Liputan6.com, Jakarta - Direktur Keuangan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN, Catur Dermawan, melakukan pembelian sebanyak 25.000 saham perseroan pada 30 Oktober 2026. Transaksi tersebut dilakukan dengan harga Rp 1.295 per saham.
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (3/11/2026), transaksi pembelian saham tersebut menambah kepemilikan Catur Dermawan di PGAS dari sebelumnya 100.000 saham menjadi 125.000 saham.
Advertisement
Dengan demikian, terdapat penambahan kepemilikan sebanyak 25.000 saham setelah transaksi pembelian dilakukan. Berdasarkan harga transaksi Rp 1.295 per saham, nilai pembelian saham PGAS tersebut mencapai Rp 32,375 juta. Adapun persentase hak suara yang tercatat sebelum dan sesudah transaksi sama-sama sebesar 0%.
Selain Catur, Direktu Strategi dan Pengembangan Bisnis Perusahaan Gas Negara Mirza Mahendra juga turut melakukan pembelian 30.000 lembar saham dengan harga Rp 1.295 pada 30 Oktober 2026. Melalui transaksi pembelian saham tersebut menambah kepemilikan Mirza Mahendra di PGAS dari sebelumnya 70.000 saham menjadi 100.000 saham.
Kemudian, Direktur Perusahaan Gas Negara Eri Surya Kelana juga tercatat menambah kepemilikan saham perseroan melalui transaksi pembelian di pasar reguler. Transaksi dilakukan pada harga Rp 1.325 per saham dengan jumlah saham yang dibeli 100.000 lembar saham. Usai transaksi, kepemilikan saham Eri yang sebelumnya 67.300 bertambah menjadi 167.300 saham atau setara sekitar 0% dari total saham beredar.
PGN Amankan 4 Kontrak Gas Termasuk Masela, Tembus US$ 7,34 Miliar
Sebelumnya, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) mengamankan empat kontrak penting terkait pasokan gas bumi dan gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG). Kesepakatan tersebut berpotensi memperkuat portofolio pasokan energi perseroan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dalam jangka panjang.
Mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (29/10/2026), PGN melaporkan perolehan empat kontrak penting dengan sejumlah pihak, termasuk kontrak jual beli LNG dari South Hub dan North Hub, LNG dari Lapangan Gas Abadi Masela, serta pasokan gas dari Wilayah Kerja Sakakemang.
Dari empat kontrak tersebut, perjanjian LNG dari Lapangan Gas Abadi Masela memiliki estimasi nilai transaksi terbesar, yakni USD 7,347 miliar. Kontrak ini memiliki perkiraan periode pengiriman mulai 2033 dengan jangka waktu 15 tahun.
Sementara itu, perjanjian LNG North Hub memiliki estimasi nilai transaksi USD 1,55 miliar. Pasokan LNG tersebut direncanakan untuk periode 2029 hingga 31 Desember 2037, dengan opsi perpanjangan sampai 31 Desember 2038.
PGN juga menyepakati potensi penjualan LNG South Hub untuk periode pengiriman 1 Januari 2027 hingga 31 Desember 2032. Namun, dalam keterbukaan informasi tersebut, perseroan tidak mencantumkan estimasi nilai transaksi untuk kontrak South Hub.
Adapun kontrak pasokan gas dari Wilayah Kerja Sakakemang memiliki estimasi nilai transaksi sebesar USD 725,55 juta, dengan periode penyaluran yang diperkirakan berlangsung mulai 1 September 2027 hingga 31 Desember 2037.
Perkuat Pasokan Gas Jangka Panjang
PGN menyampaikan, kesepakatan LNG South Hub dan North Hub berpotensi menambah portofolio pasokan gas jangka panjang perseroan. Pasokan tersebut diharapkan mendukung kegiatan niaga gas yang bersumber dari LNG.
Dalam kontrak South Hub, sejumlah pihak yang bertindak sebagai penjual antara lain PT Pertamina (Persero), Searah Muara Bakau B.V., Eni Muara Bakau II B.V., PT Saka Energi Muara Bakau, serta sejumlah perusahaan yang terlibat dalam pengembangan wilayah kerja migas terkait.
Sementara itu, untuk kontrak North Hub, pihak penjual mencakup PT Pertamina (Persero), Searah North Ganal Limited, Eni North Ganal B.V., serta sejumlah perusahaan yang terlibat dalam pengembangan wilayah kerja North Ganal, Rapak, dan Ganal.
Dalam kedua kesepakatan tersebut, PGN bertindak sebagai pembeli bersama PT Pertagas Niaga dan PT Perta Arun Gas. Pasokan LNG direncanakan untuk memenuhi kebutuhan PGN dan/atau afiliasinya.