Triple 80, Strategi Menkes Tekan Kematian Akibat Stroke dan Penyakit Ginjal

Menkes mendorong perubahan strategi dari mengobati orang sakit menjadi menjaga masyarakat tetap sehat.

oleh Ady AnugrahadiDiterbitkan 30 Oktober 2026, 18:12 WIB
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta kalangan kesehatan masyarakat mengambil peran lebih besar dalam pembangunan kesehatan nasional. Ia mendorong perubahan strategi dari mengobati orang sakit menjadi menjaga masyarakat tetap sehat.

Melalui strategi Triple 80, pemerintah menargetkan penurunan angka kematian akibat penyakit kardiovaskular, stroke, dan ginjal hingga 80 persen.

Budi menilai, pendekatan yang terlalu bertumpu pada rumah sakit, dokter spesialis, obat-obatan, dan alat kesehatan mahal akan membuat pembiayaan kesehatan semakin berat. Karena itu, pencegahan dan pengendalian faktor risiko perlu menjadi prioritas.

“Saya ingin menghimbau teman-teman di kesehatan masyarakat. Kesempatannya sekarang sangat besar untuk teman-teman kesehatan masyarakat lebih berani, lebih percaya diri untuk take the lead di sektor kesehatan di Indonesia,” kata Budi saat memaparkan materi dalam Kongres Nasional (KONAS) XVI dan Forum Ilmiah Tahunan (FIT) XII Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) di Gedung Nusantara V, Kompleks MPR/DPR RI, Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Budi mengaku sangat percaya pada peran kesehatan masyarakat. Pandangannya tersebut, kata dia, turut dipengaruhi latar belakangnya di bidang keuangan yang terbiasa melihat perbandingan antara biaya dan hasil.

Ia mencontohkan Amerika Serikat yang memiliki usia harapan hidup sekitar 79 tahun, dengan belanja kesehatan per kapita mencapai 11.900 dolar AS per tahun.

Sementara itu, Panama dan Kuba disebut memiliki usia harapan hidup serupa dengan belanja kesehatan sekitar 1.900 dolar AS per kapita.

“Daripada saya keluarin 11.900 dolar per tahun untuk bayar rumah sakit, apotek, dokter di Amerika, mendingan saya pindah ke Panama, Kuba. Bayarnya 1.900, 10.000-nya bisa saya pakai setiap tahun liburan ke Bali,” ujar Budi.

Budi kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan Jepang. Negara itu memiliki usia harapan hidup sekitar 84 tahun, dengan belanja kesehatan per kapita sekitar 5.500 dolar AS.

Singapura juga memiliki usia harapan hidup sekitar 84 tahun, dengan belanja kesehatan per kapita sekitar 3.300 dolar AS.

“Kenapa Jepang lebih hemat daripada Amerika, usia lebih panjang? Karena strateginya di Jepang adalah menjaga masyarakatnya sehat, bukan mengobati saat sakit, Bapak, Ibu. Singapura menjaga masyarakatnya sehat, bukan hanya mengobati saat sakit,” tegasnya.

 

Ini Kunci Menkes Pangkas Kematian Jantung dan Stroke 80 Persen

Usia Harapan Hidup Indonesia

Budi turut menyinggung posisi Indonesia yang menurutnya memiliki usia harapan hidup sekitar 74 tahun, sedangkan Malaysia mencapai 76 tahun.

Adapun belanja kesehatan per kapita Indonesia disebut baru sekitar 130 dolar AS, sementara Malaysia sekitar 430 dolar AS.

Ia memperkirakan, jika Indonesia ingin menyamai tingkat belanja kesehatan Malaysia, kebutuhan dana dapat mencapai sekitar Rp 1.800 triliun.

Perhitungan tersebut didasarkan pada asumsi belanja kesehatan sebesar 300 dolar AS per kapita, dikalikan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa dan kurs Rp 17.000 per dolar AS.

“Kalau kita sebagus Malaysia, Indonesia kita belum sebagus dia, dapat 300 dolar. Kali 280 juta, itu dapat 84 miliar dolar. Kalau dikali Rp 17.000 sekitar Rp1.800 triliun. Kita sekarang belanja kesehatannya Rp640 triliun, naik tiga kali lipat,” paparnya.

Menurut Budi, peningkatan belanja hingga sebesar itu akan sulit ditanggung jika strategi kesehatan masih berorientasi pada pengobatan.

“Kalau pendekatannya program kesehatan Kemenkes seperti yang lalu, enggak akan kuat kita membiayai layanan kesehatan Indonesia,” katanya.

Ia pun menegaskan pentingnya menempatkan kesehatan masyarakat sejajar dengan kedokteran dalam pembangunan sektor kesehatan.

“Itu kenapa namanya Menteri Kesehatan, bukan Menteri Kesakitan, bukan Menteri Kesembuhan, bukan Menteri Kedokteran,” ucapnya.

Budi bahkan meminta Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) memiliki posisi kuat dalam menentukan arah kebijakan kesehatan. Menurut dia, upaya menjaga masyarakat tetap sehat harus lebih diutamakan daripada hanya berfokus pada rumah sakit dan pengobatan penyakit.

“Karena kalau enggak, enggak mungkin negara bisa menanggung belanja kesehatannya kalau strategi kita adalah mengobati orang sakit, ngurusin rumah sakit, alat-alat kesehatan mahal, obat-obatan kanker mahal, ini dokter-dokter spesialis. Strategi itu akan membuat masyarakat kita tidak akan terlayani dari sisi kesehatannya,” ujarnya.

 

Strategi Pencegahan

Sebagai bagian dari strategi pencegahan, Budi menyebut Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto menjadi peluang besar bagi kalangan kesehatan masyarakat. Program tersebut, menurut dia, telah menjangkau sekitar 130 juta orang pada bulan ini.

“Tahun lalu 70 juta, bulan lalu 111 juta, bulan ini 130 juta,” ungkapnya.

Melalui pemeriksaan tersebut, pemerintah memiliki data tekanan darah, gula darah, kolesterol, hingga indeks massa tubuh atau BMI masyarakat. Budi mengatakan, data itu perlu dimanfaatkan untuk menyusun intervensi kesehatan yang lebih terukur.

“Ambillah kesempatan ini. Teman-teman kesehatan masyarakat sekarang memiliki laboratorium percobaan yang paling besar di dunia. Karena secara cohort setiap tahun data-data itu akan masuk,” katanya.

Ia mencontohkan, warga dengan tekanan darah tinggi dapat diberikan obat amlodipin, penderita gula darah tinggi mendapat metformin, sedangkan mereka yang memiliki kolesterol tinggi dapat diberikan statin. Setelah itu, kondisi mereka kembali diukur untuk mengetahui apakah pengobatan berhasil mengendalikan faktor risiko.

Budi menyampaikan target agar sebelum dirinya pensiun atau berpindah jabatan, separuh populasi telah menjalani skrining. Ia juga menargetkan separuh dari kelompok yang hasil pemeriksaannya menunjukkan kondisi tertentu mendapatkan pengobatan, dan separuh dari kelompok yang diobati berhasil mencapai kondisi terkendali.

“Saya ingin targetnya kalau bisa sebelum saya pensiun atau pindah, 50 persen dari populasi sudah di-screening, 50 persen yang kuning dan hijau, yang darah tinggi tekanannya di atas 120/80 bisa diobati, dan 50 persen dari itu terkendali,” paparnya.

Budi berharap pengendalian tekanan darah, gula darah, dan kolesterol dapat menekan beban pembiayaan BPJS Kesehatan. Menurut dia, ketiga faktor tersebut berkaitan dengan risiko penyakit jantung, ginjal, dan stroke.

“Kalau tekanan darah, gula darah, kolesterol darah, BMI-nya terkendali, angka BPJS enggak seseram tadi,” ujarnya.

Untuk mempercepat upaya tersebut, Budi memaparkan strategi Triple 80. Skema ini mencakup 80 persen penduduk menjalani pemeriksaan kesehatan, 80 persen dari mereka yang hasil pemeriksaannya bermasalah mendapatkan pengobatan, dan 80 persen dari kelompok yang diobati berhasil mencapai kondisi terkendali.

“Penelitian di banyak negara di dunia, kalau kita bisa Triple 80, ya 80 persen screening, 80 persen yang kemudian kondisinya tidak baik diobati, 80 persen diobati terkendali, itu bisa menurunkan 80 persen kematian dari cardiovascular diseases, stroke sama jantung sama ginjal,” kata Budi.

Ia berharap strategi tersebut dapat memperpanjang usia harapan hidup masyarakat Indonesia. Budi juga mengajak para ahli kesehatan masyarakat memanfaatkan perluasan program CKG untuk memperkuat pencegahan penyakit dan pengendalian faktor risiko.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya