Sering Diabaikan, 5 Kebiasaan Mengemudi Ini Bisa Cegah Kecelakaan

Mengemudi defensif merupakan teknik berkendara yang mengutamakan kesadaran, kewaspadaan, dan kemampuan mengantisipasi risiko

oleh Muhammad Luthfi Naufal AqilahDiterbitkan 28 Oktober 2026, 08:07 WIB
Berkendara di jalan perkotaan menuntut konsentrasi tinggi serta penerapan teknik mengemudi defensif guna menjaga jarak aman dan mengantisipasi potensi bahaya secara sigap. (Motor1)

Liputan6.com, Jakarta - Mengemudi di jalan raya membutuhkan konsentrasi, kewaspadaan, dan kemampuan mengantisipasi berbagai risiko. Pasalnya, pengemudi tidak bisa mengendalikan perilaku pengguna jalan lain. Pengemudi di depan bisa saja mengerem mendadak, berpindah jalur tanpa menyalakan lampu sein, atau salah memperhitungkan jarak dengan kendaraan di sekitarnya.

Meski demikian, setiap pengemudi tetap dapat mengendalikan cara berkendara dan kesiapan dalam menghadapi situasi berbahaya. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah menerapkan mengemudi defensif atau defensive driving.

Mengemudi defensif merupakan teknik berkendara yang mengutamakan kesadaran, kewaspadaan, dan kemampuan mengantisipasi risiko. Pengemudi tidak hanya bereaksi ketika bahaya muncul, tetapi juga aktif mengenali potensi bahaya dan menyesuaikan cara berkendara untuk mengurangi risiko kecelakaan.

Prinsip dasar mengemudi defensif adalah tidak berasumsi bahwa pengemudi lain akan selalu tertib atau mengambil keputusan yang tepat.

Dengan memahami prinsip ini, pengemudi dapat menjaga jarak aman, membaca situasi lalu lintas, dan memiliki waktu yang cukup untuk mengambil tindakan ketika menghadapi kondisi tak terduga.

Dikutip dari laman Motor1, Selasa (27/10/2026), ada sejumlah kebiasaan dasar yang perlu dikuasai setiap pengemudi untuk menerapkan teknik mengemudi defensif. Kebiasaan ini tidak membutuhkan mobil mahal atau fitur keselamatan canggih, tetapi membutuhkan konsistensi dan disiplin saat berada di balik kemudi.

Berikut lima kebiasaan mengemudi defensif yang dapat diterapkan untuk meningkatkan keselamatan saat berkendara di jalan raya.

1. Menjaga Jarak Aman dengan Kendaraan di Depan

Menjaga jarak aman menjadi salah satu prinsip terpenting dalam mengemudi defensif. Jarak yang cukup memberikan waktu bagi pengemudi untuk bereaksi ketika kendaraan di depan mengerem mendadak atau menghadapi hambatan.

Salah satu panduan yang dapat digunakan adalah aturan tiga detik. Pilih objek tetap di pinggir jalan sebagai patokan, kemudian hitung waktu sejak kendaraan di depan melewatinya hingga kendaraan Anda mencapai titik yang sama.

Jika jedanya kurang dari tiga detik, tambah jarak dengan kendaraan di depan. Ketika hujan lebat, jalan licin, atau jarak pandang terbatas, berikan ruang yang lebih besar karena kendaraan membutuhkan jarak pengereman lebih panjang.

2. Mengarahkan Pandangan Jauh ke Depan

Kesalahan yang kerap dilakukan pengemudi adalah hanya memperhatikan kendaraan tepat di depannya. Padahal, kondisi lalu lintas beberapa kendaraan di depan juga perlu dipantau.

Dengan mengarahkan pandangan lebih jauh, pengemudi dapat mengenali potensi hambatan lebih awal, seperti antrean kendaraan, lampu lalu lintas yang berubah, kendaraan yang melambat, atau aktivitas pengguna jalan di sekitar.

Kebiasaan ini membantu pengemudi mengurangi kecepatan secara bertahap dan menghindari pengereman mendadak. Selain itu, periksa spion secara berkala untuk mengetahui kondisi kendaraan di belakang dan samping.

3. Memeriksa Titik Buta atau Blind Spot

Ilustrasi menyetir, mengemudi mobil. (Photo by Art Markiv on Unsplash)

Spion kendaraan tidak dapat memperlihatkan seluruh area di sekitar mobil. Ada bagian tertentu yang tidak terlihat secara langsung melalui spion, yang dikenal sebagai titik buta atau blind spot.

Sebelum berpindah jalur atau bergabung ke arus lalu lintas, pastikan kondisi di sekitar kendaraan aman. Periksa spion tengah dan spion samping, kemudian lakukan pemeriksaan singkat dengan menoleh ke arah bahu untuk memastikan tidak ada kendaraan yang berada di titik buta.

Jangan hanya mengandalkan sensor atau kamera kendaraan jika mobil memilikinya. Perangkat tersebut dapat membantu, tetapi pengemudi tetap perlu memastikan kondisi lalu lintas secara langsung sebelum melakukan manuver.

4. Menggunakan Lampu Sein dengan Jelas

Lampu sein merupakan alat komunikasi penting antarpengguna jalan. Penggunaannya membantu pengemudi lain memahami arah pergerakan kendaraan sehingga mereka dapat menyesuaikan kecepatan atau memberikan ruang.

Nyalakan lampu sein sebelum berbelok atau berpindah jalur, bukan ketika manuver sudah dimulai. Berikan waktu yang cukup agar pengemudi lain dapat melihat dan memahami sinyal tersebut.

Namun, menyalakan lampu sein bukan berarti kendaraan otomatis mendapatkan prioritas untuk berpindah jalur. Pengemudi tetap harus memeriksa kondisi sekitar dan memastikan manuver dapat dilakukan dengan aman.

5. Menjaga Fokus dan Mengurangi Gangguan

Konsentrasi menjadi faktor penting dalam mengemudi defensif. Gangguan kecil, seperti melihat notifikasi ponsel atau mengatur navigasi ketika mobil sedang berjalan, dapat mengalihkan perhatian dari situasi lalu lintas.

Sebelum memulai perjalanan, atur posisi duduk, spion, sabuk pengaman, dan navigasi GPS. Pastikan pula kondisi kendaraan mendukung perjalanan yang aman.

Selama berkendara, hindari menggunakan ponsel atau melakukan aktivitas lain yang mengganggu konsentrasi. Jika perlu mengatur navigasi, membaca pesan, atau melakukan panggilan, menepilah terlebih dahulu di tempat yang aman.

Dengan menjaga fokus, pengemudi memiliki peluang lebih besar untuk mengenali perubahan situasi jalan dan merespons potensi bahaya tepat waktu.

 

Apakah Mengemudi Defensif Harus Selalu Pelan?

Mengemudi defensif sering disalahartikan sebagai kebiasaan berkendara dengan kecepatan sangat rendah. Padahal, teknik ini tidak mengharuskan pengemudi selalu melaju pelan, melainkan menyesuaikan kecepatan dengan kondisi jalan, cuaca, jarak pandang, dan arus lalu lintas.

Berkendara terlalu lambat tanpa alasan yang jelas di tengah arus lalu lintas yang bergerak lebih cepat juga dapat mengganggu kelancaran perjalanan dan menimbulkan risiko.

Karena itu, pengemudi perlu menjaga kecepatan yang sesuai dengan kondisi jalan serta mematuhi batas kecepatan yang berlaku.

Ketika cuaca cerah dan kondisi jalan mendukung, pengemudi dapat melaju dengan kecepatan yang sesuai ketentuan.

Sebaliknya, saat hujan lebat, jalan licin, atau jarak pandang terbatas, mengurangi kecepatan merupakan langkah bijak untuk mempertahankan kendali kendaraan.

Tujuan utama mengemudi defensif adalah menyediakan ruang dan waktu yang cukup untuk bereaksi terhadap situasi tak terduga. Dengan begitu, pengemudi tidak perlu mengambil keputusan secara terburu-buru ketika menghadapi potensi bahaya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya