Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok signifikan pada perdagangan saham 26-30 Oktober 2026. Analis menilai, koreksi IHSG sepekan didorong aliran dana yang keluar dari pasar saham dan rilis the Federal Reserve (the Fed) soal suku bunga.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (31/10/2026), IHSG sepekan merosot 7,03% dan ditutup ke level 5.057,05 dibandingkan pekan lalu 5.439,25.
Advertisement
Kapitalisasi pasar saham merosot 7,52% menjadi Rp 8.862 triliun dibandingkan pekan lalu Rp 9.583 triliun.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG sepekan merosot 7,03% dan masih disertai dengan munculnya tekanan jual. Ada sejumlah sentimen yang mempengaruhi IHSG sepekan.
Pertama, Herditya menuturkan, tekanan aliran dana yang keluar atau outflow masih mendominasi IHSG setelah pengumuman usulan dari MSCI mengenai perubahan status pasar saham Indonesia. Namun, sisi lain, pemangku kebijakan telah mengambil langkah mitigasi untuk hal itu. Selain itu, ada aksi buyback saham dari beberapa emiten tanpa RUPS yang diperpanjang hingga 2027.
Kedua, pasar menanti akan ada kebijakan high shareholding concentration (HSC) yang akan berlaku 2 November 2026 di mana akan dikeluarkan dari formulasi perhitungan IHSG.
“Ketiga, rilis Fed Fund Rate yang masih berada pada level 3,75%-4% pada pekan ini, meskipun tidak menutup kemungkinan aka nada kenaikan pada akhir 2026 dan awal 2027,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.
Keempat, Herditya menuturkan, rupiah masih dalam tekanan dan masih terdepreasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan saat ini berada di level 18.158 per dolar AS.
Di sisi lain, rata-rata nilai transaksi harian mengalami penyesuaian 29,49% menjadi Rp 14,33 triliun dari pekan lalu Rp 20,34 triliun. Rata-rata frekuensi transaksi harian merosot 20,99% menjadi 1,54 juta kali transaksi dibandingkan 1,95 juta kali transaksi pada pekan lalu. Selain itu, rata-rata volume transaksi harian merosot 18,85% menjadi 32,43 miliar saham dari 39,95 miliar saham pada pekan lalu.
Selama sepekan, investor asing masih mencatat aksi jual saham di pasar saham Indonesia. Tercatat investor asing melepas saham Rp 3,05 triliun. Aksi jual saham ini lebih kecil dibandingkan pekan lalu Rp 6,67 triliun.
IHSG Sepekan Melonjak 4,9%, Investor Asing Lepas Saham Rp 6,67 Triliun
Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada perdagangan saham 19-23 Oktober 2026. Lonjakan IHSG sepekan ini, menurut analis terjadi di tengah ketidakpastian di pasar setelah penyedia indeks global MSCI membuka konsultasi soal potensi perubahan status pasar saham Indonesia.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu, (24/10/2026), IHSG sepekan menguat 4,9% menjadi 5.439,25 dari penutupan pekan lalu di 5.185,10. Sementara itu, kapitalisasi pasar saham melompat 4,66% menjadi Rp 9.583 triliun dari Rp 9.157 triliun pada pekan lalu.
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji menuturkan, pergerakan IHSG pekan lalu masih diwarnai tingginya ketidakpastian pasar. Hal ini terutama setelah MSCI mengumumkan konsultasi terkait usulan reklasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
"Pengumuman itu meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek arus modal asing, likuiditas perdagangan, serta daya tarik pasar saham Indonesia di mata investor global,” ujar Nafan saat dihubungi Liputan6.com.
Meski demikian, ia menuturkan, IHSG sempat mengalami technical rebound usai terkoreksi tajam pada pekan lalu. Penguatan IHSG ini menunjukkan mulai munculnya aksi beli pada saham-saham yang telah mengalami penurunan signifikan, meski belum sepenuhnya mengindikasikan pulihnya kepercayaan investor.
Terkait pengumuman MSCI, ia menilai isu ini perlu dicermati secara serius karena berpotensi menimbulkan dampak struktural terhadap pasar modal Indonesia. Apabila Indonesia benar-benar direklasifikasi menjadi Standalone Market, terdapat risiko berkurangnya alokasi dana dari investor institusi global yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan investasi.
"Kondisi tersebut berpotensi memicu penyesuaian portofolio, meningkatkan tekanan jual asing, serta menekan likuiditas dan valuasi saham-saham berkapitalisasi besar. Namun, keputusan final belum diambil. MSCI masih membuka periode konsultasi hingga 30 April 2027 dan dijadwalkan mengumumkan keputusan final paling lambat 30 Juni 2027,” ujar Nafan.
Faktor Penting
Oleh karena itu, ia menegaskan, langkah konkret pemerintah, OJK, dan BEI dalam meningkatkan transparansi kepemilikan saham, memperbaiki keterbukaan informasi, memperkuat pengawasan transaksi, serta menegakkan aturan secara konsisten akan menjadi faktor penting dalam memulihkan kepercayaan investor.
Hal senada dikatakan Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana. Ia menuturkan, pengumuman usulan MSCI bagi Indonesia yang akan diturunkan dari emerging market ke standalone market di mana hal ini membuat aksi jual besar-besaran di IHSG sehingga pada awal pekan lalu sempat mengalami trading halt. Ia menuturkan, dalam hal ini, OJK beserta BEI telah merespons dan menyatakan akan melanjutkan reformasi pasar modal dan juga transparansi tata kelola.
“Pemulihan IHSG setelah koreksi tajam yang kami perkirakan merupakan relief rebound setelah ada perubahan aturan Auto Rejecton Bawah atau ARB, di mana mulai adanya aksi buyback dari emiten-emiten khususnya perbankan dan juga mulai masuknya Danantara ke IHSG,” ujar Herditya.
Keputusan BI Membayangi IHSG
Ia menambahkan, sentimen IHSG lainnya berasal dari keputusan Bank Indonesia yang masih mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate masih bertahan pada level 5,75% dengan ada kenaikan deposit facility menjadi 5% di tengah pelemahan nilai tukar rupiah.
Namun demikian, BI berkomitmen akan menjaga stabilitas nilai tukar dengan memperkuat instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan juga pasar spot.
Sementara itu, rata-rata frekuensi transaksi harian juga melompat 13,80% menjadi 1,95 juta kali transaksi, dibandingkan 1,72 juta kali transaksi pada pekan lalu. Kenaikan tertinggi terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian yang menguat 25,42% menjadi Rp 20,34 triliun dari Rp 16,22 triliun pada pekan lalu.
Di sisi lain, rata-rata volume transaksi harian tercatat 39,96 miliar saham, merosot 9,39% dibandingkan pekan lalu 44,10 miliar saham.
Investor asing masih mencatat aksi jual saham sepanjang pekan ini. Tercatat aksi jual saham oleh investor asing mencapai Rp 6,67 triliun. Aksi jual saham oleh investor asing ini lebih besar dibandingkan pekan lalu Rp 3,19 triliun.