Bola Mati Jadi Petaka Liverpool di Markas Fenerbahce

Liverpool kalah 2-3 dari Fenerbahce di Liga Champions 2026-2027 setelah tiga kali kebobolan melalui situasi bola mati.

oleh Gia Yuda PradanaDiterbitkan 05 November 2026, 11:25 WIB
Pemain Fenerbahce Vedat Muriqi (kiri) dan pemain Liverpool Dominik Szoboszlai berebut bola dalam laga Liga Champions antara Fenerbahce vs Liverpool di Istanbul, Turki, Rabu, 4 November 2026. (AP Photo/Emrah Gurel)

Liputan6.com, Jakarta - Liverpool harus menerima kenyataan pahit dalam lawatannya ke Turki. Keunggulan yang dua kali berhasil dibangun The Reds tidak cukup untuk menghindarkan mereka dari kekalahan setelah Fenerbahce memanfaatkan kelemahan pertahanan dalam mengantisipasi bola mati.

Bermain di Sukru Saracoglu Stadium, Kamis (5/11/2026) dini hari WIB, Liverpool menyerah dengan skor 2-3 pada matchday keempat fase liga Liga Champions 2026/2027. Hasil tersebut sekaligus mengakhiri rekor sempurna mereka setelah seluruh gol tuan rumah berawal dari situasi bola mati.

Trey Nyoni dan Alexander Isak sempat membawa tim tamu berada di depan. Namun, Fenerbahce selalu mampu menemukan jawaban sebelum Vedat Muriqi mencetak gol penentu kemenangan pada menit ke-79.


Tiga Situasi Bola Mati Hukum Kelengahan Liverpool

Pemain Liverpool Alexis Mac Allister (kiri) dan pemain Fenerbahce Ismail Yuksek berebut bola dalam laga Liga Champions antara Fenerbahce vs Liverpool di Istanbul, Turki, Rabu, 4 November 2026. (AP Photo/Emrah Gurel)

Liverpool membuka keunggulan pada menit ke-25 melalui tembakan Trey Nyoni. Akan tetapi, keunggulan itu tidak bertahan lama karena Fenerbahce menyamakan kedudukan empat menit kemudian.

Mason Greenwood menjadi aktor di balik gol pertama tuan rumah. Tendangan bebasnya mengalami defleksi sebelum mengecoh Alisson Becker yang tidak mampu menghalau bola.

Liverpool kembali memimpin pada menit ke-69. Alexander Isak menyambut umpan dengan sundulan untuk mengubah skor menjadi 2-1.

Namun, keunggulan tersebut kembali sirna setelah Archie Brown memanfaatkan bola di tiang jauh empat menit berselang. Gol itu berawal dari situasi sepak pojok yang membuat pertahanan The Reds gagal mengamankan area berbahaya.

Penderitaan Liverpool mencapai puncaknya pada menit ke-79. Vedat Muriqi menanduk bola hasil lemparan ke dalam jarak jauh dan memastikan Fenerbahce berbalik unggul 3-2.

Manajer Liverpool, Andoni Iraola, menilai buruknya antisipasi terhadap bola mati menjadi faktor utama kekalahan timnya. Dia kecewa karena tim sebenarnya memiliki peluang untuk memenangi pertandingan, tetapi gagal mengatasi tiga ancaman yang sudah diketahui sebagai kekuatan lawan.

"Alasan utama yang bisa saya temukan mengapa kami kalah dalam pertandingan ini adalah kami kebobolan dari tiga situasi bola mati. Kami tahu itu merupakan salah satu kekuatan Fenerbahce," ujar Iraola.

Dia juga menjelaskan bahwa ketiga gol tersebut berasal dari tendangan bebas, sepak pojok, dan lemparan ke dalam jarak jauh. Rangkaian kesalahan itu membuat Liverpool pulang tanpa poin meski sempat dua kali unggul.

Lanjut Baca:

Di sisi lain, kemenangan ini menjadi pencapaian istimewa bagi Fenerbahce. Klub asal Turki tersebut akhirnya kembali meraih kemenangan di fase utama Liga Champions setelah penantian sejak 2008. Muriqi memiliki alasan tersendiri untuk mengenang pertandingan tersebut. Gol penentunya bukan hanya membawa kemenangan bagi tim, tetapi juga menjadi gol pertamanya di fase liga Liga Champions. "Saat Fenerbahce terakhir kali memenangi pertandingan Liga Champions 18 tahun lalu, saya menyaksikannya di televisi di Kosovo. Saya tidak percaya hampir 20 tahun telah berlalu sejak pertandingan itu. Kini, setelah mencetak gol kemenangan malam ini, saya akan mengingat malam ini sepanjang hidup," kata Muriqi. Penyerang tersebut juga memberikan apresiasi kepada rekan setim dan suporter yang terus memberikan dukungan hingga pertandingan berakhir. Menurutnya, perjuangan seluruh pemain membuat kemenangan itu pantas mereka dapatkan. Bagi Fenerbahce, hasil ini menjadi malam bersejarah di hadapan pendukung sendiri. Sementara itu, bagi Liverpool, kekalahan tersebut menjadi evaluasi penting bahwa kelengahan dalam mengantisipasi bola mati dapat berakibat fatal di kompetisi tertinggi Eropa. Sumber: UEFA.com

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya