Liputan6.com, Jakarta: Penduduk Jakarta menggelar beragam acara untuk memperingati Hari Ulang Tahun ke-59 RI, Selasa (17/8). Ratusan veteran dan pensiunan pegawai negeri sipil, misalnya. Mereka mengikuti rekonstruksi upacara bendera seperti saat Proklamasi dibacakan oleh Soekarno pada 17 Agustus 1945 di Tugu Proklamasi. Uniknya upacara tidak dipimpin seorang komandan, lumrahnya upacara bendera. Acara itu hanya dipandu seorang protokol.
Kendati begitu, para veteran tetap khidmat mengikuti upacara. Dengan keperkasaan yang tersisa, mereka mengambil posisi hormat saat bendera Merah Putih dikibarkan. Sebagian veteran ikut menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya setelah bendera terpasang di puncak tiang. Meski rekonstruksi upacara tak terlalu sempurna, para bekas pejuang merasa senang. Perbedaan dengan upacara aslinya cuma secuil, yaitu pengibar bendera ketika itu mengenakan busana tradisional Jepang, bukan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra).
Hari Kemerdekaan juga diperingati sejumlah tukang sapu dan seniman jalanan. Sejak pukul 08.00 WIB, puluhan tukang sapu dan pengamen berkumpul di Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta Selatan. Mereka antusias mengikuti upacara bendera meski berpakaian ala kadarnya. Acara ditutup doa bersama dipimpin Anton Baret, seorang seniman jalanan. Anton membaca doa dengan menembangkan bahasa Jawa. Inti doa itu berisi permohonan agar Indonesia diberi keselamatan Tuhan Yang Esa.
Kelompok penyanyi jalanan memang getol melaksanakan upacara setiap 17 Agustus. Menurut mereka, ini sudah menjadi tradisi sejak 22 tahun silam. Rencananya, para seniman akan mengadakan pentas seni menghibur penyapu jalanan dan gelandangan, nanti malam.
Di Kantor Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan, Manggarai, Jakarta Selatan, warga Desa Buyat tak mau ketinggalan merayakan HUT RI. Berbagai kegiatan khas Hari Kemerdekaan digelar. Ada lomba makan kerupuk dan panjat pinang. Bedanya, bukan hadiah yang digantung di puncak batang pinang, tapi ikan kertas berbintik-bintik seolah sakit lantaran tercemar limbah. Hanya satu ikan yang bersih. Dan, ikan itulah yang harus ditangkap.
Melalui panjat pinang berhadiah ikan "sakit", mereka ingin menyampaikan pesan agar penyelidikan pencemaran Teluk Buyat dituntaskan [baca: Hasil Penelitian Mabes Polri Disambut Baik]. Jeni Rorong, seorang warga Buyat berharap pemerintah transparan soal pencemaran Teluk Buyat di Bolaang Mongondow, Sulawesi Selatan. Selain panjat pinang, kaum ibu dan anak-anak mengikuti lomba makan kerupuk.(KEN/Tim Liputan 6 SCTV)
Kendati begitu, para veteran tetap khidmat mengikuti upacara. Dengan keperkasaan yang tersisa, mereka mengambil posisi hormat saat bendera Merah Putih dikibarkan. Sebagian veteran ikut menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya setelah bendera terpasang di puncak tiang. Meski rekonstruksi upacara tak terlalu sempurna, para bekas pejuang merasa senang. Perbedaan dengan upacara aslinya cuma secuil, yaitu pengibar bendera ketika itu mengenakan busana tradisional Jepang, bukan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra).
Hari Kemerdekaan juga diperingati sejumlah tukang sapu dan seniman jalanan. Sejak pukul 08.00 WIB, puluhan tukang sapu dan pengamen berkumpul di Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta Selatan. Mereka antusias mengikuti upacara bendera meski berpakaian ala kadarnya. Acara ditutup doa bersama dipimpin Anton Baret, seorang seniman jalanan. Anton membaca doa dengan menembangkan bahasa Jawa. Inti doa itu berisi permohonan agar Indonesia diberi keselamatan Tuhan Yang Esa.
Kelompok penyanyi jalanan memang getol melaksanakan upacara setiap 17 Agustus. Menurut mereka, ini sudah menjadi tradisi sejak 22 tahun silam. Rencananya, para seniman akan mengadakan pentas seni menghibur penyapu jalanan dan gelandangan, nanti malam.
Di Kantor Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan, Manggarai, Jakarta Selatan, warga Desa Buyat tak mau ketinggalan merayakan HUT RI. Berbagai kegiatan khas Hari Kemerdekaan digelar. Ada lomba makan kerupuk dan panjat pinang. Bedanya, bukan hadiah yang digantung di puncak batang pinang, tapi ikan kertas berbintik-bintik seolah sakit lantaran tercemar limbah. Hanya satu ikan yang bersih. Dan, ikan itulah yang harus ditangkap.
Melalui panjat pinang berhadiah ikan "sakit", mereka ingin menyampaikan pesan agar penyelidikan pencemaran Teluk Buyat dituntaskan [baca: Hasil Penelitian Mabes Polri Disambut Baik]. Jeni Rorong, seorang warga Buyat berharap pemerintah transparan soal pencemaran Teluk Buyat di Bolaang Mongondow, Sulawesi Selatan. Selain panjat pinang, kaum ibu dan anak-anak mengikuti lomba makan kerupuk.(KEN/Tim Liputan 6 SCTV)