Sandosa, Wayang Kulit Perpaduan Tradisional dan Modern

Komunitas Kayon Miring menggelar wayang sandosa, wayang kulit dengan unsur tradisional dan teknologi. Butuh tiga layar lebar untuk pertunjukan. Bahasa yang dipakai juga campuran Jawa dan Indonesia.

oleh Liputan6Diterbitkan 30 September 2004, 09:00 WIB
Liputan6.com, Semarang: Sejumlah seniman muda Kota Surakarta, Jawa Tengah, mencoba mengapresiasikan wayang kulit dengan cara sendiri. Para seniman yang tergabung dalam Komunitas Kayon Miring ini menampilkan wayang sandosa, wayang kulit yang disajikan dengan napas tradisional dan teknologi modern, Rabu (29/9).

Untuk menggelar wayang kulit ini diperlukan tiga layar berukuran 7 x 3,5 meter. Pentas kali ini mengangkat kisah berjudul Kalimataya. Lakon yang bertutur tentang suasana Kerajaan Hastina Pura Pascaperang Barata Yudha.

Berbeda dengan wayang kulit pada umumnya, wayang sandosa tidak ditanggap semalam suntuk. Pertunjukan cuma berlangsung dua jam. Dalang juga menggunakan bahasa Jawa dan Indonesia sehingga mereka yang tidak paham Bahasa Jawa pun bisa memahami isi cerita.

Sebenarnya, wayang sandosa sudah pernah dilakukan pada 1981 oleh dalang muda Nanang Hape. Tapi, tidak berlanjut. Baru pada tahun ini, sepuluh seniman mencoba menyajikan kembali wayang sandosa. Ini adalah pentas perdana mengawali tur kelompok ini di enam kota.(TNA/Yudi Sutomo dan Taufan Yudho)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya