Desa Terapung Terakhir Suku Bajo

Sejak ratusan tahun lampau, warga Suku Bajo hidup di atas laut dan membangun perkampungan terapung. Desa terapung itu kemungkinan hanya tersisa di Desa Bangko, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.

oleh Liputan6Diterbitkan 11 September 2004, 17:57 WIB
Liputan6.com, Muna: Nenek moyang bangsa Indonesia dikenal seantero dunia sebagai pelaut ulung. Julukan itu agaknya masih melekat pada keseharian masyarakat Suku Bajo di Sulawesi. Sejak ratusan tahun lampau, warga Bajo memang hidup di atas laut. Dengan hanya menggunakan perahu, mereka piawai mengarungi gelombang demi gelombang tanpa mengenal lelah. Hingga akhirnya, para pendahulu Suku Bajo membangun permukiman di permukaan samudra.

Kini, salah satu permukiman unik Suku Bajo yang tersisa dapat dilihat di Desa Bangko, Kecamatan Maginti, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Mungkin, desa itu adalah gambaran terakhir dari suku yang tersohor sebagai pengembara lautan. Boleh jadi, inilah satu-satunya desa di Indonesia yang tak mempunyai daratan dan sumber air bersih. Mereka pun tak mengenal rindangnya pepohonan.

Bayangkan, segenap warga Bajo hidup di atas papan-papan kayu yang ditopang ratusan patok kayu yang menancap ke dalam lautan. Desa seluas enam hektare ini terletak di sebuah teluk di Selat Buton. Konon, perkampungan di atas laut ini dibangun sekitar abad XVI.

Awalnya, desa terapung itu berfungsi sebagai persinggahan sementara bagi Suku Bajo. Namun, lama-kelamaan berubah menjadi desa permanen yang jumlah penghuninya sekarang mencapai 1.121 orang. Sebelum menetap di tempat-tempat permanen seperti di Desa Bangko ini, warga Suku Bajo hidup mengembara di atas perahu. Mereka menyebar di seputar lautan Indonesia timur, Kalimantan, Sumatra hingga ke perairan Australia. Pusat penyebaran berada di Sulawesi Selatan.

Di mata orang Bajo, laut adalah segalanya. Mereka memandang laut sebagai satu-satunya sumber penghidupan. Sejak ratusan tahun lampau, orang Bajo memandang laut sebagai lahan mencari nafkah, tempat tinggal, serta beranak-pinak. Pandangan seperti ini dijumpai pula pada Suku Tambus atau biasa disebut Suku Laut di perairan Riau [baca: Suku Laut &quotBerlayar&quot di Abad Industri ]. Seperti halnya Suku Bajo, warga Suku Laut juga hidup di atas perahu. Baik orang Bajo maupun Suku Tambus adalah nelayan tradisional yang mampu memanfaatkan kekayaan laut untuk bertahan hidup.

Kehidupan Suku Bajo memang unik dan mengundang ketertarikan sejumlah peneliti. Kamaruddin Tanzibar, misalnya. Kamaruddin mengungkapkan, berdasarkan versi lontar (naskah kuno yang ditulis di daun lontar), Suku Bajo berasal dari wilayah sebelah selatan dan tenggara Kairo, Mesir. Syahdan, Malaikat Jibril menurunkan hujan dan membuat si nenek moyang Bajo ketiduran di perahu. Mereka akhirnya terdampar di daerah Luwuk, Sulawesi Tengah. Selanjutnya, para pendahulu Suku Bajo terus berkembang dan berinteraksi dengan sejumlah suku di Kerajaan Bone dan Gowa.

Seiring perkembangan zaman, Suku Bajo yang tinggal di atas perahu sudah tak bisa dijumpai lagi. Bahkan, tak sedikit warga Bajo yang sama sekali meninggalkan kehidupan lautnya sebagai nelayan. Barangkali hanya di Desa Bangko itulah, kebiasaan hidup melaut yang diwariskan para leluhur Suku Bajo masih dijalankan. Ini lantaran sejumlah pemerintah daerah berinisiatif merelokasi Suku Bajo ke daratan. Sebagai contoh adalah perkampungan terapung Suku Bajo di Dusun Bajo, Kecamatan Tanete Riatang, Kabupaten Watampone, Sulsel [baca: Sebuah Kesahajaan Suku Bajo]. Memang, satu demi satu perkampungan terapung Suku Bajo terkikis zaman. Boleh jadi, Desa Bangko di Kabupaten Muna, Sultra, itu adalah yang tersisa.

Di perkampungan terapung tersebut, remaja Suku Bajo mengisi waktu senggangnya dengan berkumpul di sudut desa. Biasanya, mereka berkumpul sembari memainkan musik gambus. Jenis musik itu adalah salah satu hiburan yang disukai anak-anak muda di sana. Konon, irama padang pasir ini sudah dikenal Suku Bajo sejak dahulu kala. Nah, keberadaan musik gambus di tengah masyarakat suku laut tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa nenek moyang mereka berasal dari Negeri Piramida. Ini seperti yang termaktub dalam lontar tua asal Kerajaan Bone.

Di sudut lain, anak-anak sibuk bermain dengan koli-koli atau sampan kecil. Mainan yang telah dikenal mereka sejak lahir. Keakraban dengan laut menyebabkan bocah-bocah ini tampak begitu lincah bermain di atas air. Anak lelaki yang paling lincah berenang dan bermain sampan adalah Naking. Dia cukup populer mengingat satu-satunya anak di desa ini yang mempunyai prestasi besar: juara renang antar-Sekolah Dasar se-Kabupaten Muna.

Naking adalah putra sulung dari empat anak pasangan suami istri Aking dan Sinna. Saat ini, dia duduk di bangku kelas enam SD Bangko. Ia bercita-cita melanjutkan sekolahnya ke sekolah lanjutan tingkat pertama setelah lulus nanti. Namun apa daya, sang ayah justru berkehendak lain. Aking berharap anak lelakinya itu dapat membantunya menjadi penopang ekonomi keluarga setelah menamatkan pelajaran di SD.

Itu artinya, Naking tak akan mempunyai kesempatan untuk melanjutkan sekolahnya ke tingkat yang lebih tinggi. &quotCita-cita saya jadi polisi, tapi orang tua saya tidak mampu. Lebih penting membantu orang tua. Jadi saya pasrahkan diri. Tetapi Insya Allah cita-cita saya tercapai,&quot ucap Naking, lirih.

Selain alasan ekonomi, orang Bajo umumnya memang menganggap pendidikan tidak begitu penting. Mereka beranggapan bahwa laut yang sangat luas itu sudah sangat cukup menghidupi mereka sehingga tak perlu bersusah payah lagi untuk sekolah. Bagi mereka, bisa baca tulis saja dianggap sudah memadai.

Kondisi inilah yang ingin diubah oleh Ahmad, guru Naking. Ahmad adalah satu di antara tiga guru yang mengajar di satu-satunya sekolah yang ada di Desa Bangko. Pak guru inilah yang memotivasi Naking agar bercita-cita setinggi langit. Sebagai murid yang paling berbakat, Naking diharapkan bisa membawa banyak perubahan di desanya dengan melanjutkan sekolahnya.

Buat menambah semangat Naking agar tetap berkeinginan melanjutkan pendidikan formalnya, Ahmad mensponsponsori Naking untuk mengikuti lomba renang di Raha, ibu kota Kabupaten Muna. Naking pun menjadi juara. Kendati demikian, keinginan Ahmad dan Naking lagi-lagi berbenturan dengan pola pikir orang Bajo yang masih belum melihat pentingnya pendidikan formal.

Keluarga Naking seperti lazimnya warga Bajo lainnya tinggal di sebuah rumah papan yang sangat sederhana. Di rumah ini, Naking tinggal bersama ayah dan ibunya, serta tiga orang saudara perempuan. Sebagai satu-satunya anak lelaki di keluarganya, tentu saja ia menjadi tumpuan harapan orang tua.

Sementara kehidupan masyarakat Bajo yang sangat keras membuat laki-laki lebih dibutuhkan ketimbang perempuan. Ini lantaran kegiatan mencari nafkah di laut memerlukan ketahanan fisik seorang laki-laki. Itulah sebabnya, sejak berusia tujuh tahun, Naking sudah mulai dilibatkan sang ayah untuk ikut mencari rezeki di tengah keganasan ombak samudra. Sepulang sekolah, misalnya, Naking harus segera menyiapkan pukak, bubu, dan berbagai peralatan menangkap ikan lainnya. Begitulah saban hari.

Memang, sejumlah keluarga nelayan Suku Bajo menggantungkan hidup dari hasil melaut di perairan Selat Buton. Dengan teknologi yang tergolong sederhana, sebenarnya, kemampuan mereka untuk mendapatkan ikan hanya cukup untuk keperluan sehari-hari. Ternyata, selama berabad-abad, teknologi menangkap ikan yang dimiliki orang Bajo sama sekali tak mengalami perubahan.

Semenjak nenek moyang mereka masih tinggal di perahu, praktis, tak ada perubahan berarti dalam teknologi penangkapan ikan. Pukak dan bubu masih menjadi sandaran utama. Teknologi sederhana semacam inilah yang kini juga diajarkan kepada Naking dan anak-anak sebayanya. Alhasil, tangkapan laut mereka pun tak seberapa. Kondisi ini jelas tak bisa mendongkrak taraf hidup para nelayan tersebut.

Demikian pula Aking. Setiap hari, ikan hasil tangkapannya juga tak begitu banyak. Biasanya, ayah Naking ini menjual ikan kepada Hasan, orang Bajo asli yang tampaknya lebih maju dari penduduk di kampungnya. Dialah satu-satunya warga Suku Bajo di Desa Bangko yang banting setir menjadi pedagang.

Uang yang diperoleh Aking dari Hasan tidak seberapa, hanya sekitar Rp 7.000 per hari. Dengan duit sebesar inilah, Aking menghidupi keluarga. Duit sekecil itu hanya bisa digunakan untuk membeli air bersih dan sedikit beras. Tak mengherankan, bila Aking enggan merestui anaknya melanjutkan sekolah. Karena untuk bersekolah diperlukan biaya yang tidak sedikit.

Agaknya garis nasib Naking tak bisa diubah lagi. Setelah lulus SD nanti, Naking pun akan kembali menjalani siklus kehidupan sang ayah, seperti juga para nenek moyangnya. Melaut dan melaut dengan hasil apa adanya. Mencari nafkah hanya untuk sekadar bertahan hidup. Mereka mungkin pasrah. Namun di balik kepasrahan tersebut, Naking masih menyimpan asa. Harapan akan kehidupan yang lebih baik. Terutama untuk mengubah nasib dirinya, keluarganya, dan kaumnya.

Dengan tekad bulat menggapai cita-cita, ia pun giat belajar. Di bawah sinar temaram lampu minyak yang kian lama semakin redup, Naking berharap masa depan lebih cerah. Boleh jadi, ia pun teringat sebuah lagu yang diajarkan sang guru di sekolah. Nenek moyangku seorang pelaut... Gemar mengarungi luas samudra, menerjang ombak tiada takut, menempuh badai, sudah biasa...(ANS/Sudjatmoko, Heru, dan Binsar Rahardian)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya