Putin Bicara 90 Menit dengan Pemimpin Finlandia dan Norwegia soal Perang Ukraina

Inisiatif diplomatik Finlandia dan Norwegia ini memicu kritik Denmark karena dilakukan tanpa koordinasi dengan negara-negara Nordik lainnya.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 28 Oktober 2026, 08:03 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin tiba di Bandara Turkmenbashi, Turkmenistan, Kamis (8/10/2026), untuk menghadiri KTT Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (CIS). (Dok. AFP/Vladimir Smirnov)

Liputan6.com, Helsinki - Presiden Finlandia Alexander Stubb dan Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Store melakukan pembicaraan terbuka dan mendalam dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Selasa (27/10/2026) mengenai upaya mengakhiri perang di Ukraina. Hal itu disampaikan kedua pemimpin negara Nordik tersebut dalam pernyataan bersama.

Pembicaraan ini menjadi upaya terbaru negara-negara sekutu Ukraina untuk meredakan konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II. Perang tersebut dimulai ketika Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina pada Februari 2022.

"Hasil perang ini akan berdampak langsung terhadap keamanan negara kami dan Eropa secara keseluruhan. Untuk mengakhiri perang, diperlukan pembicaraan langsung," tutur Stubb dalam pernyataan bersama dengan Store seperti dilaporkan AFP.

Berbicara kepada wartawan di Helsinki, Stubb menjelaskan bahwa gagasan untuk menghubungi Putin muncul dalam pertemuan di Oslo pada 20 Oktober. Pertemuan tersebut dihadiri Stubb, Store, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, dan utusan Amerika Serikat (AS) Steve Witkoff.

Menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, pun mengikuti pertemuan itu secara daring. Seusai pertemuan di Oslo, Witkoff bertolak ke Saint Petersburg untuk menemui Putin.

Menurut Stubb, baik pihak AS maupun Ukraina menilai bahwa menghubungi Putin merupakan langkah yang baik. Ukraina juga menginginkan bantuan negara-negara Nordik untuk "membuka jalur komunikasi" dengan Rusia.

Sementara itu, Store, yang berada di Helsinki untuk menghadiri pertemuan para pemimpin negara Nordik, mengatakan bahwa pembicaraan selama 90 menit dengan Putin memperlihatkan adanya "perbedaan pandangan yang besar" mengenai Ukraina.

Dalam pernyataan resminya, Kremlin menyebut Putin menegaskan bahwa "kebijakan konfrontatif" Uni Eropa dan NATO justru menjadi penyebab berlarut-larutnya pertempuran.

Kremlin juga menyatakan bahwa ketiga pemimpin sepakat untuk terus menjaga komunikasi langsung melalui telepon.

Denmark Skeptis terhadap Inisiatif Finlandia dan Norwegia

PM Denmark Mette Frederiksen. (Dok. AP/Jeremias Gonzalez)

Stubb menggambarkan pembicaraan dengan Putin berlangsung secara "terbuka dan substantif".

Tidak lama setelah pembicaraan tersebut diumumkan, pemerintah Ukraina menyatakan bahwa Zelenskyy telah menghubungi kedua pemimpin Nordik itu untuk membahas percakapan mereka dengan Putin.

Stubb dan Store menegaskan bahwa mereka hanya mewakili negara masing-masing dalam pembicaraan tersebut, bukan bertindak atas nama Eropa. Namun, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menyayangkan keputusan keduanya mengambil langkah tanpa berkoordinasi dengan negara-negara lain.

"Saya sangat skeptis terhadap inisiatif Norwegia dan Finlandia ini. Langkah tersebut sama sekali tidak dikoordinasikan dengan kami yang lain," kata Frederiksen kepada wartawan saat menghadiri pertemuan para pemimpin Nordik di Finlandia, yang juga dihadiri Stubb dan Store.

"Sejujurnya, saya tidak tahu apa yang menurut kedua negara itu bisa mereka capai melalui langkah ini," lanjutnya.

Store menolak kritik tersebut.

"Dalam situasi yang kita hadapi saat ini, tidak seharusnya hanya pemerintahan AS yang memiliki jalur komunikasi dengan pemimpin Rusia. Negara-negara Eropa juga harus bisa melakukannya," ungkap Store kepada wartawan.

 

Ketegangan Hubungan AS dan Ukraina

Dalam foto yang dirilis oleh Kantor Kepresidenan Ukraina, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy (kanan) dan mantan Presiden AS Donald Trump tampak berbincang di sela menghadiri pemakaman Paus Fransiskus di Vatikan, Sabtu (26/4/2025). (Dok. Kantor Pers Kepresidenan Ukraina via AP)   

Stubb mengungkapkan pula bahwa gagasan untuk membuka dialog dengan Rusia sebenarnya telah dibahas sejak beberapa waktu lalu. Namun, ketegangan hubungan antara AS dan Ukraina menjadi faktor yang akhirnya mendorong langkah tersebut.

Hubungan kedua negara kembali memanas setelah Trump secara tiba-tiba mengumumkan kesepakatan dengan Rusia untuk memperoleh pasokan bahan bakar diesel pada Oktober 2026. Kesepakatan itu merupakan bagian dari upayanya menurunkan harga minyak yang melonjak akibat perang yang dilancarkannya terhadap Iran.

Ukraina merespons perkembangan tersebut dengan kekecewaan, terutama setelah Trump memberikan pengecualian terhadap sanksi yang dikenakan kepada Rusia dan kembali mengubah pendekatannya dengan lebih mendekat kepada Putin.

Pertemuan di Oslo berlangsung setelah serangkaian upaya diplomatik intensif dilakukan di Washington, Kyiv, dan sejumlah ibu kota negara Barat untuk meredakan ketegangan tersebut.

Norwegia dan Finlandia, yang sama-sama merupakan anggota NATO dan berbatasan langsung dengan Rusia, menegaskan dalam pernyataan bersama bahwa kedua negara tetap menjadi "pendukung kuat Ukraina".

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya