Liputan6.com, Jakarta: Sejumlah tokoh nasional seperti Fahmi Idris, Meilono Soewondo, Djafar Badjeber, dan Sophan Sophiaan mendeklarasikan Aliansi Masyarakat untuk Perubahan di Gedung Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta Pusat, Selasa (31/8). Meski menepis sebutan sebagai bentuk dukungan terhadap pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, aliansi menghendaki adanya perubahan dari pemerintahan sekarang.
Menurut Ketua Aliansi Masyarakat untuk Perubahan Bara Hasibuan, forum ini berdiri dilandasi keprihatinan sejumlah tokoh nasional terhadap pemerintahan sekarang dalam menjalankan demokrasi. Sebab demokrasi masih ditafsirkan dalam penggiringan suara masyarakat oleh elite politik melalui dukungan terhadap salah satu calon presiden. "Koalisi yang dibentuk oleh PDIP dan Golkar itu mempertahankan status quo," tambah mantan kader Partai Kebangkitan Bangsa itu.
Lebih jauh, Bara Hasibuan menyebutkan adanya kecenderungan dari penguasa sekarang untuk menggunakan aparat birokrasi dan kepolisian sebagai alat kampanye. "Untuk mendapatkan suara pada pilpres nanti," jelas Bara Hasibuan. Selain itu, pihaknya juga menemukan indikasi kemungkinan terjadinya kecurangan pada proses penghitungan suara pemilihan presiden putaran kedua.(TOZ/Aldi Yarman dan Dwi Firmansyah)
Menurut Ketua Aliansi Masyarakat untuk Perubahan Bara Hasibuan, forum ini berdiri dilandasi keprihatinan sejumlah tokoh nasional terhadap pemerintahan sekarang dalam menjalankan demokrasi. Sebab demokrasi masih ditafsirkan dalam penggiringan suara masyarakat oleh elite politik melalui dukungan terhadap salah satu calon presiden. "Koalisi yang dibentuk oleh PDIP dan Golkar itu mempertahankan status quo," tambah mantan kader Partai Kebangkitan Bangsa itu.
Lebih jauh, Bara Hasibuan menyebutkan adanya kecenderungan dari penguasa sekarang untuk menggunakan aparat birokrasi dan kepolisian sebagai alat kampanye. "Untuk mendapatkan suara pada pilpres nanti," jelas Bara Hasibuan. Selain itu, pihaknya juga menemukan indikasi kemungkinan terjadinya kecurangan pada proses penghitungan suara pemilihan presiden putaran kedua.(TOZ/Aldi Yarman dan Dwi Firmansyah)