Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih menghadapi tantangan untuk membangun momentum pemulihan yang berkelanjutan. Di tengah volatilitas IHSG diprediksi masih tinggi, investor harus bagaimana?
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu, (4/11/2026), IHSG anjlok 3,78% menjadi 4.904,28 pada penutupan perdagangan saham Selasa, 3 November 2026. Koreksi IHSG mendorong kapitalisasi pasar BEI turun menjadi Rp 8.655 triliun. Dalam satu hari, investor asing melepas saham senilai Rp 575,01 miliar. Dengan demikian, sepanjang 2026, aksi jual investor asing mencapai Rp 98,60 triliun. Seiring koreksi IHSG yang terjadi itu mendorong kinerja IHSG anjlok 43,28% secara year to date (ytd).
Advertisement
Senior Technical Analyst PT Mirea Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji menuturkan, investor perlu mencermati kemampuan IHSG untuk bertahan di area psikologis 5.000. Apabila tekanan jual masih berlanjut dan indeks belum mampu kembali menembus area tersebut secara konsisten, volatilitas berpotensi tetap tinggi.
Sebaliknya, pemulihan yang disertai peningkatan volume transaksi dan akumulasi saham-saham berkapitalisasi besar dapat menjadi indikasi membaiknya kepercayaan pasar.pasar saham Indonesia masih membutuhkan katalis positif kuat, terutama dari sisi perbaikan kepercayaan investor, stabilitas nilai tukar rupiah dan konsistensi reformasi pasar modal.
"Untuk prospek hingga akhir 2026, saya melihat IHSG masih akan menghadapi tantangan untuk membangun momentum pemulihan yang berkelanjutan,” ujar Nafan saat dihubungi Liputan6.com.
Nafan menilai, ada beberapa sentimen utama yang perlu dicermati investor. Pertama, perkembangan evaluasi MSCI terhadap status pasar modal Indonesia, terutama terkait kemungkinan reklasifikasi dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Kedua, perkembangan kebijakan regulator mengenai peningkatan free float, transparansi kepemilikan saham, dan kualitas tata kelola emiten. Ketiga, potensi berlanjutnya capital outflow atau net foreign sell yang dapat memberikan tekanan terhadap saham-saham berkapitalisasi besar.
Sentimen Utama Lainnya
Keempat, dinamika suku bunga global, kebijakan The Fed, serta pergerakan nilai tukar rupiah yang berpengaruh terhadap persepsi risiko investasi di Indonesia. Kelima, perkembangan geopolitik dan harga komoditas global, yang dapat memengaruhi prospek kinerja emiten di sektor energi, pertambangan, dan industri pengolahan.
"Oleh karena itu, saya memperkirakan volatilitas IHSG masih akan relatif tinggi hingga akhir tahun. Pemulihan indeks akan sangat bergantung pada keberhasilan reformasi pasar modal dalam mengembalikan kepercayaan investor institusional, khususnya investor asing,” ujar Nafan.
Seiring volatilitas IHSG masih tinggi, investor sebaiknya bagaimana?
Nafan menilai, Investor sebaiknya tidak terburu-buru melakukan akumulasi secara agresif dan lebih mengutamakan strategi buy on weakness secara bertahap terhadap saham dengan fundamental kuat, valuasi menarik, serta likuiditas yang memadai.
Untuk saham-saham yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC), menurut Nafan, investor tetap perlu melakukan seleksi secara cermat.
“Perlu dipahami bahwa dikeluarkannya saham HSC dari perhitungan IHSG bukan berarti saham tersebut otomatis tidak layak investasi atau tidak lagi dapat diperdagangkan,” ujar dia.
Ia menuturkan, saham-saham tersebut tetap tercatat di BEI dan dapat ditransaksikan seperti biasa, tetapi pergerakan harganya tidak lagi berkontribusi terhadap perhitungan IHSG.
Sejumlah Risiko yang Perlu Diperhatikan
Meskipun demikian, Nafan melihat, terdapat sejumlah risiko yang perlu diperhatikan, terutama terkait keterbatasan free float, konsentrasi kepemilikan, likuiditas perdagangan, serta potensi volatilitas harga yang tinggi.
“Selain itu, saham-saham HSC berpotensi menghadapi tantangan dalam menarik minat investor institusional yang memiliki kebijakan investasi berbasis indeks. Oleh sebab itu, investor sebaiknya tidak hanya mempertimbangkan potensi capital gain, tetapi juga memperhatikan kualitas fundamental, valuasi, transparansi kepemilikan, dan prospek pertumbuhan bisnis masing-masing emiten,” kata dia.
Adapun sebagai alternatif investasi, Nafan melihat saham-saham berkapitalisasi besar dengan likuiditas relatif baik dan fundamental yang solid masih layak dicermati. Beberapa sektor yang dapat menjadi perhatian adalah perbankan, consumer goods, telekomunikasi, dan otomotif.