Harga Saham Intel Anjlok 29%, Terburuk Sejak 1970

Kepemilikan saham pemerintah AS dan Nvidia di Intel alami tekanan setelah harga saham Intel anjlok 29%.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 01 November 2026, 07:00 WIB
Intel Xeon 6. Credit: Intel

Liputan6.com, Jakarta - Saham Intel anjlok 29% pada Jumat, 30 Oktober 2026. Saham Intel alami kinerja harian terburuk sejak 1970-an setelah produsen cip tersebut mengeluarkan proyeksi kinerja yang lebih lemah dari perkiraan. Hal ini dipicu oleh penutupan pabrik di Israel serta kondisi pasar PC yang masih lesu.

Mengutip CNBC, Minggu, (1/11/2026), ini merupakan kemunduran besar bagi CEO Lip-Bu Tan, yang mulai menjabat pada Maret 2025 dan sejak saat itu berupaya membangkitkan kembali perusahaan setelah sempat tertinggal di awal masa lonjakan kecerdasan buatan (AI).

Anjloknya saham Intel juga menjadi pukulan telak bagi pemerintahan Trump, yang lebih dari setahun lalu memfasilitasi pemerintah AS untuk mengambil kepemilikan saham sebesar 10% di perusahaan tersebut. Meski investasi ini masih mencatatkan keuntungan, nilai kepemilikan saham pemerintah AS turun sekitar US$ 12 miliar atau Rp 217,5 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 18.130) pada Jumat.  

Nvidia, yang juga memiliki porsi saham cukup besar di Intel, turut mengalami penurunan nilai investasi sekitar US$ 6 miliar atau Rp 108,7 triliun.

Sebelum laporan pendapatan Kamis dirilis, saham Intel sempat naik sekitar 150% tahun ini, didorong oleh permintaan terhadap prosesor sentral yang kini menjadi komponen krusial bagi beban kerja AI yang bersifat otonom (agentic AI). Pada Jumat, para analis di D.A. Davidson menurunkan peringkat saham Intel dari "beli" (buy) menjadi "netral", dengan catatan bertajuk: "Belum pulih" (Not fixed yet).

"Kami memahami bahwa pasar PC sedang terdampak di tingkat industri," tulis para analis tersebut.

"Namun, sulit untuk membenarkan valuasi saat ini ketika kelemahan yang terjadi begitu signifikan,” analis menambahkan.

Wall Street Tertekan

Pialang saham John Romolo bekerja di lantai Bursa Efek New York atau sering disebut Wall Street, Senin, 13 Oktober 2025. (Foto AP/Richard Drew)

Sebelumnya, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street melemah pada Jumat, 30 Oktober 2026. Indeks Nasdaq memimpin koreksi di antara tiga indeks saham acuan lainnya.

Mengutip CNBC, Sabtu (31/10/2026), indeks Nasdaq melemah 2,86% dan ditutup ke level 25.437, kinerja harian terburuk sejak Juni. Indeks ini berada sekitar 8% di bawah level tertinggi yang dicapai belum lama ini. Indeks Dow Jones merosot 572,25 poin atau 1,09% dan ditutup di 51.770,31. Indeks S&P 500 terpangkas 1,82% menjadi 7.580,07.

Sebulan ini, indeks saham acuan tertekan di wall street. Indeks Nasdaq merosot 5,3%, penurunan tajam sejak Maret 2025. Indeks S&P 500 melemah 0,9%, sementara indeks Dow justru naik 1,7%.

Tekanan jual meningkat pada sesi perdagangan Jumat sore seiring dengan langkah investor yang merealisasikan keuntungan menjelang akhir bulan serta menyongsong pemilihan umum paruh waktu (midterm elections) yang diperkirakan akan berlangsung sengit pekan depan.

Saham Amazon turun lebih dari 1% setelah perusahaan tersebut melaporkan laba dan pendapatan kuartal ketiga yang berada di bawah ekspektasi Wall Street. Raksasa e-commerce dan layanan cloud ini juga mencatatkan arus kas bebas (free cash flow) negatif sebesar US$ 42,4 miliar, serta mempertahankan proyeksi belanja modal 2026 sebesar US$ 220 miliar.

 

Gerak Saham

Pedagang bekerja di New York Stock Exchange, New York, 10 Agustus 2022. (AP Photo/Seth Wenig, file)

Di sisi lain, saham Intel anjlok hampir 29% setelah perusahaan memberikan proyeksi yang lemah untuk kuartal saat ini, dengan mengindikasikan adanya perlambatan di pasar PC. Pendapatan dari divisi komputasi klien dan kecerdasan buatan perusahaan turun 5% dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu, menjadi US$ 8,1 miliar.

Saham SanDisk juga melemah 13%, meskipun hasil kinerja kuartal fiskal pertamanya melampaui estimasi. Perusahaan penyimpanan data tersebut mengumumkan pemecahan saham (stock split) dengan rasio delapan banding satu.

Sektor produsen cip secara keseluruhan turut berada di bawah tekanan. Saham Advanced Micro Devices (AMD) merosot hampir 11%, sementara saham lainnya seperti Nvidia dan Broadcom masing-masing turun 4% dan 5%.

Seiring dengan pergeseran investasi keluar dari sektor teknologi, sektor-sektor defensif seperti barang konsumsi pokok (consumer staples) dan layanan kesehatan justru mencatatkan kenaikan. Saham Walmart dan Coca-Cola masing-masing naik lebih dari 1%, yang membantu menahan penurunan pada indeks Dow. Saham-saham lain dalam indeks Dow, yakni Merck dan Amgen, juga mencatatkan kenaikan.

“Sentimen pasar telah sedikit berubah, dan apakah perubahan ini akan memengaruhi keberlanjutan rotasi pasar tersebut masih belum dapat dipastikan,” ujar Keith Buchanan dari Globalt.

Ia mencatat, pasar saat ini cenderung lebih “kritis” dan “selektif”. “Tahun lalu, pasar digerakkan oleh harapan. Tahun ini, pertanyaannya adalah: Bagaimana semua ini berjalan dalam konteks dunia nyataseperti bagaimana pendanaannya dan siapa yang akan memperoleh keuntungan ekonomisnya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih sulit untuk dijawab,” kata dia.

“Terdapat risiko nyata dalam ekonomi riil, dan pasar mulai menyadari hal itu,” ujar dia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya