Airbag Xpeng X9 Tak Mengembang saat Tabrakan Hebat, Ini Dalih Pabrikan

Xpeng X9 mengalami insiden parah hingga hancur total, namun kantung udara (airbag) tidak mengembang. Begini respons pabrikan

oleh Muhammad Luthfi Naufal AqilahDiterbitkan 28 Oktober 2026, 10:14 WIB
Pemilik Xpeng X9 menunjukkan bagian depan MPV listrik miliknya yang hancur parah akibat kecelakaan, di mana sistem airbag dilaporkan gagal mengembang. (CarNewsChina)

Liputan6.com, Jakarta - Isu keselamatan mobil listrik kembali menjadi sorotan setelah sebuah unit MPV listrik tujuh penumpang, Xpeng X9, mengalami kecelakaan parah di China hingga dinyatakan rusak total (total loss). Dalam insiden tersebut, seluruh penumpang dilaporkan selamat tanpa luka-luka. Namun, sistem kantung udara atau airbag kendaraan dilaporkan tidak mengembang.

Dikutip dari CarNewsChina, Selasa (27/10/2026), kecelakaan itu terjadi pada 15 Oktober 2026. Pemilik kendaraan bernama Liu kehilangan kendali atas Xpeng X9 miliknya setelah mobil menghantam trotoar.

Kendaraan tersebut kemudian oleng, menabrak pohon di pinggir jalan dan tiang listrik, sebelum akhirnya terguling. Benturan mengakibatkan kerusakan ekstrem, terutama pada bagian depan kendaraan.

Meski seluruh penumpang berhasil selamat, hasil penilaian perusahaan asuransi menyatakan mobil tersebut tidak dapat diperbaiki dan masuk kategori total loss.

Liu mengaku bersyukur karena tidak ada penumpang yang mengalami cedera. Namun, ia mempertanyakan mengapa airbag Xpeng X9 tidak mengembang meski kendaraan mengalami kecelakaan dengan kerusakan parah.

"Kami beruntung tidak ada yang terluka, tetapi airbag tidak terbuka bahkan dalam situasi separah ini. Hal ini sama sekali tidak memberikan rasa aman," ujar Liu.

Ia diketahui membeli MPV listrik tersebut sekitar dua tahun lalu dengan harga hampir 500.000 yuan.

Menurut Liu, insiden tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai standar aktivasi airbag yang diterapkan pabrikan. Ia mempertanyakan kondisi seperti apa yang sebenarnya dapat memicu sistem keselamatan pasif tersebut apabila kecelakaan dengan kerusakan ekstrem belum memenuhi kriteria aktivasi.

Meski demikian, tidak mengembangnya airbag tidak serta-merta membuktikan bahwa sistem tersebut mengalami kerusakan. Penentuan penyebabnya membutuhkan pemeriksaan teknis lebih lanjut, termasuk analisis data kecelakaan dan kondisi kendaraan saat benturan terjadi.

Menanggapi insiden tersebut, Xpeng memberikan penjelasan berdasarkan data telematika dari sistem backend kendaraan serta rekaman video saat berkendara.

Pabrikan menyebut mobil berada dalam mode mengemudi manual ketika kecelakaan terjadi. Data yang dianalisis juga menunjukkan pengemudi masih menekan pedal gas dan melakukan putaran tajam pada roda kemudi sesaat sebelum benturan.

Berdasarkan parameter tersebut, Xpeng mengklaim dinamika benturan yang terjadi belum mencapai ambang batas aktivasi sensor airbag.

Sistem airbag pada kendaraan modern memang bekerja berdasarkan sejumlah parameter teknis, termasuk tingkat perlambatan, arah benturan, serta karakteristik tabrakan yang terdeteksi sensor. Karena itu, tingkat kerusakan fisik kendaraan tidak selalu menjadi satu-satunya penentu apakah airbag akan mengembang.

Meski telah menyampaikan penjelasan awal, Xpeng menyatakan terbuka untuk memfasilitasi investigasi pihak ketiga apabila diminta oleh konsumen.

Pemeriksaan independen dapat membantu mengungkap apakah sistem airbag bekerja sesuai rancangan, apakah karakteristik benturan memang tidak memenuhi ambang aktivasi, atau terdapat faktor teknis lain yang perlu ditelusuri.

Xpeng X9 merupakan MPV listrik pertama sekaligus salah satu model flagship termahal dari produsen kendaraan listrik asal China tersebut. Model ini diluncurkan pada 1 Januari 2024 dan dipasarkan untuk segmen MPV premium dengan konfigurasi tujuh penumpang.

Untuk versi Battery Electric Vehicle (BEV) atau mobil listrik murni, Xpeng X9 ditawarkan dengan harga 359.800 hingga 419.800 yuan. Nilai tersebut setara sekitar Rp790,6 juta hingga Rp922,4 juta berdasarkan konversi yang tercantum dalam laporan sumber.

Selain versi listrik murni, Xpeng juga menghadirkan varian Extended-Range Electric Vehicle (EREV) yang diperkenalkan pada November. Varian ini dipasarkan mulai 309.800 yuan, atau sekitar Rp680,7 juta.

Perbedaan kedua jenis kendaraan tersebut terletak pada sistem penggeraknya. Versi BEV sepenuhnya mengandalkan energi listrik dari baterai, sedangkan EREV menggunakan mesin pembakaran sebagai generator untuk mendukung sistem penggerak listrik.

Dengan harga yang berada di segmen premium, aspek keselamatan dan kualitas produk menjadi perhatian penting bagi konsumen, terutama ketika sebuah kendaraan mengalami kecelakaan serius dan memunculkan pertanyaan mengenai kinerja fitur keselamatannya.

 

Xpeng X9 Pernah Di-Recall akibat Masalah Suspensi Udara

Penampakan kap mesin dan fascia depan Xpeng X9 yang mengalami kerusakan berat akibat menabrak pohon serta tiang listrik di pinggir jalan. (CarNewsChina)

Insiden airbag yang tidak mengembang ini juga menambah perhatian terhadap kualitas Xpeng X9. Sebelumnya, pada Juli 2026, otoritas regulator China, State Administration for Market Regulation (SAMR), mengumumkan penarikan kembali atau recall terhadap 33.473 unit Xpeng X9.

Kampanye tersebut mencakup kendaraan yang diproduksi pada Agustus 2023 hingga Agustus 2025. Masalah yang ditemukan berkaitan dengan potensi kebocoran secara perlahan pada sistem suspensi udara depan ketika kendaraan digunakan dalam kondisi cuaca panas dan lembap.

Kebocoran tersebut berpotensi memicu lampu peringatan pada kendaraan dan mengganggu stabilitas pengendalian. Kondisi ini menjadi perhatian karena sistem suspensi berperan penting dalam menjaga kestabilan serta kenyamanan berkendara.

Sebagai langkah penanganan, Xpeng memperpanjang garansi suspensi hingga delapan tahun atau 160.000 kilometer.

Kendati demikian, masalah suspensi dalam program recall tersebut berbeda dengan persoalan airbag pada kecelakaan yang dialami Liu. Belum ada informasi yang menunjukkan bahwa kedua kejadian tersebut memiliki hubungan teknis secara langsung.

Kasus Xpeng X9 menunjukkan bahwa evaluasi keselamatan kendaraan tidak cukup hanya berdasarkan tingkat kerusakan setelah kecelakaan. Kinerja sistem keselamatan perlu dinilai berdasarkan data teknis, karakteristik benturan, dan hasil pemeriksaan komponen terkait.

Airbag dirancang untuk mengembang pada kondisi benturan tertentu, bukan pada setiap kecelakaan. Namun, ketika kendaraan mengalami kerusakan berat dan airbag tidak aktif, investigasi menyeluruh menjadi penting untuk memastikan apakah sistem bekerja sesuai spesifikasi.

Keterbukaan Xpeng terhadap investigasi pihak ketiga dapat menjadi langkah penting untuk memberikan kejelasan kepada pemilik kendaraan dan publik.

Hasil pemeriksaan independen nantinya diharapkan dapat menjelaskan penyebab airbag tidak mengembang, sekaligus memberikan gambaran lebih lengkap mengenai kinerja sistem keselamatan pada MPV listrik premium tersebut.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya