Liputan6.com, Jakarta - Peretas asal Korea Utara telah mencuci sekitar US$ 242 juta atau Rp 4,39 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.140) dana yang dicuri dari Binance di blockchain Tron dalam waktu dua hari.
Demikian disampaikan analison-chain sekaligus kontributor Security Alliance (SEAL), SomaXBT, melalui platform X pada Minggu, 1 November 2026 di tengah upaya FBI mendesak THORChain dan layanan lainnya untuk memblokir transaksi itu.
Advertisement
Mengutip the Block, Senin, (2/11/2026), menurut SomaXBT dalam utasnya, para penyerang mengambil sekitar US$ 628 juta atau Rp 11,39 triliun dari Binance di jaringan Tron. Setelah Tether membekukan 378,7 juta USDT, masih terdapat sekitar US$ 249 juta yang belum dipindahkan oleh peretas.
Dari jumlah US$ 242 juta itu, sekitar US$ 194 juta keluar dari jaringan Tron melalui berbagai jembatan atau bridge dan layanan penukaran atau swap.
Sebanyak US$ 26 juta tetap berada di dalam jaringan, sementara sekitar US$ 22 juta lainnya terserap untuk biaya transaksi, selisih harga (slippage), dan fluktuasi nilai aset, ungkap analis tersebut.
Dana tersebut dipindahkan melalui sejumlah jembatan kripto. Relay menangani arus keluar sebesar US$ 48 juta, THORChain US$ 44 juta, Chainflip US$ 32,1 juta, dan Symbiosis US$ 16 juta. Total sekitar US$ 140 juta. SomaXBT menambahkan, Bitget Wallet menangani US$ 41,7 juta lainnya, namun tujuan akhir dari dana tersebut masih belum diketahui.
Pada Kamis, Binance kehilangan sekitar US$ 6,3 miliar dalam insiden peretasan kripto terbesar yang pernah tercatat. Pada Sabtu, FBI dalam peringatan yang dikeluarkan bersama U.S. Secret Service dan unit investigasi kriminal IRS, menyatakan pencurian tersebut dilakukan oleh kelompok yang dikenal sebagai TraderTraitor.
FBI Desak Blokir Transaksi
FBI menyebutkan para peretas mengubah aset curian tersebut "terutama menjadi Ethereum" dan diperkirakan \terus mencuci dana tersebut melalui berbagai protokol DeFi serta layanan penukaran instan. FBI mendesak operator THORNode di THORChain, serta operator node RPC, bursa instan, layanan DeFi, dan penyedia layanan lainnya untuk memblokir transaksi yang terkait dengan pencurian ini.
Selain itu, FBI juga merilis daftar yang mencakup 608 alamat Ethereum, 19 alamat Bitcoin, dan satu alamat Solana meskipun tidak ada alamat Tron yang disertakan—yang diduga terkait dengan serangan tersebut. Sebuah imbauan bersama 2022 dari FBI, Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA), dan Departemen Keuangan AS mendeskripsikan TraderTraitor sebagai kelompok peretas yang didukung oleh negara Korea Utara.
Kelompok ini telah aktif setidaknya sejak tahun 2020 dan melakukan pencurian serta pencucian mata uang kripto "untuk mendukung rezim Korea Utara." Imbauan tersebut menyatakan bahwa industri keamanan siber melacak kelompok ini dengan berbagai sebutan, termasuk Lazarus Group, APT38, dan BlueNoroff.
FBI Menuding TraderTraitor
FBI juga menuding TraderTraitor sebagai pihak yang bertanggung jawab atas peretasan Bybit senilai US$ 1,5 miliar pada Februari 2025. Peringatan terbaru dari lembaga tersebut tidak mengungkapkan bukti yang mendasari atribusi tersebut, meskipun perusahaan analisis blockchain seperti Chainalysis, Elliptic, dan TRM Labs telah mengaitkan pencurian itu dengan Korea Utara melalui jejak on-chain yang terhubung dengan peretasan-peretasan Korea Utara sebelumnya.
Salah satu pendiri THORChain tidak memberikan kepastian mengenai pemblokiran peretas.
Salah satu pendiri THORChain, Chad Barraford, menulis di platform X pada Sabtu malam bahwa "operator THORNode tidak memiliki informasi apa pun yang belum tersedia untuk publik secara real-time."
"Tidak diperlukan surat perintah pengadilan (subpoena), yang merupakan skenario terbaik untuk sebuah investigasi,” ia menambahkan.
Namun, dalam unggahannya pasca-peretasan, ia tidak menyebutkan apakah operator node akan memblokir alamat-alamat yang telah teridentifikasi tersebut.
Pengembalian Dana Ganda
Sebelumnya pada Sabtu, sebuah reorg (penataan ulang blok) pada jaringan Ethereum menyebabkan THORChain melakukan pengembalian dana ganda atas deposit sebesar 10 ETH, yang memicu penghentian operasional darurat (emergency pause).
Menurut perusahaan analisis Chainalysis, langkah penghentian ini yang secara ironis justru berdampak pada semua pengguna, termasuk para peretas mencegah siapa pun melakukan pertukaran aset melalui sebagian besar jembatan (bridge) THORChain.
Hingga hari Minggu pukul 13.20 waktu ET, aktivitas perdagangan di THORChain masih dihentikan pada 10 dari 13 jaringan yang terhubung, termasuk Tron, Ethereum, dan Bitcoin, berdasarkan data node THORChain. Perdagangan yang melibatkan jaringan Tron telah dihentikan sejak sekitar tengah hari Sabtu.
Menurut SomaXBT, para penyerang telah mengirimkan 185,1 juta TRX dan 3,83 juta USDT ke dalam THORChain melalui 2.697 kali transaksi deposit. THORChain telah membayarkan 17.019 ETH ke 170 alamat dan 53,25 BTC ke 20 alamat.
Para penyerang kehilangan sekitar 12% untuk biaya transaksi dan slippage, sementara antarmuka front-end memperoleh sekitar 145.800 RUNE dengan nilai kurang lebih US$ 95.000 sebagai biaya afiliasi. Lazarus Group asal Korea Utara juga menggunakan THORChain untuk mengonversi sebagian besar Ether yang dicuri dalam peretasan Bybit senilai US$ 1,5 miliar menjadi Bitcoin pada Februari 2025.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.