Liputan6.com, Purwokerto: Masih ingat kasus Lilis alias Benget Siahaan yang nekat memotong-motong tubuh sang kekasih, Abdul Kadi, satu tahun silam? Kasus mutilasi serupa kembali menghiasi media massa, pertengahan Agustus silam. Kasus paling aktual itu terjadi di Purwokerto, Jawa Tengah. Korbannya bernama Heriadi alias Herry Best yang tak sekadar dibunuh, tetapi badannya juga dipotong-potong. Kepalanya dibuang di sekitar telaga sunyi Batu Raden, sedangkan tubuhnya dilempar ke Waduk Mrica, Banjarnegara. Sebagian badan, tangan, kaki, dan alat kelamin lelaki berperawakan kekar yang terpotong-potong itu hangus.
Kejadian itu kontan membuat geger. Belakangan, diketahui pemilik tubuh tak berkepala adalah Herry, orang kepercayaan mantan Ketua DPRD Banyumas Triwaluyo Basuki. Kerabat dekat Herry tidak percaya korban mudah dilumpuhkan. Sebab, selain mempunyai ilmu silat yang cukup tinggi, ia juga pendiri perguruan bela diri Sakatul Tiger (Best) sehingga dikenal sebagai Herry Best. Sebelum menjadi tenaga keamanan di Terminal Purwokerto, ia bekerja sebagai guru.
Semula, polisi menemui jalan buntu saat memburu pembunuh Herry. Titik terang baru terkuak setelah Acun, bos PO Bus Sinar Jaya, didatangi Agus yang membawa-bawa sebuah kardus bau anyir. Menurut Acun, Agus yang bekas karyawan PO Sinar Jaya, mengaku baru membunuh orang dan memperlihatkan kepala Herry untuk bukti. Acun tidak peduli dan menolak melihat isi kardus.
Beberapa hari kemudian Acun kaget ternyata bungkusan yang pernah ditunjukkan Agus, terpampang di koran. Dari sini kemudian Acun melapor ke polisi. Penyelidikan langsung terarah ke rumah keluarga Sony, ayah Agus, tak jauh dari Markas Polres Banyumas. Ketika digerebek, polisi menemukan sejumlah barang bukti berupa batu, pisau daging, tape recorder, dan kulkas. Di sana, Sony dan ketiga anaknya, Agus, Abdul Gani, dan Bowo diciduk. Sutirah, istri Sony pun digiring ke kantor polisi [baca: Empat Pelaku Mutilasi di Purwokerto Ditangkap].
Ketika ditemui di Markas Polres Banyumas, keempat pelaku tampak biasa-biasa saja. Wajah mereka tanpa ekspresi menyesal atau takut. Sony mengungkapkan, pembunuhan terhadap Herry dilakukan oleh ketiga anaknya, karena korban sering memalak. Lelaki renta ini mengaku hanya membantu membuang kepala Herry untuk menutupi perbuatan anaknya. "Karena sudah terjadi pembantaian itu, jadi saya inisiatif ingin membuang [kepala korban]," kata Sony.
Menurut Sony, malam itu, seperti biasa Herry datang ke rumah di Kelurahan Mersi, Purwokerto. Agus kemudian mengajak korban mengobrol di kamar. Herry bermaksud meminjam uang Rp 100.000 untuk membeli pulsa telepon genggam kepada Agus, tapi tersangka mengaku tidak punya duit. Entah kenapa, Herry malah emosi dan menyikut dagu Agus sampai pingsan. "Saya sudah nggak punya uang, terus dia sikat saya," kata Agus, ringan. Abdul Ghani kebetulan melihat dan langsung mengambil batu di depan rumah dan memukul kepala Herry dari belakang. Bak dirasuki setan, Ghani menyuruh Bowo untuk mengambil pisau daging.
Kepala Herry ditebas Ghani sampai putus. Ia lantas menghirup darah dari leher korban dan meminta Agus serta Bowo juga berbuat sama. Ghani sudah benar-benar hilang akal. Dengan menggunakan pisau, ia membelah dada Herry dan memakan jantungnya. Namun, Ghani mengaku hanya mencicipi gumpalan darah yang membeku bukan jantung. Tak hanya itu. Ghani memotong-motong kedua tangan dan kaki Herry hingga putus. "Saya waktu itu mabuk berat. Saya khilaf sepertinya binatang nggak ingat itu manusia," aku Ghani.
Potongan tubuh Herry dimasukkan ke dalam kantong plastik dan disimpan di gudang, sedangkan kepalanya ditaruh di kulkas. Setelah mendapat mobil sewaan, mereka membawa potongan badan korban dan membakarnya di kawasan Waduk Mrica, Banjarnegara, sekitar 1,5 jam dari rumah. Aksi keji itu dilakukan di bawah jembatan yang sunyi. Sebelumnya, potongan tubuh Herry dibubuhi kopi dan dijejali plastik. Setelah membuang mayatnya, kakak beradik itu pulang ke rumah.
Sementara Sutirah mengaku sempat terbangun mendengar suara ribut-ribut dari dalam rumah. Lantas, ia melihat ketiga anaknya tengah memotong-motong badan seseorang. "Saya ke belakang, karena nggak kuat ngeliatnya," kata Sutirah. Perempuan separuh baya ini tidak menduga Agus, Abdul Ghani, dan Bowo bisa berbuat sesadis itu. Dia menduga epilepsi Ghani kambuh saat menjagal Herry. Ghani menderita epilepsi sejak umur 18 tahun setelah jatuh dari pohon jambu.
Sehari setelah kejadian itu, Sony terkejut melihat ada kepala manusia di dalam kulkas. Sony yang mengetahui perbuatan ketiga anaknya lantas meminjam sepeda motor. Kepala Herry dibuang ke daerah Batu Raden, Purwokerto. Dia berharap perbuatan keji itu tak terungkap. Namun, Sony salah menduga.
Untuk sementara, keempat tersangka dituduh melakukan pembunuhan spontan dan tidak berencana sesuai Pasal 338 Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Namun, Kepala Polres Banyumas Ajun Komisaris Polisi Erwin Triwanto mengatakan, para tersangka bisa terancam pidana pembunuhan berencana jika bukti-bukti menunjang. Polisi masih memburu dua orang lagi yang diduga ikut menyaksikan pembunuhan Herry. Dugaan ini diperkuat pernyataan Hamid, putra sulung Herry, bahwa ayahnya mempunyai ilmu silat tinggi dan tidak mungkin dibunuh hanya oleh tiga orang.(KEN/Tim Derap Hukum)
Kejadian itu kontan membuat geger. Belakangan, diketahui pemilik tubuh tak berkepala adalah Herry, orang kepercayaan mantan Ketua DPRD Banyumas Triwaluyo Basuki. Kerabat dekat Herry tidak percaya korban mudah dilumpuhkan. Sebab, selain mempunyai ilmu silat yang cukup tinggi, ia juga pendiri perguruan bela diri Sakatul Tiger (Best) sehingga dikenal sebagai Herry Best. Sebelum menjadi tenaga keamanan di Terminal Purwokerto, ia bekerja sebagai guru.
Semula, polisi menemui jalan buntu saat memburu pembunuh Herry. Titik terang baru terkuak setelah Acun, bos PO Bus Sinar Jaya, didatangi Agus yang membawa-bawa sebuah kardus bau anyir. Menurut Acun, Agus yang bekas karyawan PO Sinar Jaya, mengaku baru membunuh orang dan memperlihatkan kepala Herry untuk bukti. Acun tidak peduli dan menolak melihat isi kardus.
Beberapa hari kemudian Acun kaget ternyata bungkusan yang pernah ditunjukkan Agus, terpampang di koran. Dari sini kemudian Acun melapor ke polisi. Penyelidikan langsung terarah ke rumah keluarga Sony, ayah Agus, tak jauh dari Markas Polres Banyumas. Ketika digerebek, polisi menemukan sejumlah barang bukti berupa batu, pisau daging, tape recorder, dan kulkas. Di sana, Sony dan ketiga anaknya, Agus, Abdul Gani, dan Bowo diciduk. Sutirah, istri Sony pun digiring ke kantor polisi [baca: Empat Pelaku Mutilasi di Purwokerto Ditangkap].
Ketika ditemui di Markas Polres Banyumas, keempat pelaku tampak biasa-biasa saja. Wajah mereka tanpa ekspresi menyesal atau takut. Sony mengungkapkan, pembunuhan terhadap Herry dilakukan oleh ketiga anaknya, karena korban sering memalak. Lelaki renta ini mengaku hanya membantu membuang kepala Herry untuk menutupi perbuatan anaknya. "Karena sudah terjadi pembantaian itu, jadi saya inisiatif ingin membuang [kepala korban]," kata Sony.
Menurut Sony, malam itu, seperti biasa Herry datang ke rumah di Kelurahan Mersi, Purwokerto. Agus kemudian mengajak korban mengobrol di kamar. Herry bermaksud meminjam uang Rp 100.000 untuk membeli pulsa telepon genggam kepada Agus, tapi tersangka mengaku tidak punya duit. Entah kenapa, Herry malah emosi dan menyikut dagu Agus sampai pingsan. "Saya sudah nggak punya uang, terus dia sikat saya," kata Agus, ringan. Abdul Ghani kebetulan melihat dan langsung mengambil batu di depan rumah dan memukul kepala Herry dari belakang. Bak dirasuki setan, Ghani menyuruh Bowo untuk mengambil pisau daging.
Kepala Herry ditebas Ghani sampai putus. Ia lantas menghirup darah dari leher korban dan meminta Agus serta Bowo juga berbuat sama. Ghani sudah benar-benar hilang akal. Dengan menggunakan pisau, ia membelah dada Herry dan memakan jantungnya. Namun, Ghani mengaku hanya mencicipi gumpalan darah yang membeku bukan jantung. Tak hanya itu. Ghani memotong-motong kedua tangan dan kaki Herry hingga putus. "Saya waktu itu mabuk berat. Saya khilaf sepertinya binatang nggak ingat itu manusia," aku Ghani.
Potongan tubuh Herry dimasukkan ke dalam kantong plastik dan disimpan di gudang, sedangkan kepalanya ditaruh di kulkas. Setelah mendapat mobil sewaan, mereka membawa potongan badan korban dan membakarnya di kawasan Waduk Mrica, Banjarnegara, sekitar 1,5 jam dari rumah. Aksi keji itu dilakukan di bawah jembatan yang sunyi. Sebelumnya, potongan tubuh Herry dibubuhi kopi dan dijejali plastik. Setelah membuang mayatnya, kakak beradik itu pulang ke rumah.
Sementara Sutirah mengaku sempat terbangun mendengar suara ribut-ribut dari dalam rumah. Lantas, ia melihat ketiga anaknya tengah memotong-motong badan seseorang. "Saya ke belakang, karena nggak kuat ngeliatnya," kata Sutirah. Perempuan separuh baya ini tidak menduga Agus, Abdul Ghani, dan Bowo bisa berbuat sesadis itu. Dia menduga epilepsi Ghani kambuh saat menjagal Herry. Ghani menderita epilepsi sejak umur 18 tahun setelah jatuh dari pohon jambu.
Sehari setelah kejadian itu, Sony terkejut melihat ada kepala manusia di dalam kulkas. Sony yang mengetahui perbuatan ketiga anaknya lantas meminjam sepeda motor. Kepala Herry dibuang ke daerah Batu Raden, Purwokerto. Dia berharap perbuatan keji itu tak terungkap. Namun, Sony salah menduga.
Untuk sementara, keempat tersangka dituduh melakukan pembunuhan spontan dan tidak berencana sesuai Pasal 338 Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Namun, Kepala Polres Banyumas Ajun Komisaris Polisi Erwin Triwanto mengatakan, para tersangka bisa terancam pidana pembunuhan berencana jika bukti-bukti menunjang. Polisi masih memburu dua orang lagi yang diduga ikut menyaksikan pembunuhan Herry. Dugaan ini diperkuat pernyataan Hamid, putra sulung Herry, bahwa ayahnya mempunyai ilmu silat tinggi dan tidak mungkin dibunuh hanya oleh tiga orang.(KEN/Tim Derap Hukum)