Ballon d'Or Tak Selalu Milik Juara Piala Dunia, Lamine Yamal Bukan yang Pertama

Lamine Yamal bukan pemenang Piala Dunia pertama yang gagal memenangkan Ballon d'Or di tahun yang sama.

oleh Serafinus Sapto Prasetyo UnuspasiDiterbitkan 27 Oktober 2026, 21:10 WIB
Penyerang Spanyol dan Barcelona Lamine Yamal berbicara setelah memenangkan Trofi he Men's Young Talent of the Year pada upacara penghargaan Ballon d'Or France Football 2026 di Teater Palladium di London pada 27 Oktober 2026. (FRANCK FIFE/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Ballon d'Or 2026 telah resmi mengumumkan pemenangnya. Harry Kane keluar sebagai peraih penghargaan individu paling bergengsi di dunia sepak bola tersebut, mengungguli dua pesaingnya, Kylian Mbappe dan Lamine Yamal.

Kemenangan Kane memunculkan sejumlah pertanyaan. Sebagian pihak menilai Yamal lebih layak membawa pulang trofi tersebut setelah memainkan peran penting dalam keberhasilan Timnas Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026.

Namun, benarkah pemenang Ballon d'Or harus berasal dari negara yang menjuarai Piala Dunia pada tahun yang sama?

Jika melihat catatan sejarah, jawabannya tidak. Keberhasilan di Piala Dunia memang bisa menjadi faktor penting dalam penilaian, tetapi gelar tersebut bukan jaminan bagi seorang pemain untuk memenangkan Ballon d'Or.


Lionel Messi dan Tradisi Pemenang Ballon d'Or Setelah Piala Dunia

Lionel Messi berhasil meraih penghargaan Ballon d'Or 2023 pada malam penghargaan yang berlangsung di Theatre du Chatelet, Paris, Selasa (31/10/2023) dini hari WIB. Messi mengungguli nama-nama beken lainnya, seperti Erling Haaland dan Kylian Mbappe. (AP Photo/Michel Euler)

Lionel Messi menjadi salah satu nama yang paling sering dicontohkan sebagai pemenang Ballon d'Or usai memenangkan Piala Dunia.

Messi mengantarkan Timnas Argentina menjadi juara Piala Dunia 2022 di Qatar. La Albiceleste keluar sebagai kampiun setelah mengalahkan Prancis melalui adu penalti dalam pertandingan final yang berlangsung dramatis.

Namun, Messi baru memenangkan Ballon d'Or berikutnya pada 2023. Penyesuaian jadwal Piala Dunia 2022 ke November dan Desember membuat turnamen tersebut berlangsung pada musim dingin, berbeda dari penyelenggaraan yang biasanya digelar pada pertengahan tahun.

Sejumlah pemain legendaris lainnya juga pernah meraih Ballon d'Or setelah membawa negaranya menjuarai Piala Dunia pada tahun yang sama. Fabio Cannavaro melakukannya pada 2006 setelah mengantarkan Italia menjadi juara di Jerman.

Ronaldo Nazario juga meraih penghargaan tersebut pada 2002, tahun ketika Brasil menjuarai Piala Dunia di Korea Selatan dan Jepang. Empat tahun sebelumnya, Zinedine Zidane memenangkan Ballon d'Or 1998 setelah membawa Prancis meraih gelar juara dunia di kandang sendiri.

Catatan tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan di Piala Dunia memang dapat memperkuat peluang seorang pemain. Meski demikian, sejarah juga menunjukkan bahwa prestasi tersebut bukan satu-satunya penentu.


Tidak Semua Pemenang Ballon d'Or Berasal dari Juara Piala Dunia

Luka Modric. Gelandang Kroasia berusia 36 tahun yang kini memasuki musim ke-11 membela Real Madrid ini mampu meraih Ballon d'Or pada edisi 2018 usai Real Madrid menjuarai Liga Champions musim 2017/2018 dan membawa Kroasia menjadi runner-up Piala Dunia 2018. Namun pada penghargaan Ballon d'Or edisi 2019 dirinya sama sekali tidak masuk dalam nominasi usai Real Madrid tak meraih satu pun gelar di musim 2018/2019. (AFP/Gabriel Bouys)

Sejarah Ballon d'Or mencatat bahwa hanya segelintir pemain yang memenangkan penghargaan tersebut pada tahun ketika negaranya juga menjuarai Piala Dunia. Bahkan, dalam sejumlah edisi, pemenangnya justru berasal dari negara yang gagal mengangkat trofi juara dunia.

Lanjut Baca:

Luka Modric menjadi salah satu contoh paling terkenal. Gelandang Kroasia tersebut memenangkan Ballon d'Or 2018 setelah menjalani musim luar biasa bersama Real Madrid dan membawa negaranya mencapai final Piala Dunia 2018. Kroasia memang gagal menjadi juara setelah kalah 2-4 dari Prancis pada partai final. Namun, pencapaian Modric tetap mendapat pengakuan, terutama setelah ia juga membantu Real Madrid menjuarai Liga Champions pada musim 2017/2018. Cristiano Ronaldo juga pernah memenangkan Ballon d'Or 2014 ketika Timnas Portugal gagal melangkah jauh di Piala Dunia. Portugal tersingkir pada fase grup setelah hanya finis di posisi ketiga Grup G. Jauh sebelum Modric dan Ronaldo, Johan Cruyff memenangkan Ballon d'Or 1974 setelah membawa Belanda mencapai final Piala Dunia di Jerman Barat. Belanda akhirnya kalah 1-2 dari tuan rumah, tetapi performa Cruyff sepanjang turnamen tetap mendapat pengakuan luas. Contoh lainnya adalah Lionel Messi pada 2010. Meski Argentina tersingkir di perempat final Piala Dunia setelah kalah dari Jerman, Messi tetap memenangkan Ballon d'Or berkat performanya bersama Barcelona. Catatan-catatan tersebut memperlihatkan bahwa pencapaian di level klub, kontribusi individu, konsistensi performa, dan pengaruh seorang pemain sepanjang periode penilaian juga memiliki peran penting dalam perebutan Ballon d'Or.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya