Sekolah Perlu Kenali Hambatan Belajar Anak Disabilitas

Guru dan kepala sekolah perlu mengenali hambatan akses, pembelajaran, hingga interaksi sosial agar anak dengan disabilitas dapat belajar optimal.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 02 November 2026, 16:10 WIB
Para pekerja Community-Based Rehabilitation (CBR), kepala sekolah, guru dari sekolah mitra dan staf NLR Indonesia diajak untuk membuat lingkungan yang aman untuk anak disabilitas.

Liputan6.com, Jakarta - Anak dengan disabilitas masih menghadapi berbagai hambatan untuk mengakses pendidikan yang inklusif. Hambatan itu tidak hanya berkaitan dengan akses fisik ke sekolah, tetapi juga proses pembelajaran, komunikasi, interaksi sosial, hingga dukungan yang dibutuhkan selama belajar.

Atas dasar itulah yayasan nirlaba NLR Indonesia menggelar penguatan kapasitas pendidikan inklusif melalui program Welcome to School dan kampanye We Ring the Bell pada 28–31 Oktober 2026 di Surabaya, Jawa Timur. 

Kegiatan ini melibatkan pekerja Community-Based Rehabilitation (CBR), kepala sekolah, guru dari sekolah mitra, serta staf NLR Indonesia. Peserta diajak memahami hak anak, prinsip pendidikan inklusif, dan pentingnya mengenali kebutuhan dukungan anak sejak dini tanpa memberikan stigma atau label.

Melalui program Welcome to School, sekolah didorong mengidentifikasi hambatan yang dialami anak dengan disabilitas. Aspek yang diperiksa mencakup aksesibilitas lingkungan sekolah, proses belajar mengajar, komunikasi, interaksi sosial, serta ketersediaan dukungan dan akomodasi yang layak.

Hasil identifikasi tersebut dapat digunakan sekolah untuk menyusun rencana perbaikan. Dengan begitu, anak tidak hanya hadir di sekolah, tetapi juga memiliki kesempatan untuk belajar dan berpartisipasi secara bermakna.

Temuan dari kegiatan Welcome to School kemudian dibawa ke ruang publik melalui kampanye We Ring the Bell. Kampanye yang diinisiasi Liliane Fonds sejak 2015 ini merupakan gerakan internasional untuk meningkatkan kesadaran tentang hak anak dengan disabilitas atas pendidikan. Gerakan tersebut telah berlangsung di lebih dari 20 negara.

Manager Program Diversity, Equity & Inclusion Workstream NLR Indonesia, Fahmi Arizal, mengatakan pekerja rehabilitasi bersumberdaya masyarakat (RBM) memiliki peran penting dalam menjembatani anak dan orang muda dengan disabilitas serta kusta, keluarga, dan sekolah.

“Melalui pendekatan partisipatif Welcome to School dan kampanye We Ring the Bell, kami mengajak sekolah, pemerintah, mitra, dan masyarakat untuk tidak berhenti pada membangun kesadaran, tetapi mengambil langkah nyata menghilangkan hambatan pendidikan, menyediakan dukungan dan akomodasi yang layak, serta memastikan setiap anak dapat belajar, berpartisipasi, dan berkembang tanpa diskriminasi,” kata Fahmi.

Harapan dari Peserta

Pekerja Community-Based Rehabilitation (CBR) Kota Palu, Tazkia Aulia Ahfsary, menekankan pentingnya kerja kolaboratif yang menyatukan perspektif pemangku kebijakan, pelaksana, hingga pengawas agar pendidikan inklusif di Indonesia dapat tercapai.

Sementara itu, Kepala SDI Naikoten 1 Kupang, Maya Christine Ndoen, merasa senang dapat berpartisipasi dalam kegiatan di Surabaya. Ia berharap dapat bekerja dengan hati dan berkolaborasi, sehingga anak-anak nyaman bersekolah dan dapat menyuarakan kebutuhan mereka dalam menempuh pendidikan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya