Liputan6.com, Jakarta - Manchester City memiliki persoalan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengganti pemain atau memperbaiki kesalahan individu. Struktur permainan yang diterapkan Enzo Maresca justru berpotensi menjadi salah satu penyebab utama rapuhnya pertahanan The Citizens musim ini.
Kelemahan tersebut kembali terlihat ketika Man City kalah 1-3 dari Nottingham Forest di City Ground, Minggu (8/11/2026) dini hari WIB. Mereka kebobolan dua gol dalam 18 menit pertama melalui Jair Cunha dan Liam Delap setelah gagal mengantisipasi serangan lawan.
Advertisement
Kekalahan itu sekaligus memperpanjang catatan buruk Man City menjadi tiga kekalahan beruntun di Premier League 2026-27. Salah satu persoalan yang perlu segera dibenahi Maresca adalah penggunaan dua bek sayap yang terlalu agresif sehingga meninggalkan ruang besar ketika tim kehilangan bola.
Dua Bek Sayap Justru Membuka Ruang Kosong
Dalam pertandingan melawan Nottingham Forest, Maresca menurunkan Abdukodir Khusanov sebagai bek kanan dan Josko Gvardiol di sisi kiri. Keduanya mendapat instruksi untuk bergerak ke tengah ketika Man City menguasai bola melalui pendekatan inverted full-back.
Secara taktik, skema tersebut bertujuan menambah jumlah pemain di lini tengah sekaligus membantu proses pembangunan serangan. Namun, penggunaan kedua bek sayap secara bersamaan justru membuat area pertahanan melebar ketika penguasaan bola berpindah ke tangan lawan.
Pada babak pertama, Khusanov dan Gvardiol beberapa kali berada terlalu jauh dari posisi ideal untuk segera kembali membantu pertahanan. Gol pembuka Forest berawal dari kesalahan Gvardiol ketika menguasai bola, sedangkan Delap memanfaatkan ruang terbuka untuk mencetak gol kedua.
Situasi tersebut memaksa bek tengah dan gelandang bertahan menutup area yang terlalu luas. Ketika lawan melakukan transisi dengan cepat, Man City tidak memiliki cukup pemain untuk mengamankan ruang di depan kotak penalti.
Komposisi Lini Tengah Memperbesar Risiko
Masalah taktik Maresca semakin terlihat dari komposisi gelandang yang diturunkan. Ia mengandalkan Elliot Anderson sebagai gelandang bertahan, dengan Enzo Fernandez dan Rayan Cherki menempati posisi lebih depan.
Anderson harus bekerja ekstra untuk menutup ruang ketika Man City kehilangan bola. Sementara itu, Fernandez dan Cherki bukan pemain yang secara alami memiliki kontribusi defensif kuat ketika tim berada dalam situasi transisi.