Hasil Uji Sampel Institut Minamata Batal Diumumkan

Hasil uji beberapa sampel dari Teluk Buyat, Bolaang Mongondow, Sulut, yang diteliti di Institut Minamata, Jepang, batal diumumkan ke publik. Pembatalan pengumuman menguatkan dugaan Teluk Buyat Tercemar.

oleh Liputan6Diterbitkan 03 Oktober 2004, 09:25 WIB
Liputan6.com, Bolaang Mongondow: Warga Teluk Buyat, Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, hingga Ahad (3/10), belum mengetahui hasil uji sampel dari Institut Minamata, Jepang. Padahal, hasil tes itu telah dijanjikan akan diumumkan kepada publik oleh Departemen Kesehatan melalui Dinas Kesehatan Sulut di Manado, pekan ini.

Kasus dugaan pencemaran yang terjadi di Teluk Buyat mendapat perhatian dari Institut Minamata, Jepang. Untuk mendapatkan bukti tentang dugaan pencemaran itu, Institut Minamata melakukan uji rambut dan kuku penduduk Teluk Buyat. Selain itu, ikan-ikan hasil tangkapan nelayan di sekitar Teluk Buyat juga diteliti. Penelitian dipimpin profesor Sakamoto.

Pembacaan hasil uji sampel yang semula akan dilakukan di Kantor Dinas Kesehatan setempat dipindahkan ke salah satu rumah sakit di Manado. Sayangnya, pertemuan yang juga dihadiri petugas sejumlah instansi ini tertutup bagi wartawan sehingga hasilnya tak dapat disampaikan ke masyarakat. Pembatalan tanpa alasan jelas ini justru menimbulkan spekulasi di kalangan wartawan bahwa Teluk Buyat memang telah tercemar limbah tailing dari PT Newmont Minahasa Raya seperti yang disampaikan Markas Besar Polri [baca: Kapolri: Teluk Buyat Tercemar].

Apa pun hasil dari uji sampel itu, Surtini merasakan pusing-pusing dan gemetar sejak enam tahun silam. Bahkan, istri seorang nelayan Teluk Buyat ini mengaku pernah terjatuh di rumah dan langsung pingsan. Dia juga harus dirawat sekitar tiga bulan di rumah sakit karena lumpuh.

Dokter Sandra, Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat Ratatotok mengatakan, penyakit Surtini karena perilaku dan pola hidup sehari-hari warga setempat yang kurang memperhatikan kesehatan, bukannya penyakit minamata. Saat ini, Surtini lebih banyak tinggal di rumah. Dia sudah tidak bisa lagi mengerjakan tugas-tugas rumah tangga layaknya seorang istri dan ibu. Pekerjaan memasak dan mencuci sudah digantikan sang suami. Kalaupun ikut membantu, Surtini hanya terbatas pada pekerjaan yang tidak menggunakan tenaga lebih banyak, di antaranya membersihkan dapur, menyapu, rumah dan melipat kain.

Surtini memang tidak menuntut PT Newmont bertanggung jawab atas kondisi yang dialaminya. Wanita tamatan sekolah dasar ini tidak mengerti betul jenis limbah yang dibuang perusahaan pertambangan asal Amerika Serikat itu. Bagi dia, apa pun hasil dari penelitian dan penyelidikan beberapa pimpinan PT Newmont, yang penting penyakit yang dideritanya bisa sembuh.(DNP/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya