simon)