Liputan6.com, Jakarta - Liverpool harus menerima kenyataan pahit dalam lawatannya ke Turki. Keunggulan yang dua kali berhasil dibangun The Reds tidak cukup untuk menghindarkan mereka dari kekalahan setelah Fenerbahce memanfaatkan kelemahan pertahanan dalam mengantisipasi bola mati.
Bermain di Sukru Saracoglu Stadium, Kamis (5/11/2026) dini hari WIB, Liverpool menyerah dengan skor 2-3 pada matchday keempat fase liga Liga Champions 2026/2027. Hasil tersebut sekaligus mengakhiri rekor sempurna mereka setelah seluruh gol tuan rumah berawal dari situasi bola mati.
Advertisement
Trey Nyoni dan Alexander Isak sempat membawa tim tamu berada di depan. Namun, Fenerbahce selalu mampu menemukan jawaban sebelum Vedat Muriqi mencetak gol penentu kemenangan pada menit ke-79.
Tiga Situasi Bola Mati Hukum Kelengahan Liverpool
Liverpool membuka keunggulan pada menit ke-25 melalui tembakan Trey Nyoni. Akan tetapi, keunggulan itu tidak bertahan lama karena Fenerbahce menyamakan kedudukan empat menit kemudian.
Mason Greenwood menjadi aktor di balik gol pertama tuan rumah. Tendangan bebasnya mengalami defleksi sebelum mengecoh Alisson Becker yang tidak mampu menghalau bola.
Liverpool kembali memimpin pada menit ke-69. Alexander Isak menyambut umpan dengan sundulan untuk mengubah skor menjadi 2-1.
Namun, keunggulan tersebut kembali sirna setelah Archie Brown memanfaatkan bola di tiang jauh empat menit berselang. Gol itu berawal dari situasi sepak pojok yang membuat pertahanan The Reds gagal mengamankan area berbahaya.
Penderitaan Liverpool mencapai puncaknya pada menit ke-79. Vedat Muriqi menanduk bola hasil lemparan ke dalam jarak jauh dan memastikan Fenerbahce berbalik unggul 3-2.
Manajer Liverpool, Andoni Iraola, menilai buruknya antisipasi terhadap bola mati menjadi faktor utama kekalahan timnya. Dia kecewa karena tim sebenarnya memiliki peluang untuk memenangi pertandingan, tetapi gagal mengatasi tiga ancaman yang sudah diketahui sebagai kekuatan lawan.
"Alasan utama yang bisa saya temukan mengapa kami kalah dalam pertandingan ini adalah kami kebobolan dari tiga situasi bola mati. Kami tahu itu merupakan salah satu kekuatan Fenerbahce," ujar Iraola.
Dia juga menjelaskan bahwa ketiga gol tersebut berasal dari tendangan bebas, sepak pojok, dan lemparan ke dalam jarak jauh. Rangkaian kesalahan itu membuat Liverpool pulang tanpa poin meski sempat dua kali unggul.