Dari Buruh Pabrik Jadi Raja Baterai Dunia Berharta Rp 542 Triliun

Kisah inspiratif Robin Zeng, anak petani dari desa terpencil yang gigih menimba ilmu hingga sukses mendirikan CATL dan mendominasi pasokan baterai EV global.

oleh Idris Rusadi PutraDiterbitkan 27 Oktober 2026, 07:00 WIB
Robin Zeng Yuqun. (Dok catl.com)

Liputan6.com, Jakarta - Siapa sangka, jemari yang dulu terbiasa bergulat dengan lumpur sawah kini menjadi penentu arah industri kendaraan listrik global. Perjalanan hidup Zeng Yuqun atau yang dikenal secara internasional sebagai Robin Zeng adalah bukti nyata bagaimana pendidikan tinggi, keahlian teknis presisi, dan daya tahan mampu memutus mata rantai kemiskinan. 

Pria asal Ningde, Provinsi Fujian, China, ini sukses bertransformasi dari anak petani miskin menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di panggung teknologi dan energi dunia.

Dikutip dari Traders Union, Selasa (27/10/2026), Zeng lahir pada tahun 1968 di sebuah desa terpencil yang dikelilingi pegunungan. Latar belakang keluarga yang sangat sederhana membentuk karakter kerjanya sejak usia dini. Namun, ketajaman berpikir dan kecerdasan akademisnya yang menonjol membuka jalan baru keluar dari kemiskinan.

Berkat prestasinya, ia meraih beasiswa di Shanghai Jiao Tong University pada jurusan Ship Engineering dan lulus di usia muda, 19 tahun. Tak berhenti di situ, Zeng terus menimba ilmu hingga meraih gelar doktor (Ph.D.) dalam bidang fisika materi terkondensasi dari Chinese Academy of Sciences.

Awal Karier dan Langkah Pertama di Industri Teknologi

Robin Zeng Yuqun. (Dok catl.com)

Dilansir dari Medium, perjalanan kerja Zeng dimulai saat ia menjadi insinyur sekaligus buruh pabrik komponen elektronik di SAE Magnetics, Dongguan. Di sanalah keahlian teknisnya terasah mendalam. Melihat potensi raksasa pada penyimpanan energi modular, Zeng memberanikan diri mendirikan Amperex Technology Limited (ATL) pada 1999 bersama rekan-rekannya untuk memproduksi baterai lithium-ion perangkat seluler.

Momen penentu kariernya tiba ketika pergeseran global menuju kendaraan listrik mulai terlihat. Pada 2011, Zeng mengambil langkah berani dengan memisahkan divisi baterai otomotif dari ATL untuk mendirikan Contemporary Amperex Technology Co., Limited (CATL) di tanah kelahirannya, Ningde.

Keputusan memboyong markas besar ke kota kelahiran bukan sekadar alasan sentimental, melainkan komitmen membangun pusat inovasi manufaktur presisi di daerah yang dahulu tertinggal.

Dikutip dari Money Week, pertumbuhan pesat CATL tak lepas dari filosofi kepemimpinan Zeng yang menekankan riset dan pengembangan (R&D) serta standar keamanan ketat. Ketika banyak pengusaha berfokus pada efisiensi biaya semata, Zeng berinvestasi besar-besaran pada rekayasa material dan kimia sel baterai.

Ketepatan analisis teknis serta keberaniannya mengambil risiko terukur membuat produk baterai kreasinya dilirik raksasa otomotif dunia, dimulai dari BMW sebagai klien besar pertamanya, hingga kemudian memasok untuk Tesla, Mercedes-Benz, dan Volkswagen.

 

Kumpulkan Kekayaan Ratusan Triliun Rupiah

Dilansir dari Forbes, berkat dominasi teknologi dan rantai pasok baterai global yang dibangunnya, kekayaan bersih (net worth) Zeng Yuqun kini diperkirakan mencapai US$ 25 miliar hingga US$ 30 miliar atau sekitar Rp 452,34 triliun hingga Rp 542,81 triliun (kurs Rp 18.093,85 per US$). 

Angka fantastis ini menempatkannya di jajaran miliarder terkaya di Asia. Kendati demikian, gaya hidup dan pendekatan kepemimpinan Zeng tetap berakar pada disiplin kerja, kerendahan hati, serta penguasaan sains yang mendalam.

Kisah hidup Zeng Yuqun mengajarkan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan ketekunan teknis adalah instrumen terkuat untuk mengubah nasib. Dari seorang anak desa yang bekerja di ladang, keberanian Zeng mengejar pendidikan dan mengaplikasikan keahlian teknis presisi tak hanya mengubah jalan hidupnya sendiri, tetapi juga menjadi penggerak utama transformasi energi hijau di seluruh dunia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya