Liputan6.com, Jakarta - Proses wawancara kerja yang semestinya menjadi pintu masuk karier baru justru dimanfaatkan peretas untuk melancarkan kejahatan siber berskala raksasa. Modus rekayasa sosial (social engineering) ini terungkap dalam kasus pembobolan bursa kripto Binance yang menyebabkan aset digital senilai US$ 6,34 miliar atau sekitar Rp 106 triliun terdampak.
Mengutip CNBC, Minggu (8/11/2026), pihak Binance membeberkan bahwa peretas menyamar sebagai tim perekrut (recruiter) dari perusahaan fiktif. Pelaku menghubungi salah satu karyawan Binance melalui platform pencarian kerja profesional dan menawarkan kesempatan kerja yang tampak sangat meyakinkan.
Advertisement
Untuk meyakinkan korban, peretas membangun kepercayaan lewat beberapa tahapan wawancara. Perekrut palsu tersebut bahkan melakukan panggilan video (video call) serta memperlihatkan akun media sosial berisi foto dan video pribadi agar identitasnya terlihat asli.
Setelah hubungan terbangun, karyawan diminta mengunduh berkas berisi tugas pemrograman (coding task) sebagai bagian dari proses seleksi. Berkas tersebut rupanya telah disusupi kode berbahaya (malware) yang memberikan akses penuh bagi peretas untuk mengontrol komputer korban.
Kronologi Pengintaian Berbulan-bulan
Aksi peretasan terhadap Binance ini ternyata telah dipersiapkan secara matang selama beberapa bulan. Pada Juni 2026, peretas lebih dahulu menargetkan seorang insinyur perangkat lunak Binance yang mengunduh perangkat lunak pengembangan palsu saat mencari alat bantu pemrograman berbasis kecerdasan buatan (AI).
Meski Binance sempat mendeteksi aktivitas mencurigakan tersebut dan mengganti perangkat terdampak, informasi krusial mengenai posisi karyawan serta tim yang mengelola infrastruktur dompet (wallet) kripto perusahaan telanjur bocor ke tangan pelaku.
Berbekal data tersebut, peretas kembali melancarkan serangan pada September 2026 melalui tawaran pekerjaan palsu kepada karyawan lain.
Puncaknya terjadi pada 20 Oktober 2026, ketika pelaku memanfaatkan komputer korban yang telah disusupi untuk meretas sistem dua insinyur lainnya. Sembilan hari kemudian, pada 29 Oktober 2026, kredensial yang dicuri digunakan untuk menjalankan script jahat dan melancarkan serangan langsung ke dompet kripto Binance.
Aset Kripto Terkontaminasi dan Jaminan Ganti Rugi
Dalam serangan kilat tersebut, pelaku berhasil memindahkan 233,46 juta XRP dari lima dompet kripto terhubung internet (hot wallet) hanya dalam durasi sekitar empat menit. Sejumlah aset kripto utama lain, termasuk Bitcoin, turut tersedot dalam transaksi tersebut.
Binance mencatat total aset digital yang terdampak mencapai US$ 6,34 miliar. Beruntung, sistem keamanan perusahaan bersama mitra industri berhasil membekukan serta mencegat sekitar US$ 2,85 miliar dari total aset yang disasar.
Manajemen Binance menegaskan akan menanggung penuh seluruh dampak finansial dari insiden ini dan menjamin penggantian kerugian bagi para pengguna yang terdampak. Perusahaan juga mencatat telah memblokir sedikitnya 57 ancaman siber yang terindikasi berkaitan dengan kelompok peretas asal Korea Utara sepanjang tahun 2026.
Biro Investigasi Federal AS (FBI) mengaitkan peretasan ini dengan kelompok hacker yang terafiliasi dengan pemerintah Korea Utara, meski tuduhan tersebut dibantah oleh pihak Pyongyang.
Insiden ini menjadi peringatan keras bagi publik dan para pencari kerja agar selalu waspada terhadap proses rekayasa sosial, khususnya bila diminta mengunduh berkas atau perangkat lunak tak dikenal selama proses seleksi kerja.