Geliat Kantin Mal, Ketika Perut Kenyang Tak Harus Menguras Dompet

Di balik gemerlap salah satu mal di Jakarta Pusat, kantin karyawan menjadi pilihan pekerja untuk menikmati makan siang enak dengan harga terjangkau.

oleh Dreyandra Puteri ValzabilbinaDiterbitkan 27 Oktober 2026, 19:00 WIB
Suasana kantin karyawan di salah satu mal di Jakarta Pusat. (Liputan6.com/Drey)

Liputan6.com, Jakarta - Aroma rendang yang gurih dan ayam goreng kremes menyeruak di udara. Di balik etalase barang bermerek internasional dan gemerlap lampu di salah satu mal di Jakarta Pusat, ada satu sudut yang ramai didatangi pekerja setiap siang: kantin karyawan.

Ketika jam istirahat tiba, para pekerja berpenampilan rapi berbondong-bondong menuju kantin. Mereka meninggalkan sejenak kesibukan pekerjaan untuk mengisi perut, berbincang dengan rekan kerja, atau sekadar menikmati waktu istirahat sebelum kembali beraktivitas.

Di tempat ini, makan siang bukan semata urusan mengusir lapar. Bagi karyawan yang bekerja di pusat perbelanjaan papan atas Jakarta, memilih tempat makan juga menjadi bagian dari strategi mengatur pengeluaran di tengah tingginya biaya hidup ibu kota.

Dengan uang mulai dari Rp 20.000, pekerja sudah bisa menikmati sepiring nasi hangat lengkap dengan lauk-pauk. Menu nasi ayam kremes hingga masakan Padang menjadi pilihan di antara deretan penjual yang melayani pelanggan silih berganti.

Sebagian pekerja bahkan membawa botol minum sendiri dari rumah untuk menekan pengeluaran harian.

Bagi para pedagang, keramaian saat jam makan siang menjadi pemandangan yang berulang setiap hari. Senyum mereka mengembang ketika antrean pembeli mulai memanjang, terutama di gerai masakan Padang.

Setyo (59), penjual nasi ayam kremes yang telah lama berjualan di kantin tersebut, merasakan rutinitas itu dari dekat.

"Sudah lama saya berjualan di sini. Setiap hari lumayan ramai pelanggan dari kalangan karyawan yang membeli," ujar Setyo.

Di tengah kesibukan melayani pesanan, para pedagang menjadi bagian dari keseharian pekerja. Kantin menghadirkan pilihan makan yang praktis dan relatif terjangkau bagi mereka yang harus kembali bekerja setelah waktu istirahat berakhir.

 

Menu Favorit dan Strategi Menghemat Pengeluaran

Suasana kantin karyawan di salah satu mal di Jakarta Pusat. (Liputan6.com/Drey)

Bagi Dinda (26), kantin karyawan menjadi tempat persinggahan yang hampir selalu dituju saat waktu makan siang tiba. Salah satu menu yang paling sering dibelinya adalah nasi ayam kremes.

"Biasanya saya makan di kantin ini saat jam makan siang. Menu yang paling sering saya beli nasi ayam kremes," ujar Dinda ramah.

Menurut Dinda, rasa makanan di kantin tetap memuaskan meski harganya lebih terjangkau dibandingkan sejumlah pilihan di area food court mal. Selisih harga sekitar Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per porsi menjadi pertimbangan tersendiri dalam mengatur anggaran makan.

"Rasanya lumayan enak, porsinya juga cukup dan pas dengan harga yang ditawarkan," tambahnya.

Dalam sehari, Dinda memperkirakan pengeluaran untuk makan dan minum berkisar Rp 20.000 hingga Rp 50.000. Dengan memilih kantin sebagai tempat makan sehari-hari, ia masih memiliki ruang dalam anggaran untuk sesekali membeli camilan atau minuman manis di food court.

Pengalaman serupa dirasakan Fina (30), karyawan yang juga terbiasa makan di kantin tersebut. Baginya, rasa dan harga makanan sudah cukup memenuhi kebutuhan makan siang tanpa terlalu membebani pengeluaran.

"Udah jadi rutinitas sih kalau jam makan siang beli di kantin ini. Rasa sama harganya cukup buat muasin perut dan kantong," kata Fina.

Fina mengaku tidak terlalu sering membeli makanan di area food court. Sesekali, ia hanya membeli kopi untuk membantu menahan kantuk sebelum kembali melanjutkan pekerjaan.

Pilihan sederhana seperti ini menjadi cara pekerja menjaga pengeluaran tetap terkendali. Mereka tetap bisa menikmati makanan yang disukai tanpa harus selalu memilih tempat makan dengan harga lebih tinggi.

 

Ruang Jeda di Tengah Kesibukan

Suasana kantin karyawan di salah satu mal di Jakarta Pusat. (Liputan6.com/Drey)

Keramaian kantin tidak hanya berkaitan dengan urusan makan. Menurut Rizki (32), seorang petugas keamanan, saat siang hari banyak karyawan turun dari area kerja untuk makan atau menuju musala untuk beribadah.

"Kalau sudah siang, banyak karyawan turun ke kantin untuk makan siang. Ada juga yang turun untuk ke mushala buat sholat," ujar Rizki.

Aktivitas itu memperlihatkan bagaimana kantin menjadi bagian dari ritme harian para pekerja. Ada yang datang sendiri untuk segera menyantap makanan, ada yang makan bersama rekan kerja, dan ada pula yang memanfaatkan waktu istirahat untuk memenuhi kebutuhan pribadi lainnya.

Di tengah lingkungan pusat perbelanjaan yang identik dengan barang bermerek dan gaya hidup perkotaan, kantin karyawan menawarkan pilihan yang lebih bersahaja. Seporsi nasi dan lauk menjadi bekal sederhana untuk melanjutkan pekerjaan hingga sore.

Bagi pedagang, kantin adalah tempat mencari nafkah. Bagi pekerja, tempat ini menjadi ruang untuk mengisi tenaga sekaligus menjaga anggaran tetap aman.

Ketika jam istirahat berakhir, para karyawan kembali ke meja kerja dan para pedagang melanjutkan aktivitas berjualan. Rutinitas itu akan berulang keesokan harinya, menyimpan cerita sederhana tentang cara orang bekerja, makan, dan mengelola pengeluaran di tengah kehidupan kota yang terus bergerak.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya