Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Menteri ESDM) Bahlil Lahadalia mendorong penggunaan teknologi untuk mengoptimalkan sumur-sumur minyak Indonesia yang sudah tua atau melewati masa produktif puncaknya. Langkah ini menjadi strategi pemerintah untuk meningkatkan produksi minyak nasional di tengah tingginya kebutuhan energi.
Bahlil menilai kondisi sumur migas Indonesia yang menua membutuhkan inovasi dan rekayasa teknologi agar produksi atau lifting minyak kembali meningkat.
Advertisement
“Sumur-sumur di Indonesia ini bukan lagi sumur yang ABG atau sumur yang masih muda, masih baru. Sumurnya sudah pada tua,” ujar Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam Forum Eksekutif Hulu Migas (FOREK) 2026 di Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Bahlil meminta kontraktor kontrak kerja sama (K3S) mempercepat penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) untuk meningkatkan produksi dari sumur-sumur tua. Pemerintah juga akan mendorong pemberian insentif agar penerapan teknologi tersebut tetap ekonomis.
“Saya meminta kepada teman-teman juga untuk segera melakukan inovasi untuk membantu dengan teknologi yang baik,” kata Bahlil.
Pada 2025, produksi minyak Indonesia mencapai sekitar 600.000–605.000 barel per hari, sedangkan konsumsi nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Kesenjangan tersebut membuat Indonesia masih bergantung pada impor minyak.
Selain mengoptimalkan sumur tua, Bahlil meminta kontraktor segera mengembangkan lapangan yang telah menyelesaikan eksplorasi dan memperoleh persetujuan rencana pengembangan atau Plan of Development (POD). Pemerintah juga mempercepat lelang blok migas baru untuk membuka peluang peningkatan produksi.
Bahlil menegaskan percepatan investasi dan penerapan teknologi menjadi bagian penting dari upaya pemerintah mencapai target peningkatan produksi migas pada 2029–2030 sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Ekspor LNG
Sebelumnya, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto mengungkap bahwa Indonesia akan mengirim gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) ke Singapura, meskipun sebelumnya pemerintah memangkas volume ekspor gas pipa ke negara tersebut.
Djoko mengatakan, LNG akan diekspor ke BP Singapore dan Shell Singapore. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia disebut telah menandatangani persetujuan ekspor tersebut.
“Kemarin Bapak Menteri juga menandatangani untuk ekspor LNG ke BP Singapura dan Shell Singapura. Meskipun kita mengurangi sedikit, kita tetap konsisten memasok banyak ke Singapura,” kata Djoko di Ritz-Carlton, Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Selain kesepakatan ekspor ke luar negeri, Djoko menyebut ada penandatanganan alokasi gas alam untuk kebutuhan dalam negeri. PT PLN (Persero) dan PT PGN (Persero) Tbk dipastikan mendapat alokasi LNG.
Sementara itu, PT Pupuk Indonesia (Persero) akan menerima alokasi gas pipa. Pasokan tersebut dipastikan telah mengantongi izin dari Bahlil.
“Alhamdulillah kemarin dan sehari sebelumnya Bapak Menteri juga telah menandatangani persetujuan alokasi gas domestik, baik berupa gas pipa untuk Pupuk Indonesia maupun LNG untuk PLN dan PGN,” tuturnya.
Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) tersebut dijadwalkan bakal ditandatangani dalam ajang Forum Ekonomi, Keuangan, dan Komersil (Forek) Hulu Migas pada 28 Oktober 2026. “Mudah-mudahan besok PJBG tersebut resmi ditandatangani pada acara Forek,” ucapnya.