Rupiah Dibuka Menguat, Namun Tekanan Dalam Negeri Perlu Diwaspadai

Rupiah menguat ke 18.132 per dolar AS pada pembukaan Rabu, tetapi tekanan dolar dan sentimen domestik masih membayangi.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 04 November 2026, 10:20 WIB
Teller menukarkan mata uang dolar ke rupiah di Jakarta, Jumat (2/2). Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang berada di level Rp13.700 hingga Rp13.800.(Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Rabu (4/11/2026). Meski demikian, penguatan indeks dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta ketidakpastian domestik masih membayangi pergerakan mata uang Garuda.

Analis memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang 18.120 per dolar AS hingga 18.180 per dolar AS.

Rupiah pada pembukaan perdagangan menguat 28 poin atau 0,15 persen menjadi 18.132 per dolar AS. Posisi tersebut lebih baik dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level 18.160 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai penguatan rupiah pada pembukaan belum menghilangkan risiko pelemahan. Hal ini karena sejumlah indikator pasar global masih menunjukkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

"Indeks dolar naik menjadi 101,89 dan obligasi pemerintah AS naik 5 bps (basis points) menjadi 4,62 persen, walaupun harga minyak turun," ucapnya dikutip dari Antara.

Menurut Rully, kondisi tersebut menunjukkan pasar keuangan global menghadapi kecenderungan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih panjang atau higher for longer.

Situasi ini berpotensi menimbulkan efek penularan terhadap pasar keuangan berbagai negara, termasuk pasar surat utang Indonesia.

Rully menjelaskan, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury dipengaruhi meningkatnya kebutuhan penarikan utang pemerintah AS dalam waktu relatif cepat dibandingkan periode sebelumnya.

Selain itu, strategi pembelian kembali obligasi atau buyback oleh pemerintah AS dinilai belum berhasil menstabilkan pasar surat utang.

Tekanan juga datang dari ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS berpotensi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin sebanyak dua hingga tiga kali dalam satu tahun ke depan.

 

Sentimen Dalam Negeri

Dari dalam negeri, pelaku pasar turut mencermati stabilitas politik dan tata kelola pasar modal. Perhatian tersebut muncul menyusul isu dugaan penyadapan terhadap Presiden RI Prabowo Subianto dan sejumlah pejabat negara yang disebut melibatkan mantan Kapolri, serta dinamika penilaian dari MSCI.

Rully menilai isu tersebut dapat meningkatkan persepsi risiko investasi di Indonesia.

"Kasus penyadapan jelas membuat premi risiko seluruh aset Indonesia naik yang tercermin dari CDS (Credit Default Swap) sudah di atas 100 bps," ungkap Rully.

Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Rully memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak dalam kisaran 18.120 per dolar AS hingga 18.180 per dolar AS.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya