Liputan6.com, Paris - Aksi demonstrasi pelajar di Prancis kembali berlanjut setelah libur musim gugur. Sejumlah siswa memblokade akses ke sekolah menengah pada Senin, bertekad menghidupkan kembali gelombang protes meskipun pemerintah telah mengumumkan sejumlah konsesi selama masa liburan.
Dikutip dari Euronews, Selasa (3/11/2026), Kementerian Pendidikan Prancis menyebut sekitar 1 persen dari total 3.700 sekolah menengah atas atau lycées yang diperuntukkan bagi siswa berusia 15 hingga 18 tahun mengalami blokade.
Advertisement
Aksi tersebut berlanjut setelah ratusan ribu orang, termasuk para pelajar, turun ke jalan di berbagai wilayah Prancis pada Sabtu. Demonstrasi itu menjadi gelombang aksi ketiga secara berturut-turut dalam tiga pekan terakhir.
Unjuk rasa yang awalnya dipicu persoalan biaya hidup tersebut bermula ketika para siswa sekolah menengah menggelar demonstrasi nasional pada September. Mereka memprotes kondisi pembelajaran dan ketimpangan.
Pemerintah sebenarnya telah mengumumkan sejumlah langkah untuk merespons tuntutan para pelajar. Kebijakan tersebut mencakup perubahan proses penerimaan mahasiswa di universitas, penambahan jumlah guru, serta pembatasan jumlah siswa dalam setiap kelas.
Namun, sebagian siswa menilai langkah-langkah tersebut belum cukup untuk menjawab persoalan yang mereka hadapi.
Di Kota Marseille, Prancis selatan, sejumlah tempat sampah bahkan ditumpuk di depan pintu masuk salah satu sekolah menengah pada Senin pagi sebagai bentuk blokade.
Menteri Pendidikan Édouard Geffray meminta para siswa kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar agar tidak gagal dalam ujian.
Berbicara kepada stasiun radio France Inter, Geffray mengatakan para siswa yang akan mengikuti ujian baccalaureate pada akhir tahun ajaran terancam tertinggal karena sudah berminggu-minggu tidak masuk sekolah.
"Saya memiliki siswa yang akan mengikuti ujian baccalaureate pada akhir tahun ini, dan beberapa ratus ribu di antaranya tidak mengikuti kelas selama empat atau lima pekan," ujarnya.
Presiden Emmanuel Macron juga menyerukan agar kegiatan belajar mengajar kembali berlangsung secara kondusif. Menurut dia, aspirasi generasi muda telah didengar oleh pemerintah.
"Kaum muda telah didengar," kata Macron.
Di sisi lain, ruang gerak pemerintah untuk memenuhi tuntutan tambahan para pelajar melalui peningkatan belanja negara dinilai terbatas. Pasalnya, ekonomi Prancis yang merupakan terbesar kedua di Uni Eropa berada di ambang resesi, sementara pemerintah juga menghadapi tekanan untuk mengendalikan utang negara.