Liputan6.com, Banjarmasin: Sejak memasuki musim kemarau Juli silam, debit Sungai Barito di Kalimantan Selatan terus menyusut. Kedalaman air yang berkurang dari lima meter pada kondisi normal menjadi sekitar dua meter mengakibatkan jalur pelayaran yang menuju Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, terhambat. Demikian hasil pantauan SCTV dari Banjarmasin, Kalsel, Selasa (7/9).
Kapal-kapal berukuran besar tidak bisa merapat sampai ke pelabuhan sehingga terpaksa menunggu air pasang. Akibatnya distribusi barang dari Pulau Jawa terlambat. Khawatir bahan makanan membusuk, beberapa kapal melakukan bongkar muat di tengah sungai. Buntutnya, harga kebutuhan pokok di beberapa daerah menjadi mahal.
Kondisi serupa juga dialami warga di hulu Sungai Kahayan, Kalimantan Tengah. Masyarakat yang tinggal di pinggiran sungai seperti sebagian wilayah Kota Palangkaraya, Kabupaten Pulang Pisau, dan Kabupaten Gunung Mas mengeluhkan harga barang kebutuhan pokok terus naik. Ini terjadi sejak debit air Sungai Kahayan terus turun. [baca: Debit Kahayan Menyusut, Harga Sembako Melonjak].
Kenaikan harga kebutuhan pokok di dua daerah tersebut akibat ongkos operasional membengkak. Pasalnya, jumlah barang yang diangkut hanya sedikit. Waktu tempuh dengan menggunakan kapal kecil juga menjadi lebih lama satu hari menjadi tiga hari.
Samsiah, seorang pedagang kebutuhan pokok di Desa Muara Rungan, Palangkaraya, mengaku harus mengeluarkan ongkos angkut barang lebih besar. Samsiah akhirnya menaikkan harga barang dagangan. Beras yang semula hanya Rp 2.700 per kilogram menjadi Rp 3.000 per kg. Gula pasir yang sebelum musim kemarau seharga Rp 4.200 menjadi Rp 5.000 per kg. Sementara, minyak tanah naik dari Rp 1.200 menjadi Rp 1.600 per liter dan solar kini dijual Rp 2.700 per liter dari harga semula Rp 2.200 per liter.(TOZ/Ririen Binti dan Emir Feisal)
Kapal-kapal berukuran besar tidak bisa merapat sampai ke pelabuhan sehingga terpaksa menunggu air pasang. Akibatnya distribusi barang dari Pulau Jawa terlambat. Khawatir bahan makanan membusuk, beberapa kapal melakukan bongkar muat di tengah sungai. Buntutnya, harga kebutuhan pokok di beberapa daerah menjadi mahal.
Kondisi serupa juga dialami warga di hulu Sungai Kahayan, Kalimantan Tengah. Masyarakat yang tinggal di pinggiran sungai seperti sebagian wilayah Kota Palangkaraya, Kabupaten Pulang Pisau, dan Kabupaten Gunung Mas mengeluhkan harga barang kebutuhan pokok terus naik. Ini terjadi sejak debit air Sungai Kahayan terus turun. [baca: Debit Kahayan Menyusut, Harga Sembako Melonjak].
Kenaikan harga kebutuhan pokok di dua daerah tersebut akibat ongkos operasional membengkak. Pasalnya, jumlah barang yang diangkut hanya sedikit. Waktu tempuh dengan menggunakan kapal kecil juga menjadi lebih lama satu hari menjadi tiga hari.
Samsiah, seorang pedagang kebutuhan pokok di Desa Muara Rungan, Palangkaraya, mengaku harus mengeluarkan ongkos angkut barang lebih besar. Samsiah akhirnya menaikkan harga barang dagangan. Beras yang semula hanya Rp 2.700 per kilogram menjadi Rp 3.000 per kg. Gula pasir yang sebelum musim kemarau seharga Rp 4.200 menjadi Rp 5.000 per kg. Sementara, minyak tanah naik dari Rp 1.200 menjadi Rp 1.600 per liter dan solar kini dijual Rp 2.700 per liter dari harga semula Rp 2.200 per liter.(TOZ/Ririen Binti dan Emir Feisal)