Rahayu Saraswati Ingatkan Pengusaha, AI Jangan Gerus Lapangan Kerja

Rahayu meminta para pengusaha memastikan teknologi yang dibawa ke Tanah Air dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas.

oleh Ady AnugrahadiDiterbitkan 31 Oktober 2026, 14:52 WIB
Ketua Dewan Pembina Rembuk Pemuda, Rahayu Saraswati. (Liputan6.com/Ady Anugrahadi)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Dewan Pembina Rembuk Pemuda, Rahayu Saraswati, mengingatkan agar kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Indonesia tidak sampai menggerus lapangan pekerjaan.

Rahayu meminta para pengusaha memastikan teknologi yang dibawa ke Tanah Air dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas, bukan menggantikan tenaga manusia.

Menurutnya, Indonesia menghadapi tantangan berbeda dibandingkan negara-negara yang tidak memiliki bonus demografi. Di negara tersebut, teknologi dikembangkan untuk mengatasi keterbatasan tenaga kerja.

Sementara Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar, tetapi ketersediaan lapangan pekerjaan masih terbatas. Kondisi ini perlu menjadi pertimbangan dalam penerapan teknologi.

“Kalau kita menggunakan teknologi itu di Indonesia, yang di mana kita punya memiliki lebih banyak manusia daripada lapangan pekerjaan, tentunya akan terjadi permasalahan yang besar,” kata Rahayu saat menghadiri Rembuk Nasional Pemuda Indonesia ke-3 di Jakarta, Sabtu (31/10/2026).

Karena itu, dia meminta kalangan pengusaha mempertimbangkan dampak penggunaan teknologi terhadap kesempatan kerja masyarakat.

“Nah, di sini harus ada kesadaran dari kita semua, terutama dari para pengusaha, teman-teman saya pengusaha yang mau untuk membawa teknologi-teknologi baru, mari kita memastikan bahwa teknologi yang kita hadirkan itu untuk meningkatkan produktivitas, bukan untuk menghilangkan lapangan pekerjaan,” tegasnya.

Menurut Rahayu, persoalan tersebut tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Dunia usaha dan berbagai sektor harus berkolaborasi agar kemajuan teknologi tetap memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kita harus berkolaborasi, harus bekerja sama, tidak bisa pemerintah sendiri, tidak bisa private sector sendiri. Ini semuanya dari lintas sektor, bahkan bisa dikatakan heksaheliks, itu harus bekerja sama,” ujarnya.

 

Kolaborasi Anak Muda

Ketua Dewan Pembina Rembuk Pemuda, Rahayu Saraswati. (Liputan6.com/Ady Anugrahadi)

Dia mengapresiasi generasi muda yang sudah berkontribusi melalui berbagai bidang. Ada yang menjadi pengusaha dan membuka lapangan pekerjaan, peneliti, hingga akademisi.

Rahayu berharap potensi tersebut diperkuat melalui komunikasi dan kerja sama lintas latar belakang. Salah satunya melalui Rembuk Pemuda yang menjadi ruang bagi anak muda untuk bertukar gagasan dan merumuskan solusi.

Selain mendorong kolaborasi menghadapi perkembangan teknologi, Rembuk Pemuda juga menghimpun aspirasi generasi muda dari 29 provinsi untuk disampaikan kepada pemerintah.

Rahayu mengatakan, masukan tersebut akan mencakup berbagai persoalan daerah, mulai dari lapangan pekerjaan, UMKM, hilirisasi, industri, keuangan, kebijakan fiskal, hingga pertanian dan perkebunan.

“Rembuk Pemuda ini hanya satu wadah. Kita tahu bahwa di luar sana banyak sekali organisasi-organisasi kepemudaan yang sudah jauh lebih lama. Kita hanya menjadi salah satu saja, tetapi ini wadah untuk bisa mengumpulkan juga suara-suara tersebut,” katanya.

Pengumpulan aspirasi akan dilakukan dalam beberapa waktu ke depan. Selanjutnya, pengurus diharapkan menyampaikan masukan tersebut kepada pihak terkait, baik di tingkat daerah maupun pemerintah pusat.

 

Perluas Ruang Aspirasi

Ketua Dewan Pembina Rembuk Pemuda, Rahayu Saraswati. (Liputan6.com/Ady Anugrahadi)

Rahayu berharap jangkauan organisasi itu terus berkembang sehingga semakin banyak suara anak muda dari berbagai daerah yang terwakili.

“Nah, itu tentunya akan kita lihat, apakah kalau itu kaitannya dengan lapangan pekerjaan, di bagian mananya. Apakah itu kaitannya dengan UMKM, atau itu kaitannya dengan hilirisasi, apakah itu dengan industri, apakah itu persoalan dengan keuangan, kebijakan fiskal, apakah itu kaitannya dengan agroforestry, dengan pertanian, perkebunan, itu semua harus dikumpulkan terlebih dahulu,” jelasnya.

Dia menegaskan, forum pemuda tidak boleh berhenti pada diskusi atau perdebatan. Aspirasi yang terkumpul harus menghasilkan kesimpulan dan solusi yang bisa dirasakan masyarakat.

“Sangat disayangkan kalau misalkan kita hanya berkomunikasinya kalau lewat medsos itu kan sering kali hanya satu arah. Di sini harus ada tempat ruang untuk kita bisa, bahkan bukan hanya berdiskusi tapi ada satu kesimpulan yang bisa diambil dalam bentuk apa pun itu di daerah yang ujungnya harus berdampak secara positif untuk masyarakat di daerah mereka masing-masing,” tandasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya