Liputan6.com, Jakarta - Saham sektor teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai menunjukkan sinyal pemulihan setelah sempat tertekan aksi jual masif yang menghapus nilai pasar triliunan dolar AS. Kendati mulai bergerak naik, para investor masih mencermati prospek industri AI di tengah dinamika dan perubahan arah kebijakan politik di Amerika Serikat (AS).
Mengutip BBC, Sabtu (7/11/2026), tekanan tajam terhadap bursa teknologi sempat terjadi menyusul hasil pemilu paruh waktu (midterm elections) AS yang dimenangi Partai Demokrat. Kemenangan ini memicu kekhawatir pasar bahwa pemerintah dan Kongres AS akan memperketat regulasi pengembangan AI serta pembangunan fasilitas pusat data (data center).
Advertisement
Indeks Nasdaq Composite, yang mendominasi saham teknologi, sempat anjlok lebih dari 5,5 persen pada perdagangan Kamis. Data Dow Jones mencatat penurunan tersebut mengikis kapitalisasi pasar hingga US$ 2,5 triliun atau setara Rp 41.750 triliun. Tekanan tersebut merembet ke bursa Asia dan Eropa, terutama menyasar emiten produsen cip serta semikonduktor.
Namun, bursa saham mulai memantul naik (rebound) pada perdagangan Jumat. Nasdaq dibuka menguat 1,23 persen dan melanjutkan tren positif untuk memulihkan sebagian kerugian hari sebelumnya.
Saham Nvidia yang sempat merosot lebih dari 9 persen kini berbalik naik lebih dari 6 persen. Penguatan juga dialami saham SpaceX dan Tesla masing-masing di atas 7 persen dan hampir 3 persen.
Sementara itu, saham produsen cip AMD dan Micron yang sebelumnya terkoreksi hingga 17 persen, bangkit kembali dengan lonjakan masing-masing sekitar 12 persen dan 8 persen.
Bayang-bayang Regulasi Pusat Data
Kemenangan Partai Demokrat yang kini menguasai dua kamar di Kongres AS diproyeksikan bakal memperketat pengawasan terhadap agenda teknologi pemerintahan Presiden Donald Trump.
Sejumlah politisi Demokrat sebelumnya menyoroti ekspansi pusat data AI yang dinilai mengonsumsi daya listrik dan air secara berlebihan, memicu kebisingan, hingga berpotensi menaikkan tarif listrik rumah tangga.
Pendiri lembaga advokasi teknologi global Tech London Advocates, Russ Shaw, menilai hasil pemilu paruh waktu menjadi sinyal agar korporasi teknologi lebih peka terhadap dampak lingkungan sekitar.
"Kongres yang akan datang akan benar-benar berfokus pada AI dengan cara yang sangat signifikan," kata Shaw kepada BBC.
Ia menekankan agar pengembang AI dapat menjadi tetangga yang baik dan mampu menjelaskan manfaat nyata teknologi tersebut kepada masyarakat luas.
Koreksi Valuasi Saham AI
Di sisi lain, investor mulai bersikap realistis dalam menguji apakah investasi raksasa pada infrastruktur AI mampu menghasilkan imbal hasil (return) sesuai ekspektasi.
Pendiri Arm Holdings, Tudor Brown, mengingatkan bahwa harga saham bertumpu pada proyeksi pendapatan masa depan, bukan sekadar capaian saat ini.
"Nilai saham didasarkan pada pendapatan masa depan, bukan pendapatan saat ini," ujar Brown.
Menurut Brown, koreksi yang terjadi bukanlah penanda berakhirnya era AI, melainkan bentuk penyesuaian pasar terhadap valuasi dan ekspektasi pertumbuhan yang sempat terlalu tinggi.
Pihak Future Market Insights memproyeksikan pemulihan saham teknologi secara menyeluruh akan berlangsung bertahap, di mana investor bakal lebih selektif memilih emiten dengan fundamental keuangan yang kuat.