Liputan6.com, Jakarta - Kandidat presiden Brasil yang kalah dalam pemilu, Flavio Bolsonaro, dilaporkan telah tiba di Amerika Serikat (AS), beberapa jam setelah pemerintah Brasil membatalkan paspornya. Informasi tersebut disampaikan sejumlah sumber kepada BBC.
Dikutip dari BBC, Rabu (28/10/2026), politikus sayap kanan itu meninggalkan Brasil setelah Mahkamah Agung memerintahkannya menyerahkan paspor di tengah penyelidikan dugaan pencucian uang. Namun, Flavio belum didakwa dan telah membantah tuduhan tersebut.
Advertisement
Paspor Flavio dibatalkan pada Selasa setelah ia melewatkan tenggat waktu penyerahan dokumen tersebut kepada pihak berwenang. Keputusan itu memicu spekulasi luas bahwa ia telah meninggalkan Brasil.
Sumber BBC Brasil dan BBC Mundo menyebut Flavio telah bertemu dengan adiknya, Eduardo Bolsonaro, di Florida. Namun, rute perjalanan yang ditempuhnya dari Brasil ke AS belum diketahui secara pasti.
Kedua bersaudara itu belum dapat dihubungi secara langsung untuk dimintai komentar.
Kabar kedatangan Flavio di AS muncul beberapa jam setelah seorang pejabat senior AS mengonfirmasi bahwa Departemen Luar Negeri AS akan menerbitkan visa bagi Flavio dan keluarganya serta mengizinkan mereka masuk ke negara tersebut.
BBC telah menghubungi Gedung Putih, Departemen Luar Negeri AS, serta kedutaan besar kedua negara untuk meminta keterangan.
Diselidiki atas Dugaan Pencucian Uang
Pada Senin, Mahkamah Agung Brasil memerintahkan Flavio menyerahkan paspornya kepada polisi dalam waktu 24 jam sebagai bagian dari penyelidikan dugaan pencucian uang.
Saat itu, Flavio mengatakan tidak memiliki rencana meninggalkan Brasil. Ia bersikeras akan tetap berada di negaranya untuk memimpin oposisi terhadap rival politiknya dari kubu kiri, Presiden Luiz Inácio Lula da Silva, yang memenangkan pemilu pada Minggu.
Namun, setelah tenggat penyerahan paspor terlewati, pengacara Flavio mengatakan kepada BBC Brasil bahwa mereka sama sekali tidak mengetahui keberadaan kliennya.
"Kami tidak mengetahui apa pun tentang hal ini, dan kami masih belum memiliki informasi mengenai apa yang terjadi," kata salah seorang pengacaranya.
Flavio belum menyampaikan pernyataan publik sejak Senin sore waktu setempat, ketika ia mengunggah sebuah video di media sosial.
Seorang sumber kepolisian mengatakan kepada BBC News Brasil bahwa petugas federal telah memeriksa sejumlah perlintasan perbatasan untuk memastikan apakah Flavio pergi ke negara tetangga, Argentina.
Namun, otoritas Argentina mengatakan kepada BBC bahwa tidak ada catatan yang menunjukkan senator tersebut memasuki negara itu melalui perlintasan perbatasan mana pun.
Flavio sebelumnya telah diselidiki atas dugaan korupsi terkait pendanaan sebuah film tentang ayahnya, mantan Presiden Jair Bolsonaro. Sang ayah telah dinyatakan bersalah atas rencana kudeta dan kini menjalani tahanan rumah.
Penyelidikan terpisah juga menyoroti dugaan hubungan Flavio dengan seorang pengacara Brasil yang dituduh melakukan pencucian uang lebih dari US$1 miliar melalui skema penipuan.
Awal bulan ini, polisi mengatakan menemukan bukti bahwa Flavio memiliki akses ke rekening bank perusahaan milik pengacara tersebut.
Flavio membantah pernah berbisnis dengan pengacara itu. Ia juga menyebut penyitaan paspornya sebagai upaya untuk mengintimidasi dirinya.
Selain penyelidikan tersebut, Mahkamah Agung Brasil pada Selasa memerintahkan polisi menyelidiki kampanye pemilu Flavio terkait dugaan pendanaan dari luar negeri.
Kalah dari Lula, Tolak Terima Hasil Pemilu
Senator berusia 45 tahun itu mengalami kekalahan telak pada Minggu setelah dikalahkan Lula dalam pemilihan presiden putaran kedua. Sebelumnya, Flavio secara luas diperkirakan akan memenangkan pemilu tersebut.
Jajak pendapat sebelum pemilihan menempatkan Flavio sedikit unggul dari Lula. Sejumlah analis juga menilai kemenangan Bolsonaro pada putaran pertama, 4 Oktober, membuatnya berpeluang besar memenangi putaran kedua.
Namun, setelah sempat unggul pada awal penghitungan suara, Flavio akhirnya tersalip oleh Lula, presiden petahana yang telah berpengalaman. Lula menjadi kandidat presiden pertama yang mampu membalikkan kekalahan pada putaran pertama menjadi kemenangan pada putaran kedua.
Lula meraih 51,79 persen suara, sedangkan Flavio memperoleh 48,21 persen.
Meski tertinggal 4,4 juta suara, Flavio belum mengakui kekalahannya dan justru menyerukan agar hasil pemilu dibatalkan.
Ia beralasan dirugikan oleh perpanjangan waktu pemungutan suara selama dua jam pada hari pemilihan. Padahal, perpanjangan tersebut diminta oleh partainya maupun partai yang mendukung rivalnya.
Flavio menyebut perpanjangan waktu yang diperintahkan seorang hakim Mahkamah Agung itu sebagai "siasat kotor".
Meski demikian, Partai Liberal, yang mengusung Flavio dalam pemilu, telah menerima hasil pemilihan. Namun, partai tersebut menyatakan bahwa perpanjangan waktu pemungutan suara "layak diselidiki".
Sementara itu, adik Flavio, Eduardo, tinggal di Texas, AS. Namun, pada Minggu, ia berada di Miami untuk memberikan suara di tempat pemungutan suara sekaligus menghadiri acara pemantauan hasil pemilu yang disiarkan kepada para pengikutnya.
Sumber BBC telah mengonfirmasi bahwa Flavio bertemu dengan Eduardo di Florida. Meski begitu, belum jelas bagaimana ia melakukan perjalanan dari Brasil ke AS, siapa saja yang mendampinginya, serta apakah ia berniat menetap di negara tersebut.