Liputan6.com, Jakarta - Harga emas kembali menguat ke atas level US$ 3.940 per ons pada Senin (2/11/2026) dari titik terendahnya sejak Oktober 2025. Di saat yang sama, harga perak melonjak melampaui US$ 50 seiring melandainya harga minyak bumi yang meredakan kekhawatiran inflasi menjelang pemilu sela (midterm elections) AS.
Mengutip Anadolu, Selasa (3/11/2026), emas menguat US$ 66,11 atau 1,70% ke level US$ 3.941,95 per troy ons pada pukul 20.15 GMT. Logam mulia ini melonjak hampir US$ 72 dari titik terendah pada Jumat lalu di level US$ 3.870,27, meski masih berada di bawah ambang batas US$ 4.000 akibat aksi jual sebelumnya.
Advertisement
Sementara itu, perak melonjak 3,45% ke posisi US$ 50,58 per ons setelah sempat menyentuh level terendah dalam 11 bulan terakhir. Persentase kenaikan perak tercatat hampir dua kali lipat dibanding emas. Meski begitu, data pasar menunjukkan perak masih terkoreksi 17,07% dibanding bulan lalu, sedangkan emas merosot 4,78%.
Pada Jumat sebelumnya, emas sempat anjlok 3,5% akibat aksi jual besar-besaran pada saham teknologi, termasuk perusahaan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI) yang memaksa sebagian investor mencairkan dana. Investor yang menghadapi imbauan margin (margin call) terpaksa menjual emas untuk menutup kerugian di instrumen lain,sehingga menambah tekanan pada harga logam mulia tersebut.
Anjloknya Harga Minyak Meredakan Kekhawatiran Inflasi
Harga minyak mentah merosot lebih dari 6% pada Senin setelah tim negosiator Iran bertemu dengan mediator Qatar di Doha pada Minggu untuk hari ketiga secara berturut-turut. Pertemuan tersebut bertujuan mengakhiri konflik AS-Israel dengan Iran.
Langkah diplomasi ini memicu harapan bahwa gangguan pasokan minyak di kawasan Timur Tengah dapat mereda.Penurunan harga minyak mentah berpotensi menekan biaya bahan bakar dan transportasi, sekaligus meredakan salah satu sumber inflasi di tengah pertimbangan Bank Sentral AS (The Fed) mengenai kenaikan suku bunga acuan berikutnya.
Suku bunga yang lebih tinggi membuat instrumen berimbal hasil menjadi lebih menarik dibanding emas dan perak yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
Sebelumnya pada 28 Oktober, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75% hingga 4% melalui pemungutan suara dengan hasil 10-2. Dua pembuat kebijakan, Lisa Cook dan Beth Hammack, memilih kenaikan sebesar 0,25%.
Bank sentral AS tersebut menyatakan bahwa tingkat inflasi masih tergolong tinggi dan pihaknya akan terus memantau data ekonomi terbaru demi mengembalikan inflasi ke target 2%.