Liputan6.com, Jakarta - Survei terbaru Kitco News menunjukkan perbedaan pandangan antara analis Wall Street dan investor ritel mengenai prospek harga emas untuk minggu ini.
Hasil survei memperlihatkan analis Wall Street masih terbelah dalam memprediksi arah pergerakan logam mulia. Sementara itu, mayoritas investor ritel justru optimistis harga emas akan kembali menguat.
Advertisement
Dalam survei yang melibatkan 13 analis, sebanyak empat orang atau 31 persen memperkirakan harga emas akan naik minggu ini. Sebaliknya, lima analis atau 38 persen memprediksi harga emas melemah. Sementara empat analis lainnya atau 31 persen memperkirakan harga bergerak mendatar atau belum dapat menentukan arahnya.
Berbeda dengan Wall Street, investor ritel menunjukkan optimisme lebih besar. Dari 212 suara dalam jajak pendapat daring Kitco, sebanyak 143 responden atau 68 persen memperkirakan harga emas akan naik minggu ini. Sebanyak 15 persen memprediksi penurunan, sedangkan 18 persen memperkirakan harga bergerak konsolidasi.
Analis Berbeda Pandangan soal Prospek Emas
Direktur Pelaksana Bannockburn Global Forex, Marc Chandler, belum yakin harga emas telah mencapai titik terendah. Menurutnya, penurunan di bawah US$ 3.975 per ounce dapat memperkuat kekhawatiran tersebut.
"Saya masih belum yakin emas telah mencapai titik terendah, dan penembusan di bawah US$ 3.975 akan mendukung keraguan saya," ujar Chandler dikutip dari Kitco, Senin (9/11/2026).
Sebaliknya, Kepala Strategi Mata Uang investingLive, Adam Button, memperkirakan harga emas akan meningkat.
"Harga akan lebih tinggi. Pergerakan harga minggu lalu cukup baik meskipun pasar saham mengalami volatilitas yang intens. Faktor musiman yang mendukung emas mulai berlaku sekarang," katanya.
Sementara itu, Presiden Adrian Day Asset Management, Adrian Day, justru memperkirakan harga emas terkoreksi minggu ini. Ia menilai kenaikan setelah pemilu paruh waktu AS terlalu tinggi dan berpotensi terkoreksi.
"Emas melonjak setelah pemilu karena sejumlah alasan kuat, tetapi juga karena ekspektasi berakhirnya perang dengan Iran lebih cepat. Saya menduga optimisme ini berlebihan dan kita bisa melihat sebagian besar kenaikan emas selama minggu lalu terhapus," ujar Day.
Defisit AS dan Pelemahan Dolar Jadi Katalis Emas
Presiden Phoenix Futures and Options, Kevin Grady, memiliki pandangan lebih positif terhadap prospek emas dalam jangka panjang. Menurutnya, rencana belanja pemerintah AS berpotensi memperbesar defisit anggaran dan menekan dolar AS.
"Jika melihat nilai anggaran dari sepertiga kebijakan yang mereka bicarakan, hal itu bisa menghancurkan dolar AS. Pada akhirnya, menurut saya, kondisi tersebut menjadi faktor positif bagi emas," kata Grady.
Sementara itu, Co-Director Commercial Hedging Walsh Trading, John Weyer, memperkirakan harga emas masih berpeluang bergerak naik dalam waktu dekat.
"Saya pikir level US$ 3.900 dan US$ 4.000 akan bertahan. Harga sebelumnya jauh lebih tinggi sehingga level tersebut akan menjadi menarik bagi pembeli," ujarnya.
Analis CPM Group juga merekomendasikan pembelian emas dengan target awal US$ 4.275 dan batas kerugian (stop loss) US$ 3.970 untuk periode 5-20 November.
Namun, tidak semua analis optimistis. Pendiri Moor Analytics, Michael Moor, justru memperkirakan harga emas akan turun minggu ini.
Perbedaan proyeksi tersebut menunjukkan bahwa meskipun mayoritas investor ritel optimistis, arah harga emas masih menyisakan ketidakpastian di kalangan analis profesional.