Liputan6.com, Jakarta - Kekayaan dua pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin, berkurang sekitar US$ 60 miliar atau setara Rp 1.086 triliun (kurs Rp 18.148 per dolar AS). Penurunan drastis ini terjadi setelah saham perusahaan induknya, Alphabet, anjlok pada perdagangan Kamis (29/10/2026).
Mengutip Yahoo Finance, Jumat (30/10/2026), anjloknya saham Alphabet dipicu oleh rilis laporan keuangan kuartal III 2026 yang di bawah ekspektasi investor. Harga saham merosot lebih dari 12% dari US$ 321,89 menjadi US$ 283,29.
Advertisement
Bloomberg melaporkan, penurunan tersebut menguapkan lebih dari US$ 500 miliar (sekitar Rp 9.074 triliun) dari total kapitalisasi pasar Alphabet. Sementara Associated Press (AP) mencatat saham Alphabet merosot hingga 13,4%, yang berpotensi menjadi penurunan harian terburuk dalam sejarah perusahaan.
Berdasarkan perkiraan Forbes, kekayaan Larry Page menyusut sekitar US$ 31 miliar (sekitar Rp 562 triliun), sedangkan Sergey Brin kehilangan sekitar US$ 29 miliar (sekitar Rp 526 triliun). Penurunan ini merupakan kerugian di atas kertas (paper loss) akibat anjloknya harga saham, bukan dari penjualan fisik saham.
Meski demikian, keduanya masih memegang masing-masing sekitar 3% saham Alphabet dan tetap memegang kontrol suara dominan lewat struktur saham multikelas.
Pendapatan Google Search Di Bawah Ekspektasi
Salah satu penekan utama sentimen investor adalah pertumbuhan pendapatan Google Search yang lebih lambat dari perkiraan pasar.
Pendapatan layanan pencarian Google naik 12% menjadi US$ 63,4 miliar (sekitar Rp 1.150 triliun). Namun, capaian tersebut berada di bawah proyeksi analis yang mengharapkan pertumbuhan sebesar 15%.
Kondisi ini menjadi alarm bagi pasar karena Google Search merupakan kontributor utama pendapatan Alphabet melalui bisnis iklan. Investor khawatir kehadiran teknologi AI generatif mulai menggerus dominasi mesin pencari Google.
Belanja Infrastruktur AI Tembus Rp 932 Triliun
Selain perlambatan Google Search, besarnya pengeluaran Alphabet untuk proyek AI turut menjadi perhatian.
Pada kuartal III 2026, Alphabet mengalokasikan belanja modal (capital expenditure) hingga US$ 51,4 miliar atau setara Rp 932 triliun. Angka ini menghabiskan sekitar 40% dari total pendapatan perusahaan pada periode yang sama.
Sebagian besar dana dialokasikan untuk pembangunan pusat data AI dan infrastruktur komputasi. Kendati menunjukkan ambisi besar di peta persaingan AI, investor mulai mempertanyakan kapan investasi jumbo tersebut dapat memberikan imbal hasil yang nyata.
Capaian Google Cloud dan Kontrol Pendiri
Di tengah tekanan pada bisnis Search, Google Cloud mencatatkan kinerja positif dengan pendapatan mencapai US$ 30,7 miliar (sekitar Rp 557 triliun). Kendati tumbuh pesat di segmen enterprise, capaian ini belum cukup menutupi kekhawatiran investor atas penurunan margin laba dan lonjakan beban operasional.
Secara keseluruhan, Alphabet membukukan total pendapatan US$ 127,6 miliar (sekitar Rp 2.315 triliun) dan laba bersih US$ 26,2 miliar (sekitar Rp 475 triliun) pada kuartal III 2026.
Meskipun pasar merespons negatif strategi pengeluaran AI perusahaan, Larry Page dan Sergey Brin yang memegang hak suara mayoritas diperkirakan tetap mempertahankan arah kebijakan serta investasi jangka panjang Alphabet di sektor kecerdasan buatan.